Resensi Film: Howl's Moving Castle (2004), Cinta Tidak Memandang Penampilan


Howl's Moving Castle
Sorry, I've had enough of running away, Sophie. Now, I've got something I want to protect. It's you. -- Howl.

Sumber: IMDb.com
Judul: Howl's Moving Castle
Judul asli: Hauru No Ugoku Shiro
Durasi: 119 menit
Genre: Animation, Adventure, Family
Sutradara: Hayao Miyazaki
Penulis: Hayao Miyazaki, Diana Wynne Jones (novel)

When an unconfident young woman is cursed with an old body by a spiteful witch, her only chance of breaking the spell lies with a self-indulgent yet insecure young wizard and his companions in his legged, walking castle.

***

Howl's Moving Castle merupakan satu dari sekian film keluaran Studio Ghibli. Sejauh yang saya tahu, film ini mungkin tidak seheboh film Ghibli lainnya seperti My Neighbor Totoro dan Spirited Away. Akan tetapi, saya tetap menyukai cerita yang dibawa oleh Diana Wynne Jones yang diadaptasi oleh Hayao Miyazaki ini.

Sekilas Tentang Howl's Moving Castle


Kastil bergerak milik Howl. Sumber: getwallpapers.com

Sophie merupakan seorang perempuan muda yang kurang memiliki kepercayaan diri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembuat topi di salah satu toko topu. Suatu ketika, Sophie hendak pulang ke rumahnya. Akan tetapi, dua orang prajurit mengganggu dirinya. Saat itulah, sesosok pemuda datang menyelamatkan Sophie. Ternyata, pemuda tersebut memiliki kuatan sihir yang tak pernah Sophie duga.

Ketika ia kembali ke toko topinya, datanglah seorang penyihir jahat yang memberikan mantra kepada Sophie. Karena mantra tersebut, Sophie pun menua. Jujur, Sophie tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan wujudnya. Berhubung ia tahu ia tak bisa tinggal di tempat asalnya tanpa ditanyai lebih lanjut, Sophie pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kota.

Di sisi lain, di kota tersebut, ada sebuah gosip yang menyebutkan bahwa di tengah-tengah padang bukit, ada sebuah kastil yang bergerak. Kastil tersebut dimiliki oleh seorang penyihir bernama Howl. Tak ada yang berani untuk mendekati kastil tersebut. Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk Sophie. Dibantu oleh Turnip si orang-orangan sawah, akhirnya Sophie masuk ke dalam kastil tersebut dan bertemu dengan Mark dan Calcifer. Sejak saat itu, Sophie mengetahui siapa sebenarnya Howl dan mengapa peperangan yang terjadi di kotanya terus terjadi.

Apakah Sophie akan kembali ke wujud semulanya? Apakah Howl akan membantu Sophie?

Premis yang menjanjikan tapi...


Sumber: wallpaper-mania.com, edited by me
Saya tak memungkiri kalau saya tertarik menonton film ini karena film ini adalah keluaran dari Studio Ghibli. Saya ingin mengetahui lebih lanjut cerita dari Sophie dan Howl. Awalnya, saya menyukai premis yang ditawarkan. Bagaimana Sophie yang berubah menjadi tua dan terus berusaha meskipun fisiknya membatasi ruang geraknya.

Sosok Howl pun menurut saya cukup lovable. Apalagi, memang ada rahasia kelam di balik sosok Howl. Akan tetapi, saya rasa banyak hal yang menjadi pertanyaan ketika penyelesaian dari film ini mulai terungkap.

Saya masih kurang mengerti mengapa tiba-tiba Sophie bisa kembali muda. Tak ada petunjuk apa yang sebetulnya bisa memecahkan mantra yang ditanamkan pada diri Sophie. Kemudian, saya masih tak mengerti mengapa pada akhirnya Madam Sullivan memutuskan untuk menghentikan perang setelah Howl, Sophie, dan yang lain berhasil bertahan. Saya masih tidak mengerti apa korelasinya.

Kemudian, bagi saya, kisah Howl yang bisa berubah menjadi monster juga tidak dijelaskan secara mendetail. Saya tahu sering kali Hayao Mayazaki menggunakan metafora-metafora untuk menyampaikan kritik, tapi, untuk film ini saya rasa.. memang banyak hal yang tidak dijelaskan. Otomatis, membuat saya bertanya-tanya. Atau pada dasarnya saya yang tidak memperhatikan detail dari filmnya?

Kesimpulan


Howl dan Sophie. Sumber: HDWallpaper.nu
Bagi saya, Howl's Moving Castle tetap bisa mengikat penonton. Saya suka karakter-karakter seperti Mark yang menjadikan suasana menjadi lebih ceria. Bahkan, saya menyukai Calcifer, si api yang suka menggerutu itu. Akan tetapi, saya merasa kurang puas dengan penyelesaian konflik yang disajikan.

Meskipun demikian, dari film ini saya belajar bahwa cinta itu memang tidak akan memandang penampilan seseorang. Meskipun kita menjadi menua atau lainnya, apabila kita tetap menjadi versi terbaik dari diri kita, cinta akan tetap ada di sana. Layaknya cinta yang dicurahkan Sophie pada Howl dan sebaliknya.

3 dari 5 bintang untuk Heen, si anjing yang keberatan badan.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

No comments:

Post a Comment

Popular Posts