Akiyoshi Rikako,

Giselle: Cerita Misteri Khas Akiyoshi Rikako

Rabu, Januari 15, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


Giselle
Sungguh, tidak ada orang yang lebih berdosa daripada seorang pemuda manis yang tidak memiliki kesadaran diri.

Giselle. Sumber: goodreads.com
Judul: Giselle
Penulis: Akiyoshi Rikako
Genre: Mystery, Thriller, Horror
Penerjemah: Clara Canceriana
Tahun terbit: Maret 2019
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal buku: 400 halaman

Lima belas tahun yang lalu, prima balerina Himemiya Mayumi tak sengaja menusuk dirinya sendiri hingga mati dalam usahanya menyerang Kurebayashi Reina, saat balet "Giselle" ditampilkan. "Giselle" pun menjadi judul terlarang dalam Tokyo Grand Ballet. 

Lima belas tahun kemudian, sebagai perayaan ulang tahun Tokyo Grand Ballet, "Giselle" diputuskan untuk ditampilkan kembali. 

Akan tetapi, saat mereka mulai mempersiapkan pertunjukkan, arwah Mayumi mulai muncul. Berbagai kecelakaan dan kejadian nahas pun terjadi beruntun.
Sebenarnya mengapa arwah Mayumi kembali? Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun silam?
***

Bagi saya, karya-karya Akiyoshi Rikako memanglah menarik. Novel-novelnya yang pernah saya baca sebelumnya, seperti The Dead Returns dan juga Girls in The Dark, membuat saya selalu tertarik akan kisah yang dituturkan oleh Akiyoshi. Kebetulan, saat kemarin saya sedang dalam perjalanan pulang ke Malang dari Jakarta, saya memutuskan untuk membaca salah satu novel Akiyoshi yang berjudul Giselle.

Giselle dan Tokyo Grand Ballet

Bagi Tokyo Grand Ballet, menampilkan "Giselle" dalam pertunjukan mereka merupakan suatu hal yang tabu. Hal ini berhubungan dengan kejadian lima belas tahun yang lalu, yakni saat prima balerina Himemiya Mayumi tak sengaja menusuk dirinya sendiri hingga mati. Kejadian tersebut menimbulkan trauma yang cukup besaar, khususnya bagi Kurebayashi Reina yang sebetulnya menjadi orang yang diserang oleh Mayumi. Sejak saat itu, "Giselle" menjadi judul yang terlarang.

Lima belas tahun berlalu. "Giselle" diputuskan akan ditampilkan kembali sebagai bentuk perayaan ulang tahun Tokyo Grand Ballet. Sayangnya, ketika penampilan ini mulai disiapkan, banyak kejadian tak biasa yang menimpa para penari. Mulai dari penampakan Himemiya Mayumi di depan Ranmaru--salah satu penari terbaik di Tokyo Grand Ballet, jatuhnya Chouno Mikiya--penata artistik dari Tokyo Grand Ballet, hingga ketakutan berlebihan yang dialami oleh Kurebayashi Reina, sang prima balerina dari Tokyo Grand Ballet sekarang.

Cerita bukan berpusat pada Kurebayashi Reina

Seperti yang saya duga, kisah yang diangkat oleh Akiyoshi Rikako ini akan menyajikan sisi misteri yang tidak biasa. Bagi saya, membaca novel ini akan membuat para pembaca merasa merinding karena misteri yang disajikan. Meskipun pada sinopsis terlihat seperti cerita ini akan berpusat pada Himemiya Mayumi, nyatanya keseluruhan isi cerita berpusat pada sosok Kisaragi Kanon, salah seorang anggota Tokyo Grand Ballet yang cukup muda.

Sumber: google.com, edited by me.
Ia dan ketiga temannya sering disebut sebagai kuartet karena mereka selalu bersama-sama. Ketiga temannya itu adalah Saito Junko, seorang gadis yang tidak mau kalah dan juga cantik; Tachihake Ramaru, satu-satunya penari balet pria di angkatan Kanon; dan Sonomura Yukiko yang begitu cantik layaknya boneka. Hari itu, Kanon sedang memperbaiki pointe shoes miliknya saat Ranmaru mengabari Kanon bahwa peran untuk penampilan khusus ulang tahun Tokyo Grand Ballet telah diumumkan.

Tentu Kanon sangat bersemangat karenanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan dipilih sebagai Myrtha, si ratu para arwah yang kejam dan bahwa judul yang dipilih kali ini adalah "Giselle".

Kejadian tak terduga beserta misteri di dalamnya

Sejak pengumuman itu, ternyata memang banyak kejadian aneh yang terjadi. Puncaknya adalah saat Kurebayashi Reina meninggal mendadak layaknya tokoh yang ia tarikan, Giselle. Saat dilakukan penyelidikan, banyak sekali dugaan-dugaan yang mengarah pada teman-teman Kanon. Apalagi, saat Kanon perhatikan baik-baik, ternyata teman-temannya itu, bisa mendapatkan keuntungan apabila Chouno Mikiya, Kurebayashi Reina, atau Kurebayashi Hisashi--pemimpin Tokyo Grand Ballet sekaligus ayah Reina, terluka atau bahkan meninggal dunia.

Misteri itulah yang dicoba digali dalam cerita ini. Tentu, saya sangat menyukai plot twist yang disajikan oleh Akiyoshi. Saya rasa, Akiyoshi mampu membuat saya tertipu dengan asumsi-asumsi yang dilontarkan oleh Kanon. Saya tidak menyangka akhir dari kisah ini sebegitu manusia-nya. Dalam artian, saya selalu tahu bahwa tidak ada yang namanya hantu atau arwah dalam kisah-kisah Akiyoshi. Yang ada hanyalah bentuk keserakahan manusia yang menggunakan cerita arwah sebagai tameng. Nah, jujur saya tidak menyangka akhir kisahnya akan sebegitu luar biasanya.

Satu hal yang cukup menganggu dari novel ini adalah, alurnya yang cukup lambat. Lalu, berhubung novel ini juga menyelipkan kisah dari pertunjukan balet Giselle, saya merasa kadang ada bagian yang diulang-ulang. Saya sampai malas saat harus membacanya ulang. Akan tetapi, novel dari Akiyoshi Rikako ini menjadi salah satu novel horor yang tetap bisa saya baca dengan tenang. Rasanya sulit apabila tidak menyelesaikan novel ini secara langsung karena saya terus penasaran.

Kesimpulan

Saya akan merekomendasikan novel ini bagi para pecinta misteri. Novelnya yang ringan serta plot twist yang menarik menjadi daya tarik dari Giselle.

4 bintang untuk kisah Giselle yang tragis.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 komentar: