Comedy,

Resensi Film: Imperfect (2019), Menjadi Sempurna Belum Tentu Jadi Bahagia

Minggu, Desember 29, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Imperfect
Ketika karier dan cinta berhadapan dengan jarum timbangan

Sumber: imdb.com
Judul: Imperfect
Sutradara: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Penulis Naskah: Meira Anastasia dan Ernes Prakasa
Pemain: Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandhi, Dion Wiyoko, Shareefa Daanish, Ernest Prakasa
Genre: Comedy, Drama
Durasi: 113 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp40.000,-
Being born fat and has dark skins, it feels like a curse for Rara, especially when she worked at the office that has surrounded by pretty girls. Her boss wants her to lose her weight, but there is a man who loves the way she were.
***

Menikmati film garapan Ernest Prakasa di akhir tahun memang bisa menjadi pilihan. Masih sejalan dengan film-film Ernest sebelumnya seperti Cek Toko Sebelah (2016) dan Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (2018), Imperfect hadir sebagai film drama yang juga berbalut komedi. Secara konten yang ingin diangkat, saya cukup salut dengan usaha Ernest dan Meira. Membahas insecurity yang ternyata dialami oleh semua orang dalam film ini.

Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan

Ibu Siska, Rara, dan Dika. Sumber: hipwee.com
Rara (Jessica Mila) telah terlahir sebagai sosok yang gemuk dan berkulit hitam. Sebagaimana orang Indonesia yang suka nyinyir dan hanya sekadar melihat penampilan, tentu Rara diremehkan. Di rumah, sang mama (Karina Suwandhi), selalu mengingatkan Rara untuk menjaga berat badannya. Lama-kelamaan, Rara menjadi muak dengan seluruh perintah mamanya. 

Sedangkan sang adik, Lulu (Yasmin Napper), memiliki tubuh ideal dan kecantikan sang mama. Otomatis, ia menjadi anak 'kesayangan'. Rara merasa tidak pernah disayang oleh mamanya karena penampilan fisik yang ia miliki. Bagi Rara, ayahnya lah yang selalu mendukung dirinya apa adanya. Sayangnya, sejak ayahnya meninggal, Rara kesulitan menghadapi berbagai cibiran serta tatapan tak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

Untungnya, Rara memiliki seorang pacar yang sangat menyayanginya, Dika (Reza Rahadian). Bekerja sebagai fotografer, Dika selalu berusaha untuk menyenangkan hati Rara. Ia tak peduli dengan penampilan Rara seperti apa, yang terpenting adalah kebaikan hati Rara. 

Sayangnya, kebahagiaan Rara terusik kala ia menemui masalah di Kantor. Setelah mundurnya Sheila (Cathy Sharon), salah seorang manajer di Malathi, Rara dihadapkan oleh kenyataan yang cukup pahit. Bagi Kelvin (Dion Wiyoko), bos Malathi, Rara lah yang seharusnya menggantikan posisi Sheila. Sayangnya, bagi Kelvin, otak saja tak cukup untuk menjalankan peran sebagai manajer di sebuah lini kosmetik seperti Malathi. Rara juga harus meyakinkan klien maupun investor melalui penampilannya. Dengan demikian, dimulailah upaya Rara untuk menjadi versi '"sempurna" di mata masyarakat. Menjadi cantik dan kurus. Iya, standar kecantikan yang terpatri begitu dalam di masyarakat umum.

Upaya membahas Insecurity dari berbagai sisi

Sumber: Canva & iconfinder.com, edited by me
Kalau boleh jujur, saya belum membaca novel karya Meira Anastasia yang menjadi dasar pembuatan film ini. Akan tetapi, saya merasa tersentil dengan beberapa bagian yang ditampilkan di dalam film. Pernyataan dari Kelvin dalam film ini semakin menegaskan bahwa di dunia yang patriarkis ini, stadar kecantikan seorang perempuan masih menjadi sandungan. Apabila ingin berhasil dalam berkarier, maka kamu harus memenuhi standar penampilan layak versi masyarakat.

Hal ini setidaknya pernah saya rasakan. Saya yang memang pada dasarnya malas dandan dan berpenampilan urakan, dipandang tidak sebaik kawan saya yang berpenampilan rapi dan berdandan. Yaa, akan tetapi kemudian saya sadar bahwa tidak seharusnya saya merasa insecure karena hal yang demikian. Bukankah lebih baik mencari lingkup yang bisa menerima saya apa adanya dengan penampilan saya yang urakan? 

Akan tetapi, saya cukup salut dengan transformasi Rara, baik secara penampilan dan sifat. Di klimaks cerita pun, akhirnya terungkap bahwa masing-masing tokoh memiliki rasa insecure dalam diri mereka. Mereka merasa banyak sekali hal yang kurang dari diri mereka. Padahal, rasa kurang tersebut tidak akan ada apabila mereka melihat kekurangan yang mereka miliki menjadi suatu kelebihan. Kira-kira, menurut saya, hal inilah yang dicoba untuk digambarkan dalam film Imperfect. Mulai dari Rara yang tidak pede pada penampilannya, Lulu yang selalu memperhatikan komentar para netizen yang julidnya minta ampun, geng anak kosan dengan masalah mereka masing-masing, atau bahkan insecurity dari mama Rara. Semuanya ternyata menyimpan beban masing-masing tanpa pernah membagikannya pada orang lain.

Secara pribadi, sosok Dika di sini kurang-lebih cukup lovable--biasanya saya sudah lelah dengan tokoh-tokoh yang diperankan oleh Reza. Akan tetapi, di sini saya merasa puas dengan karakter Dika. Tidak terlalu berlebihan dan bisa cukup memorable. Sosok Fey, sahabat Rara, yang diperankan oleh Shareefa Danish juga cukup mencuri perhatian. Saya suka dengan sikap bodo amat yang diperankan oleh Fey. Tak lupa, geng anak kosan juga menambah nilai komedi dalam film ini.

Secara keseluruhan, saya puas dengan menonton film ini. Saya rasa, film-film Indonesia telah mulai bangkit dan tentunya patut ditonton. Akan tetapi, apabila saya diminta membandingkan, tampaknya Milly & Mamet masih menjadi film garapan Ernerst favorit saya. Cek Toko Sebelah dan Imperfect menurut saya memang hadir sebagai suatu film pengingat. Dalam artian, pesan yang ingin disampaikan cukuplah dalam. Bukan sekadar drama dan komedi. Sedangkan, Milly & Mamet lebih merujuk pada sebuah film hiburan ringan yang membuat tertawa.

Kesimpulan

Tentu, saya akan merekomendasikan film ini sebagai pilihan ketika ingin menonton di bioskop. Film ini akan membuatmu tersenyum karena manisnya hubungan Rara dan Dika, tertawa karena tingkah laku geng anak kosan, atau menangis karena emosi yang dirasakan oleh Rara. Jadi, jangan lupa ya untuk tetap mendukung perfilman Indonesia yang tak pernah lelah berbenah diri.

Satu hal yang akan saya selalu ingat dari film ini adalah, menjadi sempurna belum tentu akan membuat dirimu bahagia. Maka dari itu, akan jauh lebih baik apabila kamu menjadi versi terbaik dari dirimu. Tanpa perlu menghakimi orang lain, jadilah seseorang yang menyenangkan dan berkesan.

4 bintang untuk kisah yang sungguh relatable dengan kehidupan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Chris Evan,

Resensi Film: Knives Out (2019), Ketika Twist yang Diharapkan Tak Kunjung Muncul

Senin, Desember 23, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Knives Out
Nothing brings a family together like murder

resensi-film-knives-out
Knives Out (2019). Sumber: IMDb
Judul: Knives Out
Sutradara: Rian Johnson
Penulis Naskah: Rian Johnson
Pemain: Daniel Craig, Crish Evan, Ana de Armas
Genre: Comedy, Crime, Drama
Durasi: 130 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp35.000,-

When renowned crime novelist Harlan Thrombey dies just after his 85th birthday, the inquisitive and debonair Detective Benoit Blanc arrives at his estate to investigate. From Harlan's dysfunctional family to his devoted staff, Blanc sifts through a web of red herrings and self-serving lies to uncover the truth behind Thrombey's untimely demise.
***

Bagi saya, menonton film detektif akan menjadi salah satu hal yang menarik. Sebagai pecinta kisah Sherlock Holmes, tentu saya sangat senang ketika mengetahui ada satu film mengenai detektif yang bukan Holmes maupun Poirot. Bukankah mengenal sosok detektif baru di industri ini akan sangat menarik?

Sinopsis

Keluarga Thrombey. Sumber: nme.com

Suatu hari, Harlan Thrombey (Christoper Plummer) ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Maka dari itu, sebuah investigasi dilakukan untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi pada penulis novel misteri yang dikagumi di seantero kota

Film dimulai dengan adegan-adegan interogasi yang dilakukan oleh Letnan Elliott (LaKeith Stanfield). Interogasi tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga Thrombey yang tersisa, mulai dari Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), putri pertama Harlan; Richard Drysdale (Don Johnson), suami Linda; Walt Thrombey (Michael Shannon), putra ketiga Harlan; Joni Thrombey (Toni Collette, istri putra kedua Harlan; Meg Thrombey (Katherine Langford), putri Joni, hingga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat utama Harlan.

Interogasi ulang tersebut nyatanya sedikit demi sedikit telah mengungkap jalan cerita asli kematian Harlan. Hal inilah yang berupaya diungkap oleh Benoit Blanc (Daniel Craig), detektif swasta yang disewa oleh seseorang yang tak dikenal. Bukan soal uang yang membuat Blanc tertarik mengungkap kasus ini, akan tetapi adanya keanehan-keanehan yang ia temui dari investigasi yang ia lakukan.

Menunggu Twist yang Tak Kunjung Muncul

Sumber: google.com, edited by me.

Tentu, saya sebagai seorang penonton film merasa bahwa apa yang ditawarkan oleh Knives Out adalah sesuatu yang baru. Dalam artian, mencoba untuk mengangkat sosok detektif selain Holmes dan Poirot merupakan hal yang sangat berani. Akan ada banyak orang yang membanding-bandingkan kemampuan Blanc dengan kedua detektif tadi. Meskipun demikian, menurut saya, Benoit Blanc di sini berhasil menciptakan karakternya sendiri. Sebagai seorang detektif, ia cukup menganalisis dari beberapa fakta yang ia temukan. Ia tak perlu show off sepeerti Holmes di tiap aksinya.

Kemudian, para pemainnya sendiri saya akui telah memiliki porsi yang baik. Mereka semua memiliki peran yang signifikan dalam keseluruhan jalan cerita. Bahkan, sosok K. Callan yang memerankan Grannana Wannetta cukup mencuri perhatian. Bahkan, menjadi kunci dari keseluruhan kasus.

Akan tetapi, entah mengapa saya tidak bisa menikmati Knives Out seperti orang-orang lain yang lebih dulu menonton. Saya merasakan adanya kejanggalan yang cukup membuat saya terusik. Sebagai contoh, saya mengharapkan adanya twist di bagian akhir film. Twist yang setidaknya membuat saya jaw dropping. Sayangnya, sama seperti pendapat kenalan saya, I keep waiting for the twist, but there is no any. 

Iya. Bagi saya, twist yang disajikan oleh Rian Johnson tidak cukup membuat saya tercengang-cengang. Bahkan, menurut saya hal tersebut sangat mudah tertebak. Merupakan suatu hal aneh apabila Ransom Drysdale yang diperankan oleh aktor sekelas Chris Evan, tidak memiliki peran yang signifikan dalam cerita ini. Sayangnya, menurut saya, twist ini tidaklah se-grande yang saya harapkan.

Kemudian, satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah teknik kilas balik yang digunakan oleh Rian Johnson. Saya masih setuju, kok, dengan bagaimana diceritakan kemungkinan-kemungkinan motif yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga Thrombey. Akan tetapi, saya merasa bahwa informasi yang digali dari Marta terlalu banyak. Hal inilah yang membuat saya mengharapkan suatu bentuk plot twist maha dahsyat di akhir. Unfortunately, hal tersebut tidak terjadi.

Kesimpulan

Detektif Benoit Blanc. Sumber: cinemablend.com

Banyak yang memberikan penilaian bagus untuk film ini. Bahkan, reviewer favorit saya di YouTube, Cine Crib, memberikan skor hampir sempurna. Akan tetapi, kala ini saya tidak sependapat. Menurut saya, meskipun cerita yang disajikan telah utuh dan bahkan menggunakan teori donat yang unik, plot twist besar di akhir cerita kurang begitu berkesan bagi saya.

Meski demikian, bukan berarti film ini menjadi tidak layak ditonton. Saya masih menyukai sense detektifnya dan juga para pemainnya. Film ini masih mampu membangkitkan kenangan-kenangan saya terhadap kisah-kisah detektif yang selalu menjadi favorit saya. Kemudian, saya juga sangat suka dengan setting rumah Keluarga Thrombey. Rumah itu betul-betul terlihat antik dan menarik.

3 bintang untuk sosok Benoit Blanc dan aksennya yang unik.

Best regards,
Puji P. Rahayu

0 komentar: