Resensi Film: Sabtu Bersama Bapak (2016) Ketika Nasehat Bapak adalah Segalanya


Sabtu Bersama Bapak
Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Genre: Drama
Tanggal rilis: 19 Mei 2016
Sutradara: Monty Tiwa
Penulis naskah: Adhitya Mulya
Pemain: Abimana Aryasatya, Deva Mahenra, Arifin Putra, Acha Septriasa, Ira Wibowo, Sheila Dara Aisha

It's a story about a young man looking for a love learning, about a man who learned to be a father and a good husband, about a mother who raised them with love and about father who left a message and promised to always be with them.

***

Saya memang tidak membaca novel Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Akan tetapi, saya cukup penasaran dengan film ini karena hype yang muncul beberapa tahun lalu. Saya ingin menekankan bahwa pesan yang disampaikan oleh film ini sudah cukup baik. Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat jalan dari film ini terganggu.

Tentang Sabtu Bersama Bapak


Suatu hari, Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) mendapatkan kabar bahwa dirinya menderita kanker. Hal ini membuatnya sadar bahwa waktunya di dunia tidak akan lama lagi. Maka dari itu, Gunawan mempersiapkan segala-galanya sebelum kematian menjemput. Ia merekam sejumlah rekaman yang diinginkannya dilihat oleh kedua anaknya, Cakra (Deva Mahenra) dan juga Satya (Arifin Putra), ketika mereka tumbuh dewasa. Dengan dukungan dari Itje (Ira Wibowo), istri Gunawan, semua pesan yang dibuat Gunawa tersampaikan pada kedua anak tersebut setiap hari Sabtu.

Dari rekaman-rekaman itu, baik Cakra maupun Satya memegang teguh nasehat yang diajarkan oleh Gunawan. Akan tetapi, terkadang mereka terlalu keras pada diri sendiri sehingga Cakra terlalu keras dalam bekerja sampai lupa mencari pasangan, dan Satya terlalu saklek dengan rencana yang ia buat hingga ia harus bertengkar dengan istrinya (Acha Septriasa).

Di sisi lain, Itje mendapatkan kabar bahwa ia menderita kanker. Sama seperti suaminya dulu. Akan tetapi, ia enggan memberitahu keadaannya pada Cakra dan Satya. Kemudian, ketidaksengajaan membuat Cakra dan Satya mengetahui keadaan ibunya. Apa yang akan terjadi kemudian?

Yang saya suka dan tidak suka dari Sabtu Bersama Bapak

Sumber: canva, edited by me
Sebagai drama keluarga, saya rasa cerita yang disajikan oleh Adithya Mulya dan Monty Tiwa ini cukup berkesan. Pesanya pun sederha sehingga mudah ditangkap. Kerap kali, kita lupa bahwa kehidupan yang ada di depan kita juga merupakan hal yang penting. Tidak seharusnya kita hanya berpikir jauh ke depan tanpa peduli dengan apa yang terjadi sekarang. 

Para pemain dalam film ini pun cukup menjiwai perannya masing-masing. Setidaknya, Deva Mahenra dan Arifin Putra sebagai kakak-beradik lumayan believable. Sayangnya, saya harus menyetujui apa kata Joko Anwar. Pemain figuran dalam suatu film itu seharusnya juga dipikirkan porsinya. 

Saya cukup terganggu ketika melihat acting dari anak Arifin Putra dan Acha. Maafkan saya, tapi saya rasa acting mereka akan sangat jatuh bila dibandingkan dengan acting Arifin. Setahu saya, para aktor dan aktris cilik banyak yang memiliki kemampuan acting yang luar biasa. Sebagai contoh, Muzakki dalam film Gundala.

Jadi, sungguh sayang saat acting anak-anak ini terlihat sangat tidak natural. Padahal, film ini menekankan tentang keluarga. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Anyway, dulu ketika saya pertama kali melihat poster film ini, saya kira pekerjaan Deva Mahenra adalah guru. Ternyata bukan :3 Salahkan pakaian yang ia pakai dalam poster ini.

Kesimpulan


Secara cerita, saya memang cukup terhibur. Tapi bukan berarti film ini memiliki efek yang begitu wah. Terlepas dari apa yang saya sebutkan sebelumnya, film Sabtu Bersama Bapak ini masih layak ditonton sebagai film drama keluarga.

6.5 untuk kesan pertama Cakra terhadap Ayu :)

Sincerely,
Puji P. Rahayu

No comments:

Post a Comment

Popular Posts