Basabasi,

Resensi: Rumah Ilalang - Stebby Julionatan

Kamis, November 07, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Rumah Ilalang
Cinta boleh jadi menjadi urusan personal, akan tetapi kematian adalah urusan sosial.

Image: Goodreads
Judul: Rumah Ilalang
Penulis: Stebby Julionatan
Penerbit: Basabasi
Tebal buku: 136 halaman
Tahun terbit: 2019
Buntelan dari penulis

Selepas kematian Tabita, Tania tampak begitu terpukul. Jenazah Tabita tak bisa dimakamkan. Ia ditolak di mana pun. Tidak di pemakaman muslim, maupun hanya untuk mendapatkan pelayanan kematian dari gereja. Kolom agama di KTP Tabita memang Islam, tapi di tahun-tahun akhir hidupnya, banyak orang yang melihat Tabita rutin mengikuti misa Minggu. Pelayanan kematian itu tak dapat diberikan karena--meski Tabita rajin mengikuti misa, tak sekalipun ia terdaftar sebagai warga jemaat. Terlebih, ia adalah seorang waria.
Usaha Tania memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bagi sahabatnya untuk dimakamkan dengan layak, mempertemukannya pada kenyataan yang lain. Tentang latar belakang keluarganya, tentang keluarga Gosvino—pria seminarian yang mati-matian dicintai Tabita, tentang kelamnya rasa iri di antara para waria dan tentang dunia yang semakin tak manusiawi.
Semuanya seperti rumah yang dibangun dari ilalang. Rapuh. Mudah terbakar dan diterbangkan angin.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Bagi saya, Rumah Ilalang adalah penyegar di tengah peliknya pembahasan isu SARA yang ada di Indonesia.

Kala itu, saya berkesempatan untuk mengulas buku terbaru karya Stebby Julionatan yang diterbitkan oleh Basabasi. Menilik sinopsisnya, tentu saya penasaran akan apa yang ingin diangkat oleh Stebby dalam buku dengan sampul bergambar peti mati itu.

Dia adalah Tabita. Seorang transgender yang begitu teguh memegang prinsipnya. Ketika sang ayah, Hanung Bramantyo, tak dapat menerima keadaan Tabita--yang bernama asli Alang dan diambil dari nama Ilalang, maka Tabita memutuskan untuk pergi dari rumah dan mulai menata kehidupannya dari awal. Beruntung ada Mami Nancy yang membantu Tabita untuk bertahan hidup. Dalam kehidupan yang baru tersebut itulah, Tabita perlahan mulai memahami makna kehidupan yang sebenarnya. Mulai dari orientasi seksualnya, identitas gender yang ia ilhami, agama, hingga hal sesuci cinta. 

Tentu tidak mudah bagi seorang Tabita untuk menjalani peran dalam hidupnya. Akan tetapi, yang namanya manusia, pasti pada akhirnya dapat menemui kesulitan. Itulah yang dialami Tabita. Impiannya untuk bisa hidup damai bersama dengan orang yang ia cintai menjadi angin belaka. Sekarang, tubuhnya telah terbujur kaku. Tiada lagi rasa hangat yang menguar darinya. Ia telah berpulang kepada Sang Pencipta.

Bagi Tania, Tabita adalah sahabat terbaiknya. Mendengar kabar bahwa Tabita meninggal dunia merupakan hal yang tak ia sangka. Belum kesedihan tersebut berakhir, Tania harus menghadapi kenyataan bahwa jenazah Tabita menemui masalah ketika akan dikuburkan. Tabita memang menyandang agama Islam. Hal itu jelas tertera di dalam kartu identitasnya. Akan tetapi, beberapa waktu terakhir semasa hidupnya, Tabitha rajin beribadah di gereja. Sayangnya, ia juga tak bisa dimakamkan secara Nasrani karena ia tidak terdaftar sebagai jemaat. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Tania?

***

Mengangkat tema yang sensitif seperti agama dan juga SOGI (Sexual orientation and gender identity) merupakan hal yang cukup jarang dilakukan oleh penulis di Indonesia. Apalagi, dengan semakin maraknya narasi-narasi "kebangsaan" dan "kaum mayoritas" yang selalu menghiasi berbagai kanal media. Rasanya memang tidak mungkin karya seperti Rumah Ilalang dapat betul-betul hadir di hadapan pembaca. Akan tetapi, nyatanya Stebby berhasil mengangkat isu tersebut dan menjadikan Rumah Ilalang sebagai pembelajaran.

Menggunakan alur flashback, Stebby mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan Tabitha. Namun demikian, Stebby tak hanya berfokus pada sudut pandang Tabita saja. Ia juga mengambil cerita dari sudut pandang Tania, Mami Nancy, orang tua Tabita, bahkan dari sudut pandang Gosvino, pria yang dikasihi oleh Tabita.

Memang penggunaan banyak sudut pandang ini membuat cerita sulit terfokus. Akan tetapi, dengan demikian, pembaca akan lebih memahami emosi dari masing-masing tokoh. Sekilas, saya melihat profil Stebby yang dulunya juga pernah menuliskan kumpulan puisi. Tak heran apabila bahasa yang ia gunakan cukup puitis dan juga mendayu. Bukanlah suatu masalah besar karena hal tersebut malah membuat cerita ini menarik dengan sendirinya.

Meskipun tipis, saya cukup menikmati kala membaca Rumah Ilalang ini. Ceirtanya mengalir tanpa bermaksud menggurui. Saya cukup salut dengan cara Stebby mengeksekusi akhir kisah Tabita. Ada sedikit plot twist yang tidak saya tebak ketika saya membacanya.

Saya tidak tahu apakah buku ini menjadi suatu hal yang kontroversial atau tidak--bagaimanapun isu yang diangkat lumayan sensitif bagi kaum yang merasa bahwa diri mereka benar itu. Akan tetapi, untuk pembaca yang gemar mendalami isu-isu ini, saya sarankan untuk sejenak membuka lembar demi lembar kisah Tabita ini. Saya rasa, sebagai sebuah perenungan, Rumah Ilalang telah berhasil menjalankan perannya.

Kalau untuk segi penyuntingan, nampaknya telah dibahas lebih lanjut oleh peresensi lain. Ya, saya juga setuju dengan beberapa pendapat mereka. But, I believe, Stebby can do more than this. Semoga ke depannya menjadi lebih baik :)

3 bintang untuk ketabahan Tabita dan juga Tania.

Kindly note:
I've got this book directly from the author, but unfortunately, I didn't realized that my landlady has received this book from more or less one month ago. After, Mas Dion reminded me to review this book, I tried to check it in the lobby of my rent room. Then, I found this book under other's package. So, I apologize for the delay review.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Advertorial,

Review GoMassage: Layanan Asyik yang Enggak Dusta

Rabu, Oktober 30, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Review GoMassage ala saya. Ya, supaya kalian tahu kalau ini tidak dusta.

Dulu, setiap libur semester, saya selalu menyempatkan untuk pijat di tukang pijat langganan yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Oh ya, sekadar informasi, saya memang warga asli ibukota. Jadi, masa-masa ketika pulang ke kampung halaman itu menyenangkan. Bahkan, menjadi satu hal yang saya tunggu-tunggu.

Akan tetapi, kebiasaan tersebut lama-kelamaan menjadi hilang. Bukannya apa-apa. Ketika saya sudah mulai bekerja, saya tidak punya kebebasan selayaknya ketika saya masih berkuliah untuk pulang ke rumah. Jadilah saya lama sekali tidak merasakan dipijat lagi. Sungguh hal yang membuat saya cukup rindu rumah.

Masih saya ingat kala itu saya memang sering kali pulang malam. Sampai di indekos pukul 11 saja sudah merupakan keajaiban--yaa, untungnya RUU KUHP belum disahkan. Bisa-bisa saya dihukum karena ngelayap di waktu selarut itu. Intinya, waktu itu pola hidup saya memang enggak sehat. Pulang malam, begadang untuk mempersiapkan bahan kerjaan untuk esok harinya, makan tidak teratur, dan tidak rajin pula berolahraga. Alhasil, saya pun ambruk. Iya. Saya jatuh sakit. Rasa-rasanya saya tak sanggup untuk sekadar bangun. Akan tetapi, setelah saya periksa, tidak ada hal serius yang menimpa saya. Hanya saja saya memang kecapekan.

Setelah saya lumayan pulih, saya jadi teringat, kira-kira, apakah ada alternatif untuk membuat tubuh saya menjadi lebih segar? Hmm. Akhirnya saya teringat kalau GoLife menyediakan layanan untuk pijat alias GoMassage. Jujur, saya enggak pernah punya bayangan apakah saya akan puas dengan layanan ini. Akhirnya, setelah saya mencoba bertanya pada kakak saya, serta mencari review GoMassage di mesin pencarian, saya pun menabahkan hati untuk mencoba memesan layanan ini.

Review-GoMassage
Image: Canva, edited by me.
Well, saya enggak akan memungkiri kalau saya sedikit harap-harap cemas waktu memesan. Takutnya saya kecewa nantinya. Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya ada mitra GoMassage yang menerima pesanan saya. Kemudian, kami berkomunikasi secara singkat sembari saya memberikan arahan kepada Mbak Mitra--mari kita sebut demikian untuk menjaga privasi mbaknya. Eheheh.

Sebelum menuju indekos saya, Mbak Mitra sempat menanyakan kepada saya, apa saya punya preferensi untuk lulur yang akan ia gunakan nantinya. Oh, iya, sekadar info, saya waktu itu memesan paket Full Body Massage & Scrub. Jadi, Mbak Mitra menanyakan preferensi saya. Jujur, saya enggak punya preferensi. Jadi, saya manut apa kata Mbak Mitra.

Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Mbak Mitra sampai ke Indekos saya. Dia pun menjelaskan secara singkat mekanisme kerja yang akan ia lakukan. Full Body Massage akan memakan waktu kurang lebih 60 menit, dan proses scrub akan memakan waktu selama 30 menit. Oh iya, kalian bisa memilih dengan bebas lho durasi yang kalian mau untuk setiap layanan yang kalian pesan. Jadi, layanan GoLife ini akan menyesuaikan dengan kenyamanan kalian.

Akhirnya, proses massage dan scrub pun dilakukan. Sembari mengobrol, saya merasakan nyamannya pijatan dari Mbak Mitra. Hmm. Seenggaknya, dengan ada layanan ini, saya enggak perlu lagi bingung mencari tukang pijat. Apalagi, saya juga bisa mendapat layanan scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang mungkin sudah menumpuk. Alhasil, setelah selesai proses massage dan scrub, badan saya terasa lebih ringan dan lemas. Belum lagi, saya merasa kotoran-kotoran yang ada di kulit saya telah terangkat. Pokoknya, saya merasa lebih nyaman.

Jadi, intinya, mengapa sih saya ingin menobatkan layanan GoMassage sebagai layanan asyik yang enggak dusta. Berikut beberapa alasannya.

1. Menyesuaikan keinginan pelanggan

Pada dasarnya, layanan GoMassage ini beragam. Enggak cuma full body massage (ini masuknya di Body Rejuvenation), tapi juga ada Reflexology, Beauty Massage, Service at Event, dan juga Mom & Kids Massage. Intinya sih, banyak pilihannya. Durasi dari layanan ini juga bisa disesuaikan dengan selera. Mau cuma 90 menit, atau bahkan 120 menit, disilakan.

Pilihan layanan GoMassage. Image: Tangkapan layar ponsel saya.


2. Bisa dipanggil kapan saja


Sering pulang malam dari kantor dan di hari Sabtu-Minggu banyak acara, tenang saja. Layanan GoMassage akan menyediakan layanan kapan saja. Jadi, kamu bisa memesan layanan ini di waktu senggang kamu.

3. Harga yang terjangkau

Oh, ayolah. Semua juga pasti mencari kriteria yang satu ini dari suatu layanan jasa. Saya juga termasuk di antaranya. Nah, beruntungnya, banyak lho voucher yang ditawarkan oleh GoLife untuk menikmati layanan GoMassage ini. Jadi, dijamin deh harganya terjangkau.

Nah, kalau ditanya, apakah saya akan melakukan pemesanan layanan ini kembali? Tentu, apalagi kalau tubuh saya rasanya sudah mau rontok. Saya butuh pijatan dari terapis handal dari GoMassage.

Sekian dari saya untuk review kali ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Film Bebas,

Resensi Film: Bebas (2019)

Senin, Oktober 21, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu


0 komentar:

Falcon Pictures,

Bumi Manusia: Eksplorasi Romantisme Minke dan Annelies

Selasa, Agustus 20, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bumi Manusia
Ketika nasionalisme menjadi suatu diskursus yang akan selalu dipertanyakan.

Bumi Manusia. Image: IMDb
Judul: Bumi Manusia
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Salman Aristo
Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti
Tanggal rilis: 15 Agustus 2019
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer
Produksi Falcon Pictures
Ditonton di Kemang Village XXI

This is a story of Minke and Annelies who weave love in the early 20th century colonial turbulance. Minke is a native youth, purebred Javanese. While Annelies is a mixed-Dutch girl, the daughter of a nyai (mistress), called Ontosoroh. Minke's father, who has just been appointed as regent, is always against Minke's closeness to the Nyai's family, because a Nyai's position at the time is seen to be as low as pet animals. But this one nyai, Nyai Ontosoroh, Annelies' mother, is different. Minke admires all of her thoughts and struggles against the arrogance of colonial hegemony. To Minke, Nyai Ontosoroh is the reflection of modernization, which at the time is just beginning to rise. When the arrogance of colonial law tries to wrench Annelies from Minke's side, Nyai Ontosoroh is also the one who urges Minke to keep going and shout the word, "Fight!"
***

Hari itu, salah seorang kenalan menawarkan satu tiket nonton gratis film Bumi Manusia di Kemang Village. Berhubung kantor tempat saya magang tak jauh dari lokasi tersebut, saya memutuskan untuk menonton salah satu film yang digadang-gadang menjadi karya terbesar tahun ini.

Bagi para pecinta sastra, rasanya tak akan lengkap bila tak membahas sosok Pramoedya Ananta Toer. Pram adalah seorang sastrawan yang dicinta sekaligus dibenci. Ia memiliki pemikiran yang tak biasa dan tentunya sanggup menuliskan imaji-imajinya secara apik dalam tetralogi Pulau Buru.

Saya harus mengakui, saya bukanlah orang yang pintar berkontemplasi. Apabila dibandingkan dengan teman-teman saya, kemampuan saya mengenai hal itu akan berbeda jauh. Ketika saya membaca Bumi Manusia, saya harus terseok-seok memahami apa yang ingin disampaikan Pram. Begini, saya adalah orang yang masih mempertanyakan apa itu bangsa. Iya, what is nation? Pada dasarnya, bangsa Indonesia itu yang mana? Terdiri dari siapa? Atau bahkan, apa itu bangsa Indonesia? Saya bukannya tidak mempercayai nasionalisme--saya sedikit jengah dengan narasi NKRI harga mati atau lainnya, tapi saya percaya bahwa negara ini masih dalam tahap nation-building. Memadukan pemahaman akan bangsa Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal ini dapat dilihat dari kerusuhan yang tercipta baru-baru ini. Bukankah itu juga berujung pada pertanyaan akan diskursus nasionalisme?

Sudah-sudah. Kalau diteruskan, akan menambah panjang ketidakmengertian saya akan diskursus ini sendiri. 

Darsam dan Minke. Image: BookMyShow
Kembali ke film Bumi Manusia. Tentu, bagi para penonton yang sudah membaca karya Pram itu, rasanya tidak mungkin untuk mengadaptasi karya semegah Bumi Manusia ke dalam film. Saya pun cenderung skeptis ketika Iqbaal Ramadhan didaulat menjadi Minke. Begini, bukannya, lagi-lagi, saya merasa bahwa Iqbaal tidak memiliki kapasitas dalam berakting, hanya saja saya merasa akan sulit baginya menghidupkan sosok Minke. Sosok Nyai Ontosoroh pun juga sedikit-banyak saya takutkan perannya--karena saya masih terbayang sosok Happy Salma dalam teater Bunga Penutup Abad yang memainkan sosok perempuan kuat itu.

Akan tetapi, sebagaimana yang seharusnya, saya pun mencoba menonton Bumi Manusia tanpa adanya ekspektasi yang terlalu tinggi. Takut kecewa, itu saja.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas alurnya karena secara apik, nyatanya Salman Aristo, sang penulis naskah, berhasil mencoba merangkum kisah Bumi Manusia menjadi film berdurasi tiga jam. Well, saya akui kok kalau saya merasakan kebosanan di tengah film--dibuktikan dengan saya rela meninggalkan tempat duduk barang sepuluh menit untuk ke toilet. Akan tetapi, apabila memang penonton ingin melihat betapa manisnya hubungan Minke dengan Annelies (Mawar Eva De Jongh), Hanung Bramantyo selaku sutradara berhasil menyajikannya dengan apik. Bahkan menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini--atau begitulah yang disampaikan oleh salah satu resensi yang sempat saya baca sebelumnya.

Annelies dan Minke. Image: The Jakarta Post
Lalu, saya sangat suka dengan Sha Ine Febriyanti yang berhasil menghidupkan Nyai Ontosoroh dengan begitu hebatnya. Mungkin, bagi para pembaca Bumi Manusia, sosok Sha Ine lah yang pantas mendapatkan standing ovation. Bukan Iqbal maupun Mawar. Iya, bagi saya, bukannya kedua pemeran utama itu tak melakukan akting terbaiknya, hanya saja terasa ada yang kurang dari karakter mereka dalam film ini. 

Nyai Ontosoroh. Image: Falcon Pictures.


Kalau ada yang ingin saya keluhkan, maka saya akan menyebutkan CGI dari film ini. Iya, saya tahu pasti tidak mudah memunculkan kembali nuansa zaman dahulu kala di zaman serba modern ini. Akan tetapi, kalau ditonton lebih jauh, CGI tersebut malah cenderung mengganggu. Belum lagi, lokasi danau tempat Minke dan Annelies sering memadu kasih, danaunya terlihat... sungguh tak nyata. Saya jadi tidak bisa mendapatkan feel ketika menontonnya. 

Kemudian, sosok Jean Marais yang seharusnya menjadi salah satu tokoh penting, malah tak nampak signifikansinya. Ia pun muncul hanya untuk menekankan kutipan "adil sejak dalam pikiran". Itu saja. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Lalu, apa kesimpulan saya untuk film epic ini? Saya akui bahwa saya memang sudah seharusnya mengapresiasi upaya para sineas film ketika menghidupkan sosok-sosok dalam kisah gubahan Pram tersebut. Terlepas dari kekurangan yang menyertainya.

Saran saya, tontonlah film ini sebagai bentuk hiburan. Jangan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi apabila memang kamu telah membaca novelnya. Bagi yang belum membaca, coba nikmati film panjang berdurasi tiga jam ini dengan bahagia.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Fantasy,

Fortunately, The Milk: Fantasi Anak Khas Neil Gaiman

Rabu, Agustus 14, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Fortunately, The Milk

oleh Neil Gaiman
3 dari 5 bintang


Image: Goodreads
Judul: Fortunately, The Milk
Judul terjemahan: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaimana
Ilustrator: Skottie Young
Alih bahasa: Djokolelono
Tebal buku: 128 halaman
Tahun terbit 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1225-5
Beli di TB. Gramedia Depok

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.” 

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.” 

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

***

Sosok Neil Gaiman merupakan salah seorang penulis fantasi yang banyak digandrungi oleh para pembaca fantasi. Mitologi Nordik, American Gods, maupun Neverwhere merupakan beberapa karyanya yang terkenal. Penulis asal Inggris ini memang mendedikasikan karyana di genre fantasi, horor, maupun fiksi ilmiah. Lalu, apakah ada kisah fantasi yang pas untuk anak-anak?

Menemukan nama Neil Gaiman di tumpukan buku obral di Gramedia merupakan hal yang tidak biasa--setidaknya untuk saya. Jujur saya memang belum pernah membaca karya Gaiman sebelumnya. Meskipun banyak yang bilang kalau Mitologi Nordik dan American Gods itu seru. Yaa, bagaimanapun, I still a romance reader. 

Seperti yang saya bilang tadi, saya tak sengaja menemukan novel ini di tumpukan obralan Gramed. Berbekal uang IDR20,000 saja, akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang novel dengan sampul penuh ilustrasi ini. 

Saya tidak terlalu ingat berapa lama saya mendiamkan novel ini di tas saya--saya bahkan baru ingat ketika membongkar tas yang sudah jarang saya pakai itu. Akhirnya, karena saya harus menempuh perjalanan yang cukup lumayan menuju kantor, saya putuskan menghabiskan waktu dengan membaca. 

Well, premis yang ditawarkan oleh Gaiman ini pada dasaarnya sederhana. Ini hanya tentang perjalanan Ayah yang membelikan susu bagi anak-anaknya. Akan tetapi, ternyata sang Ayah harus melewati berbagai petualangan tak terduga untuk membawa pulang susu yang telah ia beli. Iya, petualangan itu melibatkan pertemuan dengan para bajak laut, hingga Profesor Stegosaurus yang nyentrik dan mengendarai Bola-Apung-Pengangkut-Orang.

Nah, yang membuat menarik, Ayah bersama dengan Profesor Steg harus menjelahi waktu pula untuk betul-betul bisa kembali ke tempat Ayah berasal. Wah, hal yang tak disangka-sangka, bukan?

Image: pinterst, edited by me
Yaa, sebagai sebuah novel fantasi anak, Fortunately, The Milk tidak menyajikan cerita yang rumit. Saya sih senang-senang saja saat membacanya. Bagaimanapun, kali ini saya sedang malas berpikir ketika membaca. Saya cuma butuh bacaan ringan yang menghibur. Secara cerita, saya tidak terlalu terkesan juga dengan ceirta ini. Biasa saja. Tapi mungkin, ilustrasi yang dibuat oleh Skottie Young cukup menarik untuk dilihat. 

Dapat dibilang, novel ini merupakan novel untuk sekali duduk. Ukuran huruf yang sangat child-friendly ini akan membuatmu lebih mudah membacanya sampai habis dalam satu waktu.

Lalu, apakah saya akan mencoba untuk membaca karya Gaiman lainnya? Mungkin iya. Akan tetapi, saya butuh waktu untuk mengembalikan mood saya, baik dalam membaca maupun menulis blog.

Sekian resensi untuk novel anak ini. Tiga bintang untuk Profesor Steg yang ternyata seorang ibu-ibu!

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Top Ten Tuesday,

[Top Ten Tuesday] Top Ten Book Characters That Remind Me of Myself

Rabu, Mei 08, 2019 Puji P. Rahayu 2 Comments

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl since January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together.

***
Howdy, guys!

Well, this is my second TTT post after the so long hiatus. To be honest, I don't really have idea about this topic because I rarely describe myself to be one of character that I read. But still, I'll try to make a list here.

So, let's check this out!

1. Luna Lovegood from Harry Potter Series by J.K. Rowling

Actually, I don't really look like Luna. I mean, I don't have that unique style, tho. But, I think I can relate with her uniqueness. Sometimes, everyone sees her as a weird person and I feel the same too some extent. I don't really give a damn about my style itself. I can go out with the random mix and match style and I don't care what the others would say about it. Well, that's the point that I think i have in common with Luna. We have our own world.

2. Edita from Fly to The Sky by Nina Ardianti and Moemoe Rizal

Character from Indonesian novel. Yap, Edita is a drama queen. She can be really nosy and annoying. But, she will really care to her friend. Well, just say that I am drama queen too and sometimes, I too much care of someone just like Edita. Sigh.

3. Alranita from Resign by Almira Bastari

No big reason why this characters remind me of myself. Why? Because this character reminds me because of her nickname. Yep, we share the same nickname, which is "Ra". Most of my online friends call me as "Ra" and I just can't help to smile when reading Alranita's nickname.

4. Audy from Sunset Holiday by Nina Ardianti dan Mahir Pradana

Audy is an impulsive person and she is very childish. She decided to do Eurotrip alone. At first, it's very hard for her to convince her family because she is the youngest one and once again, she is really childish. But after many discussion here and there, her family let Audy go. 

Okay, maybe I ain't doing Eurotrip like Audy but I can relate with what Audy feel. I am the youngest one in my family and it's really hard for them to let me live by myself since college. Yep, I have to convince them even though I am a childish, I still can be an independent person after all.

5. Audy from The Chronicles of Audy by Orizuka

Well, me and this Audy actually have the same major in college, which is International Relations. I can enjoy Audy's story because of her background. At least, I am very happy to read her analysis about some international event. I just like it.

6. Rahayu from Entrok by Okky Madasari

Hmm, maybe the reason why this character remind me of myself is, once again, the name. How could I didn't relate with Rahayu if in the fact we share the same name? To be honest, I don't really like Rahayu at Entrok. She is just.. hmm.. easily affected by other people. But one thing that I can be sure, she is really stick to what she believe. I can relate with that because I only believe what I believe and no one wouldn't easily make me turn around and broke my believing.

7. Jamie Sullivan from A Walk to Remember by Nicholas Spark

Oh, please, don't look me like that. I am not sick like her! Just be calm. Well, why Jamie can remind me of myself? Because Jamie is a social person. She will be really selfless for others happiness. Maybe I ain't that selfless person, but I want to be like her. I want to help each other without try to ask anything back. 

8. Jenny from Elegi Rindaldo by Bernard Batubara

The hesitation to marry. Well, I know that I am still young, but I could relate with Jenny. She don't want to marry because she hasn't find the exact meaning of marriage. For me, I am thinking the same thing. I know that I want to marry, but there's still some hesitation for me to do it. Is that marriage will solve any problems in my life? To be honest, it's not.

9. Miya from Lara Miya by Erlin Natawiria

I could describe Miya as an energetic person yet vulnerable. She is cheerful yet full of sorrow. I could relate with this character because I am an INFJ. With this unique personality, I have to admit that I could show two different kind of personalities. I could be really cheerful in one moment, then I can be quite and sad. Well, just like Miya actually.

10. Rere from Simple Lie by Nina Ardianti

I could relate because Rere's background is the same with me. Yes, she attend college in Universitas Indonesia. Which is, the same university as me. We have different major but I still can relate with her life as a university student.

Fyuuh. Finally I can finish the top ten list. I have to admit that this topic is really hard. I am really sorry for choosing a lot of Indonesian book - please, nowadays I rarely to read a book. So, I only choose character that popped up in my head.

So, how about you, guys? Which character that remind you of yourself?

Sincerely,

Puji P. Rahayu


2 komentar:

Fantasy,

Incognito: Kisah Para Penjelajah Waktu

Selasa, Mei 07, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Incognito

"Memang menyukai seseorang bisa secepat dan semudah itu? Manusia itu kadang terlalu sering mencari di luar jangkauannya, padahal biasanya apa yang dia cari justru selama ini selalu ada di dekatnya." - Carl.

oleh Windhy Puspitadewi

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul: Incognito
Penulis: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasy, Sciene Fiction, Adventure
Tebal buku: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 29 Mei 2014 (sampul baru)
ISBN: 9786020305233
Baca via Gramedia Digital


Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!
Semua bermula ketika mereka harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah. Seorang pemuda bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu.
Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku. Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan, dan diri mereka sendiri.


***

Penjelajahan waktu tentunya bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Kalian setuju, bukan?

Yap, setelah kemarin saya menonton Avengers: Endgame - yang isinya kurang lebih bagaimana cara kita bisa "mencuri" waktu, maka saya pun teringat dengan novel teenlit yang satu ini. Entah mengapa, saya ingin membaca kembali kisah dari Erik, Sisca, dan juga Carl.

Suatu ketika, Erik dan Sisca yang sebenarnya tidak akur, tergabung dalam satu kelompok untuk tugas sejarah, yakni tugas observasi peninggalan bersejarah. Meskipun sering berdebat satu sama lain, Erik dan Sisca tetap sebisa mungkin untuk mengerjakan tugas tersebut dengan baik. 

Jadilah kemudian Erik mengajak Sisca ke kawasan Kota Lama Semarang untuk mengambil foto. Nah, ternyata, apa yang mereka temui bukan sekadar tentang observasi peninggalan bersejarah, akan tetapi sosok pemuda yang jelas-jelas bukan orang dari masa yang sama dengan Erik dan Sisca, Yap, Carl, nama pemuda itu, datang dari masa lalu. Atau tepatnya dari tahun 1893 karena Carl menggunakan mesin waktu!

Erik dan Sisca awalnya sempat kebingungan dengan kehadiran Carl, akan tetapi, kemudian mereka malah ikut terjerumus dalam penjelajahan waktu yang dilakukan oleh Carl. Bertemu orang-orang besar pun menjadi salah satu pengalaman yang mereka dapatkan, mulai dengan bertemu Archimedes, Miyamoto Musashi, Tom Sawyer, hingga Charles Darwin.

Penjelajahan waktu tersebut pada akhirnya membawa baik Erik, Sisca, dan Carl menemukan berbagai hal. Mulai dari penjelasan mendasar mengenai berbagai macam ilmu dan tentunya fakta sejarah, hingga peristiwa-peristiwa yang hampir mengancam nyawa mereka. Melalui penjelajahan waktu itu pulalah mereka menemukan arti yang sebenarnya dari persahabatan dan konsep menghargai waktu.

Yang pasti, satu hal yang harus selalu diingat bahwa waktu itu memiliki dimensinya tersendiri. Kemudian, waktu pun juga memiliki efek domino. Sehingga, apa yang berubah dalam satu waktu di masa lalu, maka dapat mempengaruhi masa sekarang, dan juga masa depan.

Incognito. (image: wallpaperaccess / edited by me)
To be honest, dulu ketika awal saya membaca novel ini, saya senang-senang saja membacanya. Bahkan, saya kategorikan sebagai salah satu novel favorit saya karena Incognito berhasil mendobrak tema-tema umum dari novel teenlit. Iya, kebanyakan novel teenlit yang ada ketika itu hanya sekadar membahas romantisme remaja belaka. Sedangkan, novel ini berhasil membuat saya tertarik karena adanya topik penjelajahan waktu yang diangkat.

Bagi saya, mengangkat tema ini bukanlah suatu hal yang mudah. Sang penulis harus mampu menghubungkan serta mencari celah dari berbagai peristiwa supaya adegan-adegan di dalam novel ini menjadi masuk akal. Tentu, hal tersebut membutuhkan riset yang lama dan juga kejelian dalam melihat suatu kronik sejarah. Saya salut dengan usaha Kak Windhy untuk menghadirkan jenis cerita ini dalam Incognito.

Jujur saja, saya merasa bahwa Kak Windhy berhasil mengisi celah yang tepat dari bagian-bagian sejarah yang ia pilih. Sehingga, tidak terkesan dipaksakan. Akan tetapi, mungkin saya sedikit setuju dengan beberapa peresensi yang menyatakan bahwa identitas asli Hans C. Zentgraaf dan juga Fran terlalu obvious. That surprise element couldn't spark that much when I read this book for the second time.

But after all, I still like this novel. Seenggaknya, saya tahu bahwa usaha dari sang penulis untuk menciptakan buku ini tidaklah mudah. Lagipula, bisa dibilang bahwa buku ini termasuk novel fiksi pengetahuan - karena secara tidak langsung saya mempelajari sejarah dari buku ini.

Jadi, empat bintang untuk tokoh Erik yang sengak dan menyebalkan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Marvel Cinematic Universe,

Movie Review: Avengers: Endgame (2019)

Minggu, Mei 05, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Avengers: Endgame

"If I tell you what happens, it won't happen." - Dr. Strange.

Image: People
Title: Avengers: Endgame
Genre: Fantasy, Science-fiction
Series: Marvel Cinematic Universe
Director: Anthony and Joe Russo
Screenplay: Christoper Marcus and Stephen McFeely
Stars: Robert Downey, Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Brie Larson, Danai Gurira, and others.
Ticket: IDR 45.000.00 at Cinemaxx Depok Town Square

Based on The Avengers by Stan Lee and Jack Kirby.


After the devastating events of Avengers: Infinity War (2018), the universe is in ruins. With the help of remaining allies, the Avengers assemble once more in order to undo Thanos' actions and restore order to the universe.


***

Marvel Cinematic Universe is one of the longest super hero series that does exist in Hollywood. Even though those series is very popular and most of my friends are following this series, I ain't part of them. I am not a big fan of super hero movie, to be honest. I don't really interest with this kind of genre.

Then, one day, one of my friend invite me to watch this movie along with our others friend. She invited me to watch Avengers: Endgame - the latest movie from MCU. At first, I feel a little bit hesitate to watch, but since I have a spare time and need some refreshment, I decided to agree and help her to order the tickets. 

Actually, from all off 22 movies, I only - literally watch - two of them, which are Dr. Strange and Black Panther. So, honestly, I don't have any idea how to interpret Avengers: Endgame because I didn't follow the previous movies - that exactly related to this movie, such as Avenger: Infinity War.

When the movie begin, I have to admit that I am clueless. I don't know how the story goes on and who is the important character there. But, seems like Marvel still can captivate me because, as the movie goes on, I started to understand the whole story. Even though I still raised my eyebrow sometimes - because I didn't recognized the character - but after all, I can enjoy the movie.

The story begins with the remaining Avenger - Bruce Banners (Mark Ruffalo), Steven Rogers (Chris Evans), Rocket (voiced by Bradley Cooper), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanov (Scarlet Johansson), and James Rhodes  (Don Cheadle) - went to where Thanos living in seclusion. They intend to retake the infinity stone to reverse what Thanos did. Unfortunately, Thanos has been destroyed all of the stone to prevent further use. After that, Thor couldn't manage his anger and suddenly beheaded Thanos.

Five years later, some miracle happen. Scott Lang (Paul Rudd) has succeeded escapes from the quantum realm. Then, Lang got an idea to travel back in time and stopping Thanos in the past. Even though there is some reluctance from Tony Stark (Robert Downey Jr.) to build the time machine, but after he talked with his wife, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow), he finally agree to help build the time machine. 

All of the Avengers agree to take the infinity stone in the past and try to undo what Thanos did in the future. Banners, Rogers, Lang, and Stark went to New York City in 2012. They intended to take the Time Stone, Mind Stone, and also the Space Stone. Then, Rocket and Thor travel to Asgard in 2013. They tried to retrieve the Reality stone from Jane Foster. Nebula and Rhodes travel to Morag in 2014. They tried to steal the Power Stone before Peter Quill can. Last, Barton and Romanoff went to Vormir and tried to get to Soul Stone.

Avengers: Endgame. (image: Visual Cocain, edited by me)
Well, just like another movie, their first step was going really smooth. But, until Nebula (Karen Gillan) got some connection with her past self. This connection at the end, make Thanos knows about what the future would be and the temptation from the Avengers to undo his action in the future. In the result, the future Nebula is trapped in the past and the past Nebula disguise as her future self and try to broke the Avenger's plan.

To be honest, I like the way Marvel execute this movie. With the more or less three hours duration, I think this movie is kind of worth it. I could feel the thrilling scene, the funny part - especially about Thor, and also their frustration when everything couldn't goes pretty well. I like the movie as a whole - and make me curious about the previous movie.

But, maybe, about the time travel itself, I still couldn't understand, how can the future and the past Nebula could meet? I think, it's just impossible. Even though there's some explanations that will be another different concept of time, still, I think the past could affecting the present, and then the future. So, most likely it would be possible if the past Nebula can meet the Future Nebula.

Then, although I didn't following the movies from the very start, it still feel very heart-breaking when Tony Stark couldn't make it until the end. He deserves all of the greatness after all. Well, he is someone who will care other first rather than himself. 

So, if anyone ask me, do you now interest to watch the other MCU movies? I would like to say, "Yes, I do!". Maybe it's so damn too late to watch it, but I think it doesn't mater after all.

How about you, guys? Are you the MCU fans? Well, maybe we can discuss about this universe together.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Top Ten Tuesday,

[Top Ten Tuesday] Top Ten Inspirational & Thought-Provoking Quotes From Book

Rabu, Mei 01, 2019 Puji P. Rahayu 2 Comments


Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl since January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together.



***

It's been a long time since I do blog walking. Then, I realized that my favorite book meme, the so-called Top Ten Tuesday has been hosted by another blogger. I knew about Top Ten Tuesday when I read one of article that written by my favorite blogger, Mas Ijul from fiksimetropop.com. Since then, I started to curious with this book meme and eager to join. But, since all of you know that I got blogging slumps, I rarely write this book meme again. That's why, I've just known that since January 2018, the host of book meme is changed. So, this is my first book meme after spending much time to break from blogging.

So, this week topic is about top ten inspirational & thought-provoking quotes from book. I have to admit that this topic is kinda hard to define. I have a lot of favorite quotes, but, maybe I can share some of it with you.

1. "Sudah merupakan kebiasannya untuk menghukum seseorang dengan mengambil sesuatu yang berharga bagi orang tersebut, sehingga pesan yang ingin disampaikannya mengena." - Kent.

"It is his habit to punish someone with taking the precious thing of them, so, the message that he want to send is indeed received."

Eiffel, Tolong! - Clio Freya.

2. "Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?" 

"But how I can admire You If I never know You from the very start?"

Entrok - Okky Madasari.

3. "Hiduplah untuk setiap detiknya. Bila dalam detik ini hidup tidak berpihak padamu, percayalah pada detik berikutnya hidup akan menjadi lebih baik."

"Just live for every second. If in this second life is not take a side on you, just believe that in the next second, life will be better."

From Paris to Eternity - Clio Freya.

4. 'Call him Voldemort, Harry. Always use the proper name for things. Fear of a name increases fear the thing itself.' - Dumbledore.

Harry Potter and the Philosopher's Stone - J.K. Rowling.

5. "Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh."

"I don't want to be like them. Falling in love each other, then losing each other, and now, they only can remember and think from afar."

Pulang - Leila S. Chudori.

6. I'm tired of feeling things that I should never feel. I'm tired of hoping things that I should never hope. I'm tired of loving the one I should never love. I'm tired of missing the one I should never miss. I'm tired of being tiredly tired to feel tired of something so tiring.

Stories of Rainy Days Volume I - Naela Ali.

7. Dan hati yang hancur terkadang mengobati diri dengan asal-asalan.

"And the broken heart, they heal themselves in a crooked and lopsided way."

Kate Dicamillo dalam Love Theft - Prisca Primasari.

8. Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali

Laut Bercerita - Leila S. Chudori

9. Kalau kamu enggak bisa tertawa berulang-ulang untuk hal yang sama, lalu mengapa kamu terus menangis berulang-ulang untuk masalah yang sama?

"If you can't laugh repeatedly for the same thing, so why you still crying for the same trouble repeatedly?"

Fly to the Sky - Nina Ardianti dan Moemoe Rizal

10. To forget a friend is sad. Not every one has had a friend. And if I forget him, I may become like the grown-ups who no longer interested in anything but figures...

Little Prince - Antoine de Saint-Exupery.

Well, that's all from me. Hope we can meet in another post of TTT.

Sincerely,

Ra

2 komentar:

Pramoedya Ananta Toer,

Resensi: Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

Jumat, Maret 29, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bumi Manusia

"Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan." - Nyai Ontosoroh.

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul buku: Bumi Manusia
Genre: Fiksi sejarah
Seri: Tetralogi Pulau Buru
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal buku: 535 halaman
Tahun terbit: Oktober 2010, cetakan 16
ISBN: 979-97312-3-2
Pinjam dari Mbak Rina Noviyanti

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
"Kita kalah, Ma," bisikku. 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." 
***

Ada yang pernah berkata pada saya, "seharusnya kamu membaca tetralogi Pram ketika kamu masih kuliah." Saya hanya tersenyum ketika mendengarnya dan saya memang sedikit menyesal baru bisa membaca salah satu karya luar biasa dari penulis yang satu ini sekarang.

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." - Nyai Ontosoroh.
Bagaimana tidak, kontroversi mengenai buku ini pun diketahui oleh siapa saja. Bagaimana buku ini dilarang diedarkan pada zaman orde baru. Bagaimana kemudian Pram pun ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru.

Adalah Minke, seorang pemuda yang tinggal di Surabaya dan bersekolah di HBS. Ia sangatlah menghargai sastra dan terkadang tulisannya pun dimuat di harian lokal. Setidaknya, dari situlah Ia mendapatkan penghasilan, selain dari upayanya membantu memasarkan lukisan-lukisan yang dibikin oleh Jean Marais, seorang pelukis asal Perancis yang pernah bersekolah di Sorbonne.

"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini." - Jean Marais.
"Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya." - Jean Marais.
Suatu ketika, Minke berkesempatan untuk mampir ke Boerderij Buitenzorg, sebuah perusahaan Belanda yang dikelola oleh seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Semenjak kunjungannya tersebut, pada akhirnya Minke pun terlibat dengan berbagai kisah, mulai dari tinggal di Buitenzorg, hingga menikah dari putri Nyai Ontosoroh, Annelies.

Kalau ditanya apa reaksi saya ketika membaca novel ini, jujur saya bingung mau berkomentar seperti apa. Meskipun terasa sederhana, pada dasarnya kisah dalam novel ini memang terasa sangat penuh dan complicated. Ini bukan sekadar tentang kisah romansa antara Minke dan Annelies, tapi juga bagaimana kehidupan yang dapat terjadi di era penjajahan tersebut.

Era saat terdapat strata sosial yang terbentuk, mulai dari orang kulit putih, orang kulit berwarna, dan juga pribumi--tentu saya masih ingat permasalahan soal penggunaan terminologi pribumi beberapa tahun lalu. Nah, inilah yang kemudian dapat terungkap. Bagaimana seorang Minke memberontak karena status yang ia miliki.

Sedangkan Nyai Ontosoroh.. harus saya akui menjadi tokoh favorit saya dalam novel ini. Seorang perempuan jawa yang mau mendobrak tradisi dan berhasil "memerdekakan" dirinya sendiri. Saya bangga bias menemukan sosok seperti Nyai Ontosoroh.

"Kita kalah, Ma." 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." - Minke dan Nyai Ontosoroh.
Pada dasarnya, saya tahu ada banyak hal yang bias diambil dari novel ini. Mungkin, di kesempatan lain, saya bisa menambahkannya.

Yang pasti, 4 bintang untuk karya pertama Pram ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar: