Resensi Film: Ghost Writer (2019) Drama Horor yang Terbalut Komedi

Ghost Writer
Ketika kisah keluarga yang emosional dibalut apik dengan unsur horor dan komedi

Sumber: imdb.com
Judul: Ghost Writer
Genre: Comedy, drama, horror
Tanggal rilis: 4 Juni 2019
Durasi: 97 menit
Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
Pemain: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Deva Mahenra, Asmara Abigail

An old diary containing dark secrets found by Naya, a novelist who has out of ideas for 3 years. This book is a good material for her latest novel, but something unexpected starts to happen.
***

Film Ghost Writer termasuk salah satu film horor yang dapat saya tonton. Yaa, saya mengakui kok saya bukan pecinta film horor. Jadi, please, jangan suruh saya menonton Pengabdi Setan atau Sebelum Iblis Menjemput. Saya pasti tidak bisa menontonnya.

Ghost Writer secara harfiah

Cerita bermula dari Naya (Tatjana Saphira) bersama adiknya, Darto (Endy Arfian), berpindah ke rumah kontrakan baru. Rumah itu adalah milik Pak Harja (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Dayu Wijanto). Pekerjaan Naya sebagai penulis tidak sepenuhnya bisa berjalan lancar. Maka dari itu, meskipun rumah besar itu telrihat menakutkan, Naya tetap memilih untuk mengotrak di rumah tersebut.

Keadaan finansial Naya memang tidak dapat dikatakan baik. Di tengah upayanya menghadapi tekanan dari editornya, Alvin (Ernest Prakasa), Naya harus memutar otak supaya tetap bisa membiayai sekolah Darto. Di sisi lain, Naya tak ingin merepotkan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra).

Tak disangka-sangka, sebuah titik terang hadir saat Naya menemukan sebuah diari tua di rumah kontrakannya. Dari situlah ide menulisnya muncul. Permasalahannya, Galih (Ge Pamungkas), pemilik diari tersebut yang sekarang telah menjadi hantu, tak menyetujui tindakan Naya. Berbagai argumen dilontarkan keduanya sampai pada akhirnya Galih pun setuju. Bahkan, ia pun betul-betul berperan sebagai ghost writer dalam arti harfiah. Akan tetapi, lagi-lagi permasalahan tidak berhenti begitu saja. Sosok Bening (Asmara Abigail), adik dari Galih yang juga telah menjadi hantu, menentang apa yang dilakukan oleh Naya dan Galih.

Premis yang biasa tapi cukup mengena

Picture edited by me
Bagi saya, film yang satu ini memang lebih kuat dominasi dramanya. Jadi, jangan harap ada adegan yang menyeramkan dalam film ini. Saya suka denan premis yang ditawarkan. Setidaknya, film ini sudah jelas punya awalan hingga penutup yang baik. Jadi, sudah jelas akhir dari konfliknya seperti apa.

Untuk adegan-adegannya, saya suka dengan campuran komedi di dalam film ini. Malah, unsur itulah yang membuat film ini menjadi kuat. Meskipun kadang ada bagian yang kurang dalam hal make up--iyaa, itu bedaknya Ge Pamungkas terlihat berbeda antara muka dengan leher. 

Akan tetapi, satu hal yang tidak saya sangka, saya menangis di akhir film ini. Saya merasa tersentuh atas emosi yang muncul antara Galih dan juga Bening. Sepertinya, film tentang keluarga bisa membuat saya mbrebes mili dengan tak terduga.

Penutup

Saya tidak menyesal menonton film ini. Bahkan, menurut saya film ini termasuk film Indonesia yang layak tonton. Sama seperti Sunyi, film horor yang diadaptasi dari Whispering Corridor. Setidaknya, kita masih bisa berharap bahwa film Indonesia akan terus meningkat kualitasnya, bukan?

6.5 dari 10 bintang untuk penampakan Galih.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

No comments:

Post a Comment

Popular Posts