Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982: Kim Ji-Yeong adalah Kita


Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982
Yang bersalah adalah mereka, bukan kau.

Sumber: goodreads.com
Judul: Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982
Penulis: Cho Nam-Joo
Penerjemah: lingliana
Tebal buku: 192 halaman
Tanggal terbit: 18 November 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jenis buku: Paperback
Baca via Gramedia Digital

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

***

Satu hal yang saya tahu, Kim Ji-Yeong adalah sebuah kisah tentang kehidupan perempuan di Korea. Ia harus menghadapi berbagai bentuk lapisan patriarki yang tentunya tidak mudah untuk ditembus. Saya tahu kisah ini telah difilmkan dan jujur saja ia mendapatkan hype karenanya. Akan tetapi, saya belum menonton filmnya. Maka dari itu, saya cukup penasaran dengan narasi yang ditawarkan.

Tentang Kim Ji-Yeong

Kim Ji-Yeong adalah seorang perempuan berusia 30 tahunan. Ia adalah seorang istri dan juga ibu. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja saat anaknya lahir. Akan tetapi, lama-kelamaan ia merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia merasa lelah akan tekanan yang ia alami.

Cerita dalam Kim Ji-Yeong ini tidak hanya berada dalam satu bingkai waktu. Setidaknya, ada lima bingkai waktu yang dibahas, masa saat Kim Ji-Yeong kecil dan berada di sekolah dasar, di sekolah menengah, waktu kuliah, dan juga saat ia bekerja. Pengalaman Kim Ji-Yeong tersebut sedikit banyak mengupas bagaimana budaya patriarki yang begitu mengakar di setiap lini kehidupannya.

Budaya Patriarki dan Pemikiran Saya

Apa yang dialami oleh Kim Ji-Yeong saya rasa juga dialami oleh semua perempuan di dunia. Akan selalu ada batasan-batasan tak kasat mata yang menghalangi perempuan untuk berkembang. Bahkan, terkadang seseorang tak sadar bahwa budaya patriarki itu tak seharusnya ada.

Ketika menulis resensi ini, saya jadi teringat akan diskusi saya bersama kenalan saya beberapa waktu lalu.

Berikut sedikit-banyak argumen yang saya paparkan kali itu--yang kemudian dibalas dengan salah satu pernyataan yang membuat saya geleng-geleng kepala.

Pada dasarnya, apa yang ada di masyarakat itu merupakan hasil dari konstruksi sosial. Termasuk juga dengan peran dari jenis kelamin tertentu di masyarakat. Awalnya, banyak yang berpikir bahwa jenis kelamin dan gender itu sama. Hanya berbeda bahasa saja. Padahal, kedua hal tersebut merupakan dua hal yang betul-bertul berbeda.
Jenis kelamin merupakan suatu hal yang berhubungan dengan unsur biologis. Ada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sedangkan, gender diartikan sebagai peran sosial dari jenis kelamin tertentu di masyarakat. Gender merupakan suatu hal yang dikonstruksi secara sosial. Ia tidak semata-mata telah ada dan mengikat diri seseorang.
Dengan demikian, karena peran gender tidak seharusnya mengikat, tidak ada salahnya ketika ada perempuan yang bekerja atau seorang laki-laki butuh untuk menangis. 
Permasalahannya, Indonesia dan bahkan di seluruh tempat di dunia, masih terikat dengan budaya patriarki. Apa yang dilakukan oleh seseorang bergantung pada apa yang dipikir masyarakat harus dilakukan. Perempuan itu seharusnya berada di rumah dan bisa menyenangkan keluarga.
Pada akhirnya, karena pemikiran patriarki yang terus mengakar tadi, banyak masyarakat yang menganggap bahwa kesuksesan perempuan hanya dilihat dari keberhasilan dirinya membina kehidupan rumah tangga. Tak peduli setinggi apapun gelar pendidikannya, seorang perempuan tidak pernah dianggap berhasil dalam hidupnya apabila ia tidak menikah. 
Sumber: pinterest.com, edited by me
Kira-kira, begitulah argumen saya kala itu. Akan tetapi, lawan bicara saya pun menanggapi dengan pernyataan yang cukup membuat saya miris.
Mengenai sistem patriarki, bisa nggak hal tersebut dikatakan dasar atau standar? Suami bekerja, istri bekerja dan/atau memiliki tanggung jawab di rumah.
Akhirnya, saya pun memberikan argumen lainnya. Pada titik itu saya sadar, tidak semua orang memiliki kesadaran akan isu gender. Dan sepertinya untuk menyadarkan hal tersebut butuh waktu yang tidak sebentar.
Adanya ketimpangan peran gender berasal ketika peran perempuan direduksi sedemikian rupa. Akibatnya, mereka tidak bisa memperjuangkan diri sendiri. Oleh karena itu, munculah feminisme yang mencoba untuk mengangkat derajat perempuan. Apa yang sebetulnya menjadi lawan terbesar dari feminime? Ia adalah patriarki. 
Patriarki dijadikan standar? Ehm, I beg your pardon. Patriarki itu lah yang seharusnya dilawan.

***

Sebetulnya, argumen-argumen saya tak berhenti di situ. Hanya saja, saya rasa dari sedikit percakapan di atas, saya merasa sangat relatable dengan kisah Kim Ji-Yeong. Tagline bahwa "Kim Ji-Yeong adalah kita" saya rasa memang sangat benar adanya. 

Saya tahu kok, tidak mudah mengubah suatu budaya. Akan tetapi, bukan berarti terus menutup mata. Saya akui bahwa tidak semua orang paham atau mau sadar akan isu gender. Terkadang, pemikiran patriarki terus mengakar di dalam diri mereka. Sudah telanjur lama terpupuk dan menganggap bahwa itulah hal yang benar. Bukankah itu merupakan suatu hal yang miris?

Jadi, menurut saya, kisah Kim Ji-Yeong ini betul-betul pas dijadikan sebagai rujukan supaya semua orang setidaknya mulai sadar akan isu gender. Saya salut dengan Cho Nam-Jo yang berupaya untuk mengangkat isu ini. Dengan adanya kontroversi saat diterbitkan. bukankah jelas seolah masyarakat enggan melihat sisi lain dari apa yang selama ini telah mereka sadari?

Entahlah. Mungkin resensi kali ini lebih banyak berisikan pemikiran saya--yang memang tidak runtut. Akan tetapi, siapapun yang sempat mampir ke sini, saya sarankan untuk membaca Kim Ji-Yeong. Oh ya, satu hal, saya suka sekali dengan sampul versi bahasa Indonesia dari Kim Ji-Yeong yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini. Benar-benar simple dan cantik. Bukankah hal ini saja sudah menjadi alasan mengapa kita harus mengambil buku ini dari rak toko buku?

5 dari 5 bintang karena Kim Ji-Yeong adalah kita.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

No comments:

Post a Comment

Popular Posts