Advertorial,

Review GoMassage: Layanan Asyik yang Enggak Dusta

Rabu, Oktober 30, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Review GoMassage ala saya. Ya, supaya kalian tahu kalau ini tidak dusta.

Dulu, setiap libur semester, saya selalu menyempatkan untuk pijat di tukang pijat langganan yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Oh ya, sekadar informasi, saya memang warga asli ibukota. Jadi, masa-masa ketika pulang ke kampung halaman itu menyenangkan. Bahkan, menjadi satu hal yang saya tunggu-tunggu.

Akan tetapi, kebiasaan tersebut lama-kelamaan menjadi hilang. Bukannya apa-apa. Ketika saya sudah mulai bekerja, saya tidak punya kebebasan selayaknya ketika saya masih berkuliah untuk pulang ke rumah. Jadilah saya lama sekali tidak merasakan dipijat lagi. Sungguh hal yang membuat saya cukup rindu rumah.

Masih saya ingat kala itu saya memang sering kali pulang malam. Sampai di indekos pukul 11 saja sudah merupakan keajaiban--yaa, untungnya RUU KUHP belum disahkan. Bisa-bisa saya dihukum karena ngelayap di waktu selarut itu. Intinya, waktu itu pola hidup saya memang enggak sehat. Pulang malam, begadang untuk mempersiapkan bahan kerjaan untuk esok harinya, makan tidak teratur, dan tidak rajin pula berolahraga. Alhasil, saya pun ambruk. Iya. Saya jatuh sakit. Rasa-rasanya saya tak sanggup untuk sekadar bangun. Akan tetapi, setelah saya periksa, tidak ada hal serius yang menimpa saya. Hanya saja saya memang kecapekan.

Setelah saya lumayan pulih, saya jadi teringat, kira-kira, apakah ada alternatif untuk membuat tubuh saya menjadi lebih segar? Hmm. Akhirnya saya teringat kalau GoLife menyediakan layanan untuk pijat alias GoMassage. Jujur, saya enggak pernah punya bayangan apakah saya akan puas dengan layanan ini. Akhirnya, setelah saya mencoba bertanya pada kakak saya, serta mencari review GoMassage di mesin pencarian, saya pun menabahkan hati untuk mencoba memesan layanan ini.

Review-GoMassage
Image: Canva, edited by me.
Well, saya enggak akan memungkiri kalau saya sedikit harap-harap cemas waktu memesan. Takutnya saya kecewa nantinya. Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya ada mitra GoMassage yang menerima pesanan saya. Kemudian, kami berkomunikasi secara singkat sembari saya memberikan arahan kepada Mbak Mitra--mari kita sebut demikian untuk menjaga privasi mbaknya. Eheheh.

Sebelum menuju indekos saya, Mbak Mitra sempat menanyakan kepada saya, apa saya punya preferensi untuk lulur yang akan ia gunakan nantinya. Oh, iya, sekadar info, saya waktu itu memesan paket Full Body Massage & Scrub. Jadi, Mbak Mitra menanyakan preferensi saya. Jujur, saya enggak punya preferensi. Jadi, saya manut apa kata Mbak Mitra.

Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Mbak Mitra sampai ke Indekos saya. Dia pun menjelaskan secara singkat mekanisme kerja yang akan ia lakukan. Full Body Massage akan memakan waktu kurang lebih 60 menit, dan proses scrub akan memakan waktu selama 30 menit. Oh iya, kalian bisa memilih dengan bebas lho durasi yang kalian mau untuk setiap layanan yang kalian pesan. Jadi, layanan GoLife ini akan menyesuaikan dengan kenyamanan kalian.

Akhirnya, proses massage dan scrub pun dilakukan. Sembari mengobrol, saya merasakan nyamannya pijatan dari Mbak Mitra. Hmm. Seenggaknya, dengan ada layanan ini, saya enggak perlu lagi bingung mencari tukang pijat. Apalagi, saya juga bisa mendapat layanan scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang mungkin sudah menumpuk. Alhasil, setelah selesai proses massage dan scrub, badan saya terasa lebih ringan dan lemas. Belum lagi, saya merasa kotoran-kotoran yang ada di kulit saya telah terangkat. Pokoknya, saya merasa lebih nyaman.

Jadi, intinya, mengapa sih saya ingin menobatkan layanan GoMassage sebagai layanan asyik yang enggak dusta. Berikut beberapa alasannya.

1. Menyesuaikan keinginan pelanggan

Pada dasarnya, layanan GoMassage ini beragam. Enggak cuma full body massage (ini masuknya di Body Rejuvenation), tapi juga ada Reflexology, Beauty Massage, Service at Event, dan juga Mom & Kids Massage. Intinya sih, banyak pilihannya. Durasi dari layanan ini juga bisa disesuaikan dengan selera. Mau cuma 90 menit, atau bahkan 120 menit, disilakan.

Pilihan layanan GoMassage. Image: Tangkapan layar ponsel saya.


2. Bisa dipanggil kapan saja


Sering pulang malam dari kantor dan di hari Sabtu-Minggu banyak acara, tenang saja. Layanan GoMassage akan menyediakan layanan kapan saja. Jadi, kamu bisa memesan layanan ini di waktu senggang kamu.

3. Harga yang terjangkau

Oh, ayolah. Semua juga pasti mencari kriteria yang satu ini dari suatu layanan jasa. Saya juga termasuk di antaranya. Nah, beruntungnya, banyak lho voucher yang ditawarkan oleh GoLife untuk menikmati layanan GoMassage ini. Jadi, dijamin deh harganya terjangkau.

Nah, kalau ditanya, apakah saya akan melakukan pemesanan layanan ini kembali? Tentu, apalagi kalau tubuh saya rasanya sudah mau rontok. Saya butuh pijatan dari terapis handal dari GoMassage.

Sekian dari saya untuk review kali ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Film Bebas,

Resensi Film: Bebas (2019)

Senin, Oktober 21, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu


0 komentar: