Balabala Reading Challenge 2020,

The War I Finally Won: Still Sweet Like The First Book

Kamis, Januari 16, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


The War I Finally Won
You can know things all you like, and someday you might believe them.

The War I Finally Won. Sumber: goodreads.com
Title: The War I Finally Won
Author: Kimberly Brubaker Bradley
Number of pages: 387 pages
Series: The War That Saved My Life #2
Date of Published: October 3rd, 2017
Publisher: Dial Books

Ada and her younger brother, Jamie, now have a permanent home with their loving legal guardian, Susan Smith. Although Jamie adapts more easily, Ada still struggles with the aftermath of her old life, and how to fit into her new life. 
 World War II continues, and forces the small community to come together and rely on one another. Ada has never been interested in getting to know her friend’s family—especially Maggie’s mother, the formidable Lady Thorton. However, circumstances bring them in close proximity along with other unexpected characters.

Ada comes face to face with another German! This time she isn’t sure what she should do. How can she help the ones she loves and keep them safe?
***

This second book is still about Ada. Ada and her brother, Jamie. Ada and her legal guardian--now, as of her mam has death, Susan. Ada and her first friend ever, Maggie. Ada and her favorite horse, Butter. Ada and the World War II. Yeah, there's no much change in this second book. This book is slightly thicker than the first one but still have the first book's ambiance.


More complicated story

If the first book mostly talk about how Ada can survive the war inside herself, for now the conflict is more complicated. One of them is about how Ada has to deal with another person around her. Moreover with someone that she barely know like Lady Thorton. After the war in Britain that made Ada's mam dead, Ada and Jamie back to live with Susan. Susan assured both of them that she would take care Ada and Jamie no matter what happen. Therefore, Susan fought for Ada's foot operation. Yeah, this book is opened with the decision of Susan to operate Ada's foot.

"Religious beliefs are complicated. You can’t call someone else’s religion a mistake. There isn’t a right and a wrong. There are just different ways of thinking.” - Susan.

So, Ada now was no longer crippled. After the recovery, Ada could walk easily and did everything that couldn't she did when she still crippled. Ada started to ride Butter and help Fred--the horse keeper in the Thorton house, worked at stable. Ada felt that all of those experience were amazing. Moreover, she could stand by her own foot. She didn't need any help anymore.

But, now Ada has to face another challenge in her life. Start from Lady Thorton's decision to live at Ada's cottage, Maggie that couldn't get home easily from school, until the arrival of Ruth, a Germany girl that should be a suspicious person. So, how Ada could handle this condition? Could she survive again like before?

War was as complicated as religion, when you started to think about it - Ada.

Ada's reflection

Sumber: google.com, edited by me

Well, if I ever said that Ada was annoying, I assured you that in this book she still stubborn. She still couldn't accept the fact there were a lot of people around her that love her. Even, accepted her just like what she were. She couldn't believe if Susan could be her mam and if Lady Thorton was soft.

Words could be dangerous, as destructive as bombs. - Ada
“Love isn’t as rare as you think it is, Ada. You can love all sorts of people, in all sorts of ways. Nor is love in any way dangerous." -- Susan 

Even though Ada was stubborn, somehow I could understand the reason behind of it. After all, Ada had succeed to change her way of thinking, behavior, and all. So, I appreciated Bradley for making Ada still lovable. One thing for sure, Ada was really a definition of a brave girl. You should took an example from her.

From all of the parts, I should admit that some part is bothering me. Yeah, I think, in the last part, Bradley is too much rushing the ending. So, most of the important part, in my opinion, hasn't explained yet. One of them is about the relationship between Susan and Becky. I had assumption back then about their relationship, but seems like Bradley won't go any further to explain it. In another hand, I like the author's not part very much. At least, finally I know what work that Lord Thorton did together with Ruth and Ruth's father. No one would expect it will related to Enigma, right?

Conclusion

"Better to be miserable together than miserable apart. I suppose.”-- Ruth

Even though there are some part that couldn't make me satisfied, I still can feel the sweet part of this book. I like this book as much as the first one. So, you should still to read because you will know how Ada's life continue after the war that saved her life.

4 out of 5 stars for the author's not part. Hoho.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Akiyoshi Rikako,

Giselle: Cerita Misteri Khas Akiyoshi Rikako

Rabu, Januari 15, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


Giselle
Sungguh, tidak ada orang yang lebih berdosa daripada seorang pemuda manis yang tidak memiliki kesadaran diri.

Giselle. Sumber: goodreads.com
Judul: Giselle
Penulis: Akiyoshi Rikako
Genre: Mystery, Thriller, Horror
Penerjemah: Clara Canceriana
Tahun terbit: Maret 2019
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal buku: 400 halaman

Lima belas tahun yang lalu, prima balerina Himemiya Mayumi tak sengaja menusuk dirinya sendiri hingga mati dalam usahanya menyerang Kurebayashi Reina, saat balet "Giselle" ditampilkan. "Giselle" pun menjadi judul terlarang dalam Tokyo Grand Ballet. 

Lima belas tahun kemudian, sebagai perayaan ulang tahun Tokyo Grand Ballet, "Giselle" diputuskan untuk ditampilkan kembali. 

Akan tetapi, saat mereka mulai mempersiapkan pertunjukkan, arwah Mayumi mulai muncul. Berbagai kecelakaan dan kejadian nahas pun terjadi beruntun.
Sebenarnya mengapa arwah Mayumi kembali? Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun silam?
***

Bagi saya, karya-karya Akiyoshi Rikako memanglah menarik. Novel-novelnya yang pernah saya baca sebelumnya, seperti The Dead Returns dan juga Girls in The Dark, membuat saya selalu tertarik akan kisah yang dituturkan oleh Akiyoshi. Kebetulan, saat kemarin saya sedang dalam perjalanan pulang ke Malang dari Jakarta, saya memutuskan untuk membaca salah satu novel Akiyoshi yang berjudul Giselle.

Giselle dan Tokyo Grand Ballet

Bagi Tokyo Grand Ballet, menampilkan "Giselle" dalam pertunjukan mereka merupakan suatu hal yang tabu. Hal ini berhubungan dengan kejadian lima belas tahun yang lalu, yakni saat prima balerina Himemiya Mayumi tak sengaja menusuk dirinya sendiri hingga mati. Kejadian tersebut menimbulkan trauma yang cukup besaar, khususnya bagi Kurebayashi Reina yang sebetulnya menjadi orang yang diserang oleh Mayumi. Sejak saat itu, "Giselle" menjadi judul yang terlarang.

Lima belas tahun berlalu. "Giselle" diputuskan akan ditampilkan kembali sebagai bentuk perayaan ulang tahun Tokyo Grand Ballet. Sayangnya, ketika penampilan ini mulai disiapkan, banyak kejadian tak biasa yang menimpa para penari. Mulai dari penampakan Himemiya Mayumi di depan Ranmaru--salah satu penari terbaik di Tokyo Grand Ballet, jatuhnya Chouno Mikiya--penata artistik dari Tokyo Grand Ballet, hingga ketakutan berlebihan yang dialami oleh Kurebayashi Reina, sang prima balerina dari Tokyo Grand Ballet sekarang.

Cerita bukan berpusat pada Kurebayashi Reina

Seperti yang saya duga, kisah yang diangkat oleh Akiyoshi Rikako ini akan menyajikan sisi misteri yang tidak biasa. Bagi saya, membaca novel ini akan membuat para pembaca merasa merinding karena misteri yang disajikan. Meskipun pada sinopsis terlihat seperti cerita ini akan berpusat pada Himemiya Mayumi, nyatanya keseluruhan isi cerita berpusat pada sosok Kisaragi Kanon, salah seorang anggota Tokyo Grand Ballet yang cukup muda.

Sumber: google.com, edited by me.
Ia dan ketiga temannya sering disebut sebagai kuartet karena mereka selalu bersama-sama. Ketiga temannya itu adalah Saito Junko, seorang gadis yang tidak mau kalah dan juga cantik; Tachihake Ramaru, satu-satunya penari balet pria di angkatan Kanon; dan Sonomura Yukiko yang begitu cantik layaknya boneka. Hari itu, Kanon sedang memperbaiki pointe shoes miliknya saat Ranmaru mengabari Kanon bahwa peran untuk penampilan khusus ulang tahun Tokyo Grand Ballet telah diumumkan.

Tentu Kanon sangat bersemangat karenanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan dipilih sebagai Myrtha, si ratu para arwah yang kejam dan bahwa judul yang dipilih kali ini adalah "Giselle".

Kejadian tak terduga beserta misteri di dalamnya

Sejak pengumuman itu, ternyata memang banyak kejadian aneh yang terjadi. Puncaknya adalah saat Kurebayashi Reina meninggal mendadak layaknya tokoh yang ia tarikan, Giselle. Saat dilakukan penyelidikan, banyak sekali dugaan-dugaan yang mengarah pada teman-teman Kanon. Apalagi, saat Kanon perhatikan baik-baik, ternyata teman-temannya itu, bisa mendapatkan keuntungan apabila Chouno Mikiya, Kurebayashi Reina, atau Kurebayashi Hisashi--pemimpin Tokyo Grand Ballet sekaligus ayah Reina, terluka atau bahkan meninggal dunia.

Misteri itulah yang dicoba digali dalam cerita ini. Tentu, saya sangat menyukai plot twist yang disajikan oleh Akiyoshi. Saya rasa, Akiyoshi mampu membuat saya tertipu dengan asumsi-asumsi yang dilontarkan oleh Kanon. Saya tidak menyangka akhir dari kisah ini sebegitu manusia-nya. Dalam artian, saya selalu tahu bahwa tidak ada yang namanya hantu atau arwah dalam kisah-kisah Akiyoshi. Yang ada hanyalah bentuk keserakahan manusia yang menggunakan cerita arwah sebagai tameng. Nah, jujur saya tidak menyangka akhir kisahnya akan sebegitu luar biasanya.

Satu hal yang cukup menganggu dari novel ini adalah, alurnya yang cukup lambat. Lalu, berhubung novel ini juga menyelipkan kisah dari pertunjukan balet Giselle, saya merasa kadang ada bagian yang diulang-ulang. Saya sampai malas saat harus membacanya ulang. Akan tetapi, novel dari Akiyoshi Rikako ini menjadi salah satu novel horor yang tetap bisa saya baca dengan tenang. Rasanya sulit apabila tidak menyelesaikan novel ini secara langsung karena saya terus penasaran.

Kesimpulan

Saya akan merekomendasikan novel ini bagi para pecinta misteri. Novelnya yang ringan serta plot twist yang menarik menjadi daya tarik dari Giselle.

4 bintang untuk kisah Giselle yang tragis.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Balabala Reading Challenge 2020,

The War That Saved My Life, A Children Book with The War Setting

Sabtu, Januari 11, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


The War That Saved My Life
"Saying something stupid doesn't make you stupid. Luckily for all of us." - Susan

Sumber: Goodreads.com
Title: The War That Saved My Life
Author: Kimberly Brubaker Bradley
Number of page: 316 pages
Series: The War That Saved My Life #1
Date of Published: January 8th, 2015
Publisher: Dial Books

An exceptionally moving story of triumph against all odds set during World War 2, from the acclaimed author of Jefferson’s Sons and for fans of Number the Stars.  
Ten-year-old Ada has never left her one-room apartment. Her mother is too humiliated by Ada’s twisted foot to let her outside. So when her little brother Jamie is shipped out of London to escape the war, Ada doesn’t waste a minute—she sneaks out to join him.  
So begins a new adventure of Ada, and for Susan Smith, the woman who is forced to take the two kids in. As Ada teaches herself to ride a pony, learns to read, and watches for German spies, she begins to trust Susan—and Susan begins to love Ada and Jamie. But in the end, will their bond be enough to hold them together through wartime? Or will Ada and her brother fall back into the cruel hands of their mother?  
This masterful work of historical fiction is equal parts adventure and a moving tale of family and identity—a classic in the making. 


***

The initial idea to read The War That Saved My life is when I want to finish one of categories from Balabala Reading Challenge 2020. This reading challenge has made by me and my so-called big sister, Zis from Zelie, the book-admirer. That category is books about special needs children. Without further thinking, I tried to search a book recommendation from Google. Then, this book appeared as one of the books that caught my attention.

The Newbery Book

We’d escaped. Mam, Hitler’s bombs, my one-room prison. Everything. Crazy or not, I was free. -- Ada

The War that Saved My Life is written by Kimberly  Brubaker Bradley. To be honest, I never heard of her name as an author. I only want to read this book because this is a children book. Since my reading mood hasn't being that stable, I though reading a children book can ease my feeling to some extent. When I want to add this book into my Goodreads account, I just realized that this book got a medal from Newbery. So, I expected this book could really offer an interesting story.

Ada was a crippled. She had a clubfoot and her mum was ashamed because of it. She never let Ada went out from home and always beat Ada whenever Ada made a mistake. Ada, herself, was only can see the world through the window. Because her mum rarely at home because she had to work, no wonder if Ada hadn't enough knowledge about word or language.

One day, when the war was gotten worse, all of children in London had to be evacuated.  So did Jamie, Ada's brother. Mum never bother to Ada's condition. She didn't register Ada to be evacuated. But, Ada knew that she had to fight for herself. So, without her mum noticed, everyday Ada tried to walk with her clubfoot. Of course it hurt her so bad but Ada never giver up. She had to walk no matter what.

On the evacuation day, Ada and Jamie sneaked out to the Jamie's school. That was the first time Ada felt free. During the trip, Ada never admitted that she had clubfoot and she didn't know where the train will go. The Iron Lady--the one who managed the distribution of the children, said that there will be a place for Ada and Jamie. Inside her heart, Ada was afraid that no one want take them. Then, in the end of the village, the Iron Lady marched them to the house. Here was a young lady that argued a lot to the Iron Lady, but seems the young lady has defeated. She had to take care Ada and Jamie.

"I never want to have any children," she said. "I won't care both of you."

Will Ada face another threatening life again? Will she and Jamie survived the war?

And then the hall was empty, save the teachers, the iron woman, Jamie, and me. Mam had been right. No one would have us. We were the only ones not chosen. -- Ada

***

Sumber: google.com, edited by me

As a book with the war setting, I should admit that this book was interesting. At least, I knew about the children's fate when Germany invaded England in World War 2. The character, Ada, wasn't a lovable character, to be honest. She was stubborn and quite. She never told anyone about what's she feeling. She afraid that everyone will only judge her by foot. Okay, I would like to blame her mum for that. Ada's depression and fear made her build her wall so high. She never want to be touched, even by Susan, her guardian. 

"I know you aren’t stupid. Stupid people couldn’t take care of their brother the way you do. Stupid people aren’t half as brave as you. They’re not half as strong." -- Miss Smith 

Jamie, in my opinion, most likely had the same attitude as Ada. He was more influenced by his mom, so she thought Ada shouldn't walk by her own foot. He thought that being a crippled was a sin. Yeah, after I read this book, I started to like Susan. How she managed to take care Ada and Jamie very nicely. Susan had a big role for Ada and Jamie's life. She feed them, took care of them, and also taught them how to behave and also about knowledge like reading and math. She acted like a parent.

I like when Ada started to change her behavior. She became more mature as a children, even though sometimes her stubbornness still very annoying. One thing that I realized when I read this book is when Bradley describe the war situation. I don't know if this is proper or not, but as a children book, this book has a quite detail for the war. It was about the Germany's invasion, how hard the situation to get food in the middle of the war, or when one ship full of injured soldier came to Ada's village and Ada tried to help Susan to help them.

Hero wasn’t a word I was used to hearing. The admiration was interesting, but the attention made me feel unsettled. -- Ada

Yeah, even though I still with an opinion that Ada is very annoying, I still can enjoy the story. Even, I started to curious with the second book, The War I Finally Won. Anyway, the title of this book is very relatable with the story. So, you should read it by yourself.

4 of 5 stars for Butter, Ada's pony and Susan's kindness.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Comedy,

Resensi Film: Marriage Story (2019) Kehidupan Rumah Tangga yang Jauh dari Sempurna

Senin, Januari 06, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


Marriage Story
I never really came alive for myself; I was only feeding his aliveness.

Marriage Story. Sumber: IMDb.com
Judul: Marriage Story
Genre: Comedy, Drama, Romace
Sutradara: Noah Baumbach
Penulis naskah: Noah Baumbach
Pemain: Adam Driver, Scarlett Johansson, Laura Dern
Durasi: 137 menit

A stage director and his actor wife struggle through a gruelling, coast-to-coast divorce that pushes them to their personal and creative extremes.
***

Memutuskan untuk menonton Marriage Story merupakan suatu hal yang.. yaa.. bukan depresif, sih. Lebih ke.. menarik untuk ditarik pembelajarannya. Bisa dibilang, Marriage Story berhasil menyajikan kisah drama rumah tangga yang sangat realistis. Tidak seperti film drama lainnya, Marriage Story betul-betul menggambarkan kehidupan rumah tangga yang jauh dari sempurna.

Tentang Marriage Story


Nicole (Scarlett Johannson) merupakan seorang aktris teater. Ia menikah dengan Charlie (Adam Driver) dan dikaruniai seorang anak bernama Henry (Azhy Robertson). Charlie sendiri adalah sutradara teater yang dimainkan oleh Nicole. Setelah menjalani kurang lebih lima tahun pernikahan, akhirnya pada satu titik, Nicole dan Charlie memutuskan untuk berpisah.

Keseluruhan proses perpisahan itulah yang dicoba ditampilkan dalam Marriage Story. Mulai dari ketika Nicole mulai menggunakan jasa Nora Fanshaw (Laura Dern) sebagai pengacaranya, Charlie yang harus bolak-balik New York dan Los Angeles untuk mengurus teaternya dan membagi waktu bersama anaknya, perjuangan masing-masing menghadapi proses perceraian, hingga bentuk kefrustrasian masing-masing.

Yang saya sukai dan tidak sukai dari Marriage Story


Sumber: pinterest.com, edited by me

Sebagai sebuah film drama romans, menurut saya Marriage Story berhasil mengambil sisi lain dari genre itu sendiri. Dikatakan bahwa pada dasarnya, Noah Baumbach mengambil cerita ini dari kisahnya sendiri. Itulah yang menyebabkan film ini terasa sangat personal. Dalam penceritaannya, memang tidak ada suatu konflik yang begitu dahsyat di antara Nicole dan Charlie. Akan tetapi, saya bisa melihat bahwa, pada akhirnya seseorang dapat merasa lelah dan capek dengan keadaan yang mereka miliki.

Akan tetapi, dengan durasi yang menyentuh dua setengah jam, jujur saja alur film ini cukup lambat. Saya memang penasaran dengan akhir cerita, akan tetapi lambatnya alur membuat saya sedikit terganggu. Lalu, apabila disebutkan bahwa film ini memiliki genre komedi, jujur komedi yang ditampilkan hanyalah beberapa kilas saja. Bukanlah unsur yang dominan dalam film ini.

Yang saya pelajari


Film ini seolah menegaskan bahwa kehidupan rumah tangga itu bukanlah suatu hal yang sempurna. Akan ada banyak celah di dalamnya. Ketika dua orang yang betul-betul sempurna memilih untuk tidak bersatu, ya mungkin hal itulah yang akan terjadi. Tak ada satupun hal yang bisa membuat kedua orang tersebut tetap bersama meskipun masih ada perasaan yang tertinggal apabila memang sudah ada yang terluka.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Charlie bernyanyi. Entah mengapa, saya bisa betul-betul melihat kefrustrasian Charlie. Bagaimana ia telah menghabiskan waktu, tenaga, dan juga materi untuk menjalani proses perceraiannya dengan Nichole. Sedangkan untuk Nichole, saya masih menyukai karakternya, tapi saya menyayangkan porsi dirinya bersama dengan Henry tidak terlalu terekspos.

Terakhir, adalah adegan klimaks yang berhasil memporak-porandakan emosi saya ketika menonton film ini. Di situlah terungkap betapa kedua orang yang dulunya saling mengerti, bisa saling tidak mempercayai pada akhirnya.

Kesimpulan


Saya mengakui bahwa film ini sangatlah realistis. Akan tetapi, entahlah, mungkin karena saya tidak memiliki experience yang sama dengan tokohnya, saya tidak merasakan emosinya yang begitu dalam. Meski demikian, saya menyarankan kalian untuk menonton film ini. Bagaimanapun, kalian harus menyadari bahwa kehidupan rumah tangga bukan hanya soal bagaimana saya dapat berbahagia dengan pasangan saya, tapi bagaimana saya bisa tetap mengaktualisasikan diri ketika saya telah menikah.

7 dari 10 bintang untuk lagu yang dinyanyikan Charlie.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Bloglovin Update!

Minggu, Januari 05, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments

Hai, because I want to reclaim my blog, here is my new bloglovin update :)

To be honest, it's been a while since I was updating my blog. So, I would like to restart any kind of necessary tools and media that I used to promote my blog. Bloglovin is one of them.

Follow my blog with Bloglovin

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Balabala Reading Challenge 2020,

Aruna dan Lidahnya, Premis yang Unik Tapi Tanggung

Minggu, Januari 05, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


Aruna dan Lidahnya
Apakah gerangan yang menjadikan kita begitu pahit dan sarkastis? -- Aruna

Sumber: goodreads.com
Judul: Aruna dan Lidahnya
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: 6 Agustus 2018, versi cover film
Tebal buku: 428 halaman
Jenis buku: Paperback
Baca via Gramedia Digital

Aruna Rai; 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan: Epidemiologist (Ahli Wabah), Spesialisasi: Flu Unggas. Obsesi: Makanan. 
Bono; 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan: Chef. Spesialisasi: Nouvelle Cuisine. Obsesi: Makanan. 
Nadezhda Azhari; 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan Makanan. Obsesi: Makanan. 
Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya. Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik, kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisahkisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.
***

Pada akhirnya, saya berhasil membaca salah satu karya dari Laksmi Pamuntjak. Jujur, awalnya saya begitu penasaran dengan Amba, karya Laksmi yang fenomenal itu. Sayangnya, meski saya sudah mencoba, saya tetap tidak kuat membacanya. Saya berkali-kali DNF (did not finish) di tengah jalan. Sempat saya membaca hingga seperempat buku, tapi mood membaca saya malah menjadi jauh lebih berantakan. Jadi, berikut merupakan sedikit ulasan saya tentang Aruna dan Lidahnya.

Tentang Aruna dan Lidahnya

Sejujurnya saya tak tahu buku Aruna dan Lidahnya ini buku ke berapa yang ditulis oleh Laksmi. Yang pasti, buku ini memang ditujukan untuk membahas makanan secara khusus dan berhasil masuk nominasi untuk daftar pendek Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2015 kategori Prosa.

Yang berkuasa menggelapkan segalanya.

Namanya Aruna. Seorang ahli wabah yang ditugaskan untuk menyelidiki wabah Flu Unggas di beberapa kota di Indonesia. Akan tetapi, diam-diam Aruna menyimpan obsesi pada makanan. Jadi, ia pun menyelipkan beberapa wisata kuliner di kota ia bertugas. Ia juga mengajak dua kawan baiknya, Bono dan Nadezhda, untuk menemani dirinya melakukan wisata kuliner.

Semua itinerary pun telah tersusun. Bagi Bono yang seorang chef, menyusun daftar restoran apa saja yang harus dikunjungi di beberapa kota tujuan Aruna, seperti Surabaya, Bangkalan, Palembang, Medan, Banda Aceh, Pontianak, dan juga Singkawang, bukanlah sesuatu hal yang sulit. Bono memang memiliki agenda sendiri, yakni melakukan riset untuk sajian di restorannya, Siria.

Sedangkan, bagi Nadezhda yang seorang penulis soal makanan, perjalanan kuliner itu akan sangat membantu dirinya menulis artikel ataupun bukunya. Maka dari itu, Nad pun setuju ikut rombongan Aruna dan Bono.

...karena kematian, sebagaimana kelahiran, khitanan, perkawinan, dan semua peristiwa penting lainnya yang terjadi dalam kehidupan seseorang, adalah perkara publik, dan oleh karenanya dipenuhi masalah-masalah orang lain.
"Sebuah virus tak akan pernah takluk, Farish. Ia kecil, ia sabar, ia mengganda dalam diam. Tak ada yang meghitung umurnya, tapi ia Tak pernah lupa. Suatu hari ia datang, menyerang, dan tak berdaya menangkalnya."
-- Aruna 

Aruna memang menyelipkan agenda makan-makan di kunjungan kerjanya tersebut, akan tetapi bukan berarti Aruna akan melalaikan tugas. Ia tetap menjalankan tugas dengan baik karena salah satu rekan kerjanya, Farish, juga ikut diturunkan di tugas yang sama. Di sinilah, akhirnya Aruna mempelajari banyak hal, bukan hanya tentang makanan nusantara yang begitu nikmat dan beraneka rupa, tapi juga tentang karir dan cintanya.

Buku yang bikin lapar tapi malah kentang

Sumber: pexels.com, edited by me

Saya harus mengakui bahwa Laksmi Pamuntjak merupakan penulis yang piawai mendeskripsikan makanan. Saya berkali-kali merasa lapar saat membaca deskripsi Laksmi. Yang paling saya ingat adalah ketika saya membaca deskripsi Pempek Palembang yang dimakan oleh Aruna dan kawan-kawan. Saya betul-betul merasa lapar saat itu juga.

Sebutkan tujuh hal paling dulu muncul di benak Anda ketika Anda mendengar kata "Racun".
Cemburu, fitnah, rasa percaya diri yang rendah, obesitas, pengkhianatan, paranoia, laki-laki pengecut.
Selamat! Angka sempurna!
...karena aku tahu hanya orang-orang yang mencintai yang tak meninggalkan. 

Pada dasarnya, saya merasa bahwa premis yang diajukan oleh Aruna dan Lidahnya cukup menarik. Mengambil tema besar makanan, cinta, dan juga konspirasi membuat saya penasaran lebih lanjut tentang konspirasi apa yang akan digali oleh Aruna. Sayangnya, hal itu tidak tergambarkan di novel ini.

Ketika saya akan membaca novel ini, saya tahu bahwa saya harus tahan terhadap gaya bercerita Laksmi yang cukup lambat. Hal ini sudah tergambar jelas dari bagaimana Laksmi mendeskripsikan sosok Aruna dalam satu paragraf penuh yang tak berkesudahan. Saya sampai capai membawa halaman-halaman awal novel ini.

"Di sinilah letaknya, database terbaik manusia. otak kita, memori kita."

Lalu, agaknya saya kurang mengerti ketika Aruna mendapatkan mimpi-mimpi yang tak begitu relevan dengan kehidupan nyatanya. Ada kalanya saya malah merasa terganggu dengan cuplikan-cuplikan mimpi atau pikiran Aruna di setiap awal bab.

Selain itu, yang membuat saya kurang puas dari novel ini adalah, banyak sekali aspek yang tanggung. Baik dari kisah cintanya maupun konspirasi yang disebutkan. Bagi saya, kisah cinta yang disajikan antara Aruna dan Farish betul-betul tidak mendalam. Saya tidak merasa jatuh hati pada kedua sosok ini. Bahkan, saya sampai tak mengerti mengapa mereka akhirnya memutuskan untuk bersama. Menurut saya, chemistry keduanya tak terbangun begitu apik. Untuk kisah Bono dan Nad dalam novel ini memang tidak dibahas begitu mendalam. Cukup sayang ketika kedua tokoh sentral ini malah tak mendapatkan porsi yang cukup.

Kemudian, untuk konspirasinya sendiri, saya malah ingin gigit jari. Where is the big secret that should be revealed by Aruna? Lagi-lagi, saya merasa digantung oleh Laksmi. Konspirasi yang ia ingin jabarkan malah cenderung tak begitu 'wow'. Alhasil, malah membuat saya merasa bahwa kasus Flu Unggas yang ditangani Aruna malah cuma sekadar tempelan.

"Mencintai itu nggak gampang, Nak. Karena, mencintai berarti harus siap kehilangan. Tapi lebih baik pernah mencintai daripada nggak pernah mencintai."
"Aruna, aku nggak sebajingan yang kamu kira."
-- Farish  

Kesimpulan

Kalau saya ditanya mengapa akhirnya tertarik membaca buku ini, alasannya cuma satu. Saya ingin tahu versi buku dari film Aruna dan Lidahnya yang berhasil memikat saya. Iya, film garapan Edwin dan dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al Rashid, dan Nicholas Saputra itu begitu komikal dan menyenangkan. Jadi, saya berharap akan mendapatkan experience yang sama saat membaca novelnya. Sayangnya saya salah. Mungkin, ini adalah pertama kalinya saya lebih menyukai versi film dari suatu karya adaptasi.

3 bintang untuk seluruh deskripsi makanan tanpa henti dan berhasil membuat saya lapar.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Hayao Miyazaki,

Resensi Film: Howl's Moving Castle (2004), Cinta Tidak Memandang Penampilan

Sabtu, Januari 04, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


Howl's Moving Castle
Sorry, I've had enough of running away, Sophie. Now, I've got something I want to protect. It's you. -- Howl.

Sumber: IMDb.com
Judul: Howl's Moving Castle
Judul asli: Hauru No Ugoku Shiro
Durasi: 119 menit
Genre: Animation, Adventure, Family
Sutradara: Hayao Miyazaki
Penulis: Hayao Miyazaki, Diana Wynne Jones (novel)

When an unconfident young woman is cursed with an old body by a spiteful witch, her only chance of breaking the spell lies with a self-indulgent yet insecure young wizard and his companions in his legged, walking castle.

***

Howl's Moving Castle merupakan satu dari sekian film keluaran Studio Ghibli. Sejauh yang saya tahu, film ini mungkin tidak seheboh film Ghibli lainnya seperti My Neighbor Totoro dan Spirited Away. Akan tetapi, saya tetap menyukai cerita yang dibawa oleh Diana Wynne Jones yang diadaptasi oleh Hayao Miyazaki ini.

Sekilas Tentang Howl's Moving Castle


Kastil bergerak milik Howl. Sumber: getwallpapers.com

Sophie merupakan seorang perempuan muda yang kurang memiliki kepercayaan diri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembuat topi di salah satu toko topu. Suatu ketika, Sophie hendak pulang ke rumahnya. Akan tetapi, dua orang prajurit mengganggu dirinya. Saat itulah, sesosok pemuda datang menyelamatkan Sophie. Ternyata, pemuda tersebut memiliki kuatan sihir yang tak pernah Sophie duga.

Ketika ia kembali ke toko topinya, datanglah seorang penyihir jahat yang memberikan mantra kepada Sophie. Karena mantra tersebut, Sophie pun menua. Jujur, Sophie tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan wujudnya. Berhubung ia tahu ia tak bisa tinggal di tempat asalnya tanpa ditanyai lebih lanjut, Sophie pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kota.

Di sisi lain, di kota tersebut, ada sebuah gosip yang menyebutkan bahwa di tengah-tengah padang bukit, ada sebuah kastil yang bergerak. Kastil tersebut dimiliki oleh seorang penyihir bernama Howl. Tak ada yang berani untuk mendekati kastil tersebut. Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk Sophie. Dibantu oleh Turnip si orang-orangan sawah, akhirnya Sophie masuk ke dalam kastil tersebut dan bertemu dengan Mark dan Calcifer. Sejak saat itu, Sophie mengetahui siapa sebenarnya Howl dan mengapa peperangan yang terjadi di kotanya terus terjadi.

Apakah Sophie akan kembali ke wujud semulanya? Apakah Howl akan membantu Sophie?

Premis yang menjanjikan tapi...


Sumber: wallpaper-mania.com, edited by me
Saya tak memungkiri kalau saya tertarik menonton film ini karena film ini adalah keluaran dari Studio Ghibli. Saya ingin mengetahui lebih lanjut cerita dari Sophie dan Howl. Awalnya, saya menyukai premis yang ditawarkan. Bagaimana Sophie yang berubah menjadi tua dan terus berusaha meskipun fisiknya membatasi ruang geraknya.

Sosok Howl pun menurut saya cukup lovable. Apalagi, memang ada rahasia kelam di balik sosok Howl. Akan tetapi, saya rasa banyak hal yang menjadi pertanyaan ketika penyelesaian dari film ini mulai terungkap.

Saya masih kurang mengerti mengapa tiba-tiba Sophie bisa kembali muda. Tak ada petunjuk apa yang sebetulnya bisa memecahkan mantra yang ditanamkan pada diri Sophie. Kemudian, saya masih tak mengerti mengapa pada akhirnya Madam Sullivan memutuskan untuk menghentikan perang setelah Howl, Sophie, dan yang lain berhasil bertahan. Saya masih tidak mengerti apa korelasinya.

Kemudian, bagi saya, kisah Howl yang bisa berubah menjadi monster juga tidak dijelaskan secara mendetail. Saya tahu sering kali Hayao Mayazaki menggunakan metafora-metafora untuk menyampaikan kritik, tapi, untuk film ini saya rasa.. memang banyak hal yang tidak dijelaskan. Otomatis, membuat saya bertanya-tanya. Atau pada dasarnya saya yang tidak memperhatikan detail dari filmnya?

Kesimpulan


Howl dan Sophie. Sumber: HDWallpaper.nu
Bagi saya, Howl's Moving Castle tetap bisa mengikat penonton. Saya suka karakter-karakter seperti Mark yang menjadikan suasana menjadi lebih ceria. Bahkan, saya menyukai Calcifer, si api yang suka menggerutu itu. Akan tetapi, saya merasa kurang puas dengan penyelesaian konflik yang disajikan.

Meskipun demikian, dari film ini saya belajar bahwa cinta itu memang tidak akan memandang penampilan seseorang. Meskipun kita menjadi menua atau lainnya, apabila kita tetap menjadi versi terbaik dari diri kita, cinta akan tetap ada di sana. Layaknya cinta yang dicurahkan Sophie pada Howl dan sebaliknya.

3 dari 5 bintang untuk Heen, si anjing yang keberatan badan.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Hai, 2020!

Rabu, Januari 01, 2020 Puji P. Rahayu 0 Comments


Sumber: amazon.com, edited by me

Hello, my fellow reader!

Once again, I have to admit that I rarely post anything in my blog on 2019. After I do some reflection, finally I realize the reason behind of it because I don't have a proper laptop back then. But for now, because I finally get a chance to have a new laptop, I would like to encourage myself to read more and review more.

So, my journey for blogging and book reviewing will back again.

Anyway, me and my friend have an idea to make a reading challenge. For now, the list still on the way--I'll update it later. Then, I want to try to do 2020 Pop Sugar Reading Challenge. Here is the full list of the challenge:



I hope in 2020 I become a better person. I want my habit back. Yeah, it's for reading and making a book review. Hope so I can be consistent.

Anyway, thank you for keep visiting my blog. It's just an amazing things when I realized that there's still someone who accidentally landed on my blog.

All right, then. See ya in another post.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar: