Lapangan Golf Maut (The Murder on the Links): Sekelumit Kisah Cinta Hastings

Thursday, January 30, 2020


Lapangan Golf Maut
"Two People rarely see the same thing." 

Sumber: goodreads.com
Judul: Lapangan Golf Maut
Judul Inggris: The Murder on the Links
Series: Hercule Poirot Mysteries #2
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Suwarni A.S.
Tebal buku: 320 halaman
Tahun terbit: Januari 2018
Tahun terbit pertema: Mei 1923
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca via Gramedia Digital

Permintaan tolong yang mendesak membawa Poirot ke Prancis. Tapi is terlalu menyelamatkan kliennya. Sang klien ditemukan ditikam di lapangan golf. Tapi kenapa mayat itu mengenakan mantel sang anak? Dan kepada siapa surat cinta di dalam mantel ditujukan? Sebelum Poirot bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mayat kedua yang dibunuh dengan cara serupa ditemukan...
***

The Murder on the Links menjadi buku kedua Agatha Christie yang saya baca dalam rangka proyek "baca ulang novel Agatha Christie dari awal". Jujur, kisah dalam novel ini cukup membuat saya kaget dengan twist di akhir. Di sini, jelas Agatha Christie berupaya memutarbalikkan asumsi dari pembaca.

Perjalanan ke Perancis


Suatu hari, Poirot mendapatkan surat dari Monsieur Paul Renauld. Dalam surat tersebut, jelas bahwa Monsieur Renauld sedang ketakutan. Seolah-olah nyawanya di ujung tanduk. Maka dari itu, Poirot memutuskan untuk pergi ke Perancis bersama dengan Hastings. Sayangnya, kedatangan Poirot terlambat karena Monsieur Renauld telah ditemukan tak bernyawa di tengah lapangan golf tak jauh dari rumahnya.

Berbagai misteri tentu menyelimuti kematian dari Monsieur Renauld. Mulai dari Madam Renauld yang ditemukan terikat pada saat kejadian, jubah yang dikenakan Monsieur Renauld yang menurut Poirot terlalu panjang, hingga surat yang ditemukan Poirot dalam saku mantel Monsieur Renauld. Poirot yakin ada banyak kejanggalan dari bukti-bukti tersebut. Sayangnya, Poirot juga berkali-kali menemukan kegagalan karena asumsi-asumsi yang telah ia bangun runtuh di tengah jalan.

Kurangnya petunjuk dan hadirnya detektif kepolisian Perancis bernama Giraud, membuat langkah Poirot begitu berat. Di sisi lain, Hastings sempat bertemu dengan sosok gadis yang menarik hatinya. Gadis itu tak pernah mau memberitahu identitasnya. Hastings hanya mengenalinya sebagai Cinderella. Pada Cinderella lah, Hastings mulai jatuh cinta. Sayangnya, yang Hastings tak pernah sangka, ada kaitan antara Cinderella dengan matinya Monsieur Renauld.

Kisah yang penuh misteri


Sumber google, edited by me

Jujur, menurut saya, kisah di novel kedua ini jauh lebih kompleks daripada The Mysterious Affair at Styles. Bahkan, bisa dibilang sangat kompleks. Dari awal, saya betul-betul tidak punya bayangan siapakah pelaku yang sebenarnya dari pembunuhan Monsieur Renauld. Bukannya semua orang mencurigakan, malahan menurut saya, tidak ada seorang pun yang mencurigakan. Baik Madam Renauld, Jack Renauld--anak dari Monsieur Renauld, Madam Daubreuil yang mencurigakan, dan lainnya. Meskipun mereka memiliki motif, tapi rasanya belum sekuat itu untuk menjadi tersangka.

Baiklah. Sebagai pencerita, kadang saya memahami perasaan Hastings yang merasa tak dihargai oleh Poirot. Meskipun menurut saya, Sherlock Holmes lebih menyebalkan daripada Poirot. Akan tetapi, kadang kala narasi Hastings ini memang terlalu kemana-mana. Sejujurnya, saya tidak terlalu protes akan kehadiran kisah asmara dari Hastings. Tentu malah bagus karena menunjukkan sisi lain dari Hastings. Tapi, memang peran Hastings belumlah sevokal layaknya Watson. Yaa, memang tidak seharusnya dibandingkan.

Untuk penyelesaian, mungkin memang banyak sekali unsur kebetulan yang muncul. Akan tetapi, saya rasa misteri yang dihadirkan oleh Christie di sini jauh lebih kompleks. Ia betul-betul membuat saya tak percaya bahwa pelakunya adalah orang yang paling tak saya duga. Akan tetapi, memang terasa kurang kuat bukti yang mengarah ke sosok tersebut.

Untuk versi terjemahannya sendiri, saya rasa terjemahan untuk The Murder on the Links sudah bagus. Berbeda dengan novel yang sedang saya baca sekarang--Poirot Investigates. Padahal penerjemahnya sama. Entahlah. Agak sedih juga karena gaya menerjemahkannya terasa begitu berbeda.

Kesimpulan


Sebagai kisah kedua, menurut saya Christie berhasil menjerat pembaca. Mungkin ada banyak pendapat yang berlawanan, tapi saya masih menikmati kisah Poirot di sini.

4 bintang untuk cerita yang begitu kompleks.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments

Blogger Buku Indonesia

Blogger Buku Indonesia

#BloggerPerempuan

Blogger Perempuan