Pramoedya Ananta Toer,

Resensi: Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

Jumat, Maret 29, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bumi Manusia

"Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan." - Nyai Ontosoroh.

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul buku: Bumi Manusia
Genre: Fiksi sejarah
Seri: Tetralogi Pulau Buru
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal buku: 535 halaman
Tahun terbit: Oktober 2010, cetakan 16
ISBN: 979-97312-3-2
Pinjam dari Mbak Rina Noviyanti

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
"Kita kalah, Ma," bisikku. 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." 
***

Ada yang pernah berkata pada saya, "seharusnya kamu membaca tetralogi Pram ketika kamu masih kuliah." Saya hanya tersenyum ketika mendengarnya dan saya memang sedikit menyesal baru bisa membaca salah satu karya luar biasa dari penulis yang satu ini sekarang.

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." - Nyai Ontosoroh.
Bagaimana tidak, kontroversi mengenai buku ini pun diketahui oleh siapa saja. Bagaimana buku ini dilarang diedarkan pada zaman orde baru. Bagaimana kemudian Pram pun ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru.

Adalah Minke, seorang pemuda yang tinggal di Surabaya dan bersekolah di HBS. Ia sangatlah menghargai sastra dan terkadang tulisannya pun dimuat di harian lokal. Setidaknya, dari situlah Ia mendapatkan penghasilan, selain dari upayanya membantu memasarkan lukisan-lukisan yang dibikin oleh Jean Marais, seorang pelukis asal Perancis yang pernah bersekolah di Sorbonne.

"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini." - Jean Marais.
"Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya." - Jean Marais.
Suatu ketika, Minke berkesempatan untuk mampir ke Boerderij Buitenzorg, sebuah perusahaan Belanda yang dikelola oleh seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Semenjak kunjungannya tersebut, pada akhirnya Minke pun terlibat dengan berbagai kisah, mulai dari tinggal di Buitenzorg, hingga menikah dari putri Nyai Ontosoroh, Annelies.

Kalau ditanya apa reaksi saya ketika membaca novel ini, jujur saya bingung mau berkomentar seperti apa. Meskipun terasa sederhana, pada dasarnya kisah dalam novel ini memang terasa sangat penuh dan complicated. Ini bukan sekadar tentang kisah romansa antara Minke dan Annelies, tapi juga bagaimana kehidupan yang dapat terjadi di era penjajahan tersebut.

Era saat terdapat strata sosial yang terbentuk, mulai dari orang kulit putih, orang kulit berwarna, dan juga pribumi--tentu saya masih ingat permasalahan soal penggunaan terminologi pribumi beberapa tahun lalu. Nah, inilah yang kemudian dapat terungkap. Bagaimana seorang Minke memberontak karena status yang ia miliki.

Sedangkan Nyai Ontosoroh.. harus saya akui menjadi tokoh favorit saya dalam novel ini. Seorang perempuan jawa yang mau mendobrak tradisi dan berhasil "memerdekakan" dirinya sendiri. Saya bangga bias menemukan sosok seperti Nyai Ontosoroh.

"Kita kalah, Ma." 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." - Minke dan Nyai Ontosoroh.
Pada dasarnya, saya tahu ada banyak hal yang bias diambil dari novel ini. Mungkin, di kesempatan lain, saya bisa menambahkannya.

Yang pasti, 4 bintang untuk karya pertama Pram ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar: