Comedy,

Resensi Film: Imperfect (2019), Menjadi Sempurna Belum Tentu Jadi Bahagia

Minggu, Desember 29, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Imperfect
Ketika karier dan cinta berhadapan dengan jarum timbangan

Sumber: imdb.com
Judul: Imperfect
Sutradara: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Penulis Naskah: Meira Anastasia dan Ernes Prakasa
Pemain: Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandhi, Dion Wiyoko, Shareefa Daanish, Ernest Prakasa
Genre: Comedy, Drama
Durasi: 113 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp40.000,-
Being born fat and has dark skins, it feels like a curse for Rara, especially when she worked at the office that has surrounded by pretty girls. Her boss wants her to lose her weight, but there is a man who loves the way she were.
***

Menikmati film garapan Ernest Prakasa di akhir tahun memang bisa menjadi pilihan. Masih sejalan dengan film-film Ernest sebelumnya seperti Cek Toko Sebelah (2016) dan Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga (2018), Imperfect hadir sebagai film drama yang juga berbalut komedi. Secara konten yang ingin diangkat, saya cukup salut dengan usaha Ernest dan Meira. Membahas insecurity yang ternyata dialami oleh semua orang dalam film ini.

Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan

Ibu Siska, Rara, dan Dika. Sumber: hipwee.com
Rara (Jessica Mila) telah terlahir sebagai sosok yang gemuk dan berkulit hitam. Sebagaimana orang Indonesia yang suka nyinyir dan hanya sekadar melihat penampilan, tentu Rara diremehkan. Di rumah, sang mama (Karina Suwandhi), selalu mengingatkan Rara untuk menjaga berat badannya. Lama-kelamaan, Rara menjadi muak dengan seluruh perintah mamanya. 

Sedangkan sang adik, Lulu (Yasmin Napper), memiliki tubuh ideal dan kecantikan sang mama. Otomatis, ia menjadi anak 'kesayangan'. Rara merasa tidak pernah disayang oleh mamanya karena penampilan fisik yang ia miliki. Bagi Rara, ayahnya lah yang selalu mendukung dirinya apa adanya. Sayangnya, sejak ayahnya meninggal, Rara kesulitan menghadapi berbagai cibiran serta tatapan tak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

Untungnya, Rara memiliki seorang pacar yang sangat menyayanginya, Dika (Reza Rahadian). Bekerja sebagai fotografer, Dika selalu berusaha untuk menyenangkan hati Rara. Ia tak peduli dengan penampilan Rara seperti apa, yang terpenting adalah kebaikan hati Rara. 

Sayangnya, kebahagiaan Rara terusik kala ia menemui masalah di Kantor. Setelah mundurnya Sheila (Cathy Sharon), salah seorang manajer di Malathi, Rara dihadapkan oleh kenyataan yang cukup pahit. Bagi Kelvin (Dion Wiyoko), bos Malathi, Rara lah yang seharusnya menggantikan posisi Sheila. Sayangnya, bagi Kelvin, otak saja tak cukup untuk menjalankan peran sebagai manajer di sebuah lini kosmetik seperti Malathi. Rara juga harus meyakinkan klien maupun investor melalui penampilannya. Dengan demikian, dimulailah upaya Rara untuk menjadi versi '"sempurna" di mata masyarakat. Menjadi cantik dan kurus. Iya, standar kecantikan yang terpatri begitu dalam di masyarakat umum.

Upaya membahas Insecurity dari berbagai sisi

Sumber: Canva & iconfinder.com, edited by me
Kalau boleh jujur, saya belum membaca novel karya Meira Anastasia yang menjadi dasar pembuatan film ini. Akan tetapi, saya merasa tersentil dengan beberapa bagian yang ditampilkan di dalam film. Pernyataan dari Kelvin dalam film ini semakin menegaskan bahwa di dunia yang patriarkis ini, stadar kecantikan seorang perempuan masih menjadi sandungan. Apabila ingin berhasil dalam berkarier, maka kamu harus memenuhi standar penampilan layak versi masyarakat.

Hal ini setidaknya pernah saya rasakan. Saya yang memang pada dasarnya malas dandan dan berpenampilan urakan, dipandang tidak sebaik kawan saya yang berpenampilan rapi dan berdandan. Yaa, akan tetapi kemudian saya sadar bahwa tidak seharusnya saya merasa insecure karena hal yang demikian. Bukankah lebih baik mencari lingkup yang bisa menerima saya apa adanya dengan penampilan saya yang urakan? 

Akan tetapi, saya cukup salut dengan transformasi Rara, baik secara penampilan dan sifat. Di klimaks cerita pun, akhirnya terungkap bahwa masing-masing tokoh memiliki rasa insecure dalam diri mereka. Mereka merasa banyak sekali hal yang kurang dari diri mereka. Padahal, rasa kurang tersebut tidak akan ada apabila mereka melihat kekurangan yang mereka miliki menjadi suatu kelebihan. Kira-kira, menurut saya, hal inilah yang dicoba untuk digambarkan dalam film Imperfect. Mulai dari Rara yang tidak pede pada penampilannya, Lulu yang selalu memperhatikan komentar para netizen yang julidnya minta ampun, geng anak kosan dengan masalah mereka masing-masing, atau bahkan insecurity dari mama Rara. Semuanya ternyata menyimpan beban masing-masing tanpa pernah membagikannya pada orang lain.

Secara pribadi, sosok Dika di sini kurang-lebih cukup lovable--biasanya saya sudah lelah dengan tokoh-tokoh yang diperankan oleh Reza. Akan tetapi, di sini saya merasa puas dengan karakter Dika. Tidak terlalu berlebihan dan bisa cukup memorable. Sosok Fey, sahabat Rara, yang diperankan oleh Shareefa Danish juga cukup mencuri perhatian. Saya suka dengan sikap bodo amat yang diperankan oleh Fey. Tak lupa, geng anak kosan juga menambah nilai komedi dalam film ini.

Secara keseluruhan, saya puas dengan menonton film ini. Saya rasa, film-film Indonesia telah mulai bangkit dan tentunya patut ditonton. Akan tetapi, apabila saya diminta membandingkan, tampaknya Milly & Mamet masih menjadi film garapan Ernerst favorit saya. Cek Toko Sebelah dan Imperfect menurut saya memang hadir sebagai suatu film pengingat. Dalam artian, pesan yang ingin disampaikan cukuplah dalam. Bukan sekadar drama dan komedi. Sedangkan, Milly & Mamet lebih merujuk pada sebuah film hiburan ringan yang membuat tertawa.

Kesimpulan

Tentu, saya akan merekomendasikan film ini sebagai pilihan ketika ingin menonton di bioskop. Film ini akan membuatmu tersenyum karena manisnya hubungan Rara dan Dika, tertawa karena tingkah laku geng anak kosan, atau menangis karena emosi yang dirasakan oleh Rara. Jadi, jangan lupa ya untuk tetap mendukung perfilman Indonesia yang tak pernah lelah berbenah diri.

Satu hal yang akan saya selalu ingat dari film ini adalah, menjadi sempurna belum tentu akan membuat dirimu bahagia. Maka dari itu, akan jauh lebih baik apabila kamu menjadi versi terbaik dari dirimu. Tanpa perlu menghakimi orang lain, jadilah seseorang yang menyenangkan dan berkesan.

4 bintang untuk kisah yang sungguh relatable dengan kehidupan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Chris Evan,

Resensi Film: Knives Out (2019), Ketika Twist yang Diharapkan Tak Kunjung Muncul

Senin, Desember 23, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Knives Out
Nothing brings a family together like murder

resensi-film-knives-out
Knives Out (2019). Sumber: IMDb
Judul: Knives Out
Sutradara: Rian Johnson
Penulis Naskah: Rian Johnson
Pemain: Daniel Craig, Crish Evan, Ana de Armas
Genre: Comedy, Crime, Drama
Durasi: 130 menit
Ditonton di Plaza Depok, Rp35.000,-

When renowned crime novelist Harlan Thrombey dies just after his 85th birthday, the inquisitive and debonair Detective Benoit Blanc arrives at his estate to investigate. From Harlan's dysfunctional family to his devoted staff, Blanc sifts through a web of red herrings and self-serving lies to uncover the truth behind Thrombey's untimely demise.
***

Bagi saya, menonton film detektif akan menjadi salah satu hal yang menarik. Sebagai pecinta kisah Sherlock Holmes, tentu saya sangat senang ketika mengetahui ada satu film mengenai detektif yang bukan Holmes maupun Poirot. Bukankah mengenal sosok detektif baru di industri ini akan sangat menarik?

Sinopsis

Keluarga Thrombey. Sumber: nme.com

Suatu hari, Harlan Thrombey (Christoper Plummer) ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Maka dari itu, sebuah investigasi dilakukan untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi pada penulis novel misteri yang dikagumi di seantero kota

Film dimulai dengan adegan-adegan interogasi yang dilakukan oleh Letnan Elliott (LaKeith Stanfield). Interogasi tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga Thrombey yang tersisa, mulai dari Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), putri pertama Harlan; Richard Drysdale (Don Johnson), suami Linda; Walt Thrombey (Michael Shannon), putra ketiga Harlan; Joni Thrombey (Toni Collette, istri putra kedua Harlan; Meg Thrombey (Katherine Langford), putri Joni, hingga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat utama Harlan.

Interogasi ulang tersebut nyatanya sedikit demi sedikit telah mengungkap jalan cerita asli kematian Harlan. Hal inilah yang berupaya diungkap oleh Benoit Blanc (Daniel Craig), detektif swasta yang disewa oleh seseorang yang tak dikenal. Bukan soal uang yang membuat Blanc tertarik mengungkap kasus ini, akan tetapi adanya keanehan-keanehan yang ia temui dari investigasi yang ia lakukan.

Menunggu Twist yang Tak Kunjung Muncul

Sumber: google.com, edited by me.

Tentu, saya sebagai seorang penonton film merasa bahwa apa yang ditawarkan oleh Knives Out adalah sesuatu yang baru. Dalam artian, mencoba untuk mengangkat sosok detektif selain Holmes dan Poirot merupakan hal yang sangat berani. Akan ada banyak orang yang membanding-bandingkan kemampuan Blanc dengan kedua detektif tadi. Meskipun demikian, menurut saya, Benoit Blanc di sini berhasil menciptakan karakternya sendiri. Sebagai seorang detektif, ia cukup menganalisis dari beberapa fakta yang ia temukan. Ia tak perlu show off sepeerti Holmes di tiap aksinya.

Kemudian, para pemainnya sendiri saya akui telah memiliki porsi yang baik. Mereka semua memiliki peran yang signifikan dalam keseluruhan jalan cerita. Bahkan, sosok K. Callan yang memerankan Grannana Wannetta cukup mencuri perhatian. Bahkan, menjadi kunci dari keseluruhan kasus.

Akan tetapi, entah mengapa saya tidak bisa menikmati Knives Out seperti orang-orang lain yang lebih dulu menonton. Saya merasakan adanya kejanggalan yang cukup membuat saya terusik. Sebagai contoh, saya mengharapkan adanya twist di bagian akhir film. Twist yang setidaknya membuat saya jaw dropping. Sayangnya, sama seperti pendapat kenalan saya, I keep waiting for the twist, but there is no any. 

Iya. Bagi saya, twist yang disajikan oleh Rian Johnson tidak cukup membuat saya tercengang-cengang. Bahkan, menurut saya hal tersebut sangat mudah tertebak. Merupakan suatu hal aneh apabila Ransom Drysdale yang diperankan oleh aktor sekelas Chris Evan, tidak memiliki peran yang signifikan dalam cerita ini. Sayangnya, menurut saya, twist ini tidaklah se-grande yang saya harapkan.

Kemudian, satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah teknik kilas balik yang digunakan oleh Rian Johnson. Saya masih setuju, kok, dengan bagaimana diceritakan kemungkinan-kemungkinan motif yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga Thrombey. Akan tetapi, saya merasa bahwa informasi yang digali dari Marta terlalu banyak. Hal inilah yang membuat saya mengharapkan suatu bentuk plot twist maha dahsyat di akhir. Unfortunately, hal tersebut tidak terjadi.

Kesimpulan

Detektif Benoit Blanc. Sumber: cinemablend.com

Banyak yang memberikan penilaian bagus untuk film ini. Bahkan, reviewer favorit saya di YouTube, Cine Crib, memberikan skor hampir sempurna. Akan tetapi, kala ini saya tidak sependapat. Menurut saya, meskipun cerita yang disajikan telah utuh dan bahkan menggunakan teori donat yang unik, plot twist besar di akhir cerita kurang begitu berkesan bagi saya.

Meski demikian, bukan berarti film ini menjadi tidak layak ditonton. Saya masih menyukai sense detektifnya dan juga para pemainnya. Film ini masih mampu membangkitkan kenangan-kenangan saya terhadap kisah-kisah detektif yang selalu menjadi favorit saya. Kemudian, saya juga sangat suka dengan setting rumah Keluarga Thrombey. Rumah itu betul-betul terlihat antik dan menarik.

3 bintang untuk sosok Benoit Blanc dan aksennya yang unik.

Best regards,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Basabasi,

Resensi: Rumah Ilalang - Stebby Julionatan

Kamis, November 07, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Rumah Ilalang
Cinta boleh jadi menjadi urusan personal, akan tetapi kematian adalah urusan sosial.

Image: Goodreads
Judul: Rumah Ilalang
Penulis: Stebby Julionatan
Penerbit: Basabasi
Tebal buku: 136 halaman
Tahun terbit: 2019
Buntelan dari penulis

Selepas kematian Tabita, Tania tampak begitu terpukul. Jenazah Tabita tak bisa dimakamkan. Ia ditolak di mana pun. Tidak di pemakaman muslim, maupun hanya untuk mendapatkan pelayanan kematian dari gereja. Kolom agama di KTP Tabita memang Islam, tapi di tahun-tahun akhir hidupnya, banyak orang yang melihat Tabita rutin mengikuti misa Minggu. Pelayanan kematian itu tak dapat diberikan karena--meski Tabita rajin mengikuti misa, tak sekalipun ia terdaftar sebagai warga jemaat. Terlebih, ia adalah seorang waria.
Usaha Tania memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bagi sahabatnya untuk dimakamkan dengan layak, mempertemukannya pada kenyataan yang lain. Tentang latar belakang keluarganya, tentang keluarga Gosvino—pria seminarian yang mati-matian dicintai Tabita, tentang kelamnya rasa iri di antara para waria dan tentang dunia yang semakin tak manusiawi.
Semuanya seperti rumah yang dibangun dari ilalang. Rapuh. Mudah terbakar dan diterbangkan angin.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Bagi saya, Rumah Ilalang adalah penyegar di tengah peliknya pembahasan isu SARA yang ada di Indonesia.

Kala itu, saya berkesempatan untuk mengulas buku terbaru karya Stebby Julionatan yang diterbitkan oleh Basabasi. Menilik sinopsisnya, tentu saya penasaran akan apa yang ingin diangkat oleh Stebby dalam buku dengan sampul bergambar peti mati itu.

Dia adalah Tabita. Seorang transgender yang begitu teguh memegang prinsipnya. Ketika sang ayah, Hanung Bramantyo, tak dapat menerima keadaan Tabita--yang bernama asli Alang dan diambil dari nama Ilalang, maka Tabita memutuskan untuk pergi dari rumah dan mulai menata kehidupannya dari awal. Beruntung ada Mami Nancy yang membantu Tabita untuk bertahan hidup. Dalam kehidupan yang baru tersebut itulah, Tabita perlahan mulai memahami makna kehidupan yang sebenarnya. Mulai dari orientasi seksualnya, identitas gender yang ia ilhami, agama, hingga hal sesuci cinta. 

Tentu tidak mudah bagi seorang Tabita untuk menjalani peran dalam hidupnya. Akan tetapi, yang namanya manusia, pasti pada akhirnya dapat menemui kesulitan. Itulah yang dialami Tabita. Impiannya untuk bisa hidup damai bersama dengan orang yang ia cintai menjadi angin belaka. Sekarang, tubuhnya telah terbujur kaku. Tiada lagi rasa hangat yang menguar darinya. Ia telah berpulang kepada Sang Pencipta.

Bagi Tania, Tabita adalah sahabat terbaiknya. Mendengar kabar bahwa Tabita meninggal dunia merupakan hal yang tak ia sangka. Belum kesedihan tersebut berakhir, Tania harus menghadapi kenyataan bahwa jenazah Tabita menemui masalah ketika akan dikuburkan. Tabita memang menyandang agama Islam. Hal itu jelas tertera di dalam kartu identitasnya. Akan tetapi, beberapa waktu terakhir semasa hidupnya, Tabitha rajin beribadah di gereja. Sayangnya, ia juga tak bisa dimakamkan secara Nasrani karena ia tidak terdaftar sebagai jemaat. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Tania?

***

Mengangkat tema yang sensitif seperti agama dan juga SOGI (Sexual orientation and gender identity) merupakan hal yang cukup jarang dilakukan oleh penulis di Indonesia. Apalagi, dengan semakin maraknya narasi-narasi "kebangsaan" dan "kaum mayoritas" yang selalu menghiasi berbagai kanal media. Rasanya memang tidak mungkin karya seperti Rumah Ilalang dapat betul-betul hadir di hadapan pembaca. Akan tetapi, nyatanya Stebby berhasil mengangkat isu tersebut dan menjadikan Rumah Ilalang sebagai pembelajaran.

Menggunakan alur flashback, Stebby mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan Tabitha. Namun demikian, Stebby tak hanya berfokus pada sudut pandang Tabita saja. Ia juga mengambil cerita dari sudut pandang Tania, Mami Nancy, orang tua Tabita, bahkan dari sudut pandang Gosvino, pria yang dikasihi oleh Tabita.

Memang penggunaan banyak sudut pandang ini membuat cerita sulit terfokus. Akan tetapi, dengan demikian, pembaca akan lebih memahami emosi dari masing-masing tokoh. Sekilas, saya melihat profil Stebby yang dulunya juga pernah menuliskan kumpulan puisi. Tak heran apabila bahasa yang ia gunakan cukup puitis dan juga mendayu. Bukanlah suatu masalah besar karena hal tersebut malah membuat cerita ini menarik dengan sendirinya.

Meskipun tipis, saya cukup menikmati kala membaca Rumah Ilalang ini. Ceirtanya mengalir tanpa bermaksud menggurui. Saya cukup salut dengan cara Stebby mengeksekusi akhir kisah Tabita. Ada sedikit plot twist yang tidak saya tebak ketika saya membacanya.

Saya tidak tahu apakah buku ini menjadi suatu hal yang kontroversial atau tidak--bagaimanapun isu yang diangkat lumayan sensitif bagi kaum yang merasa bahwa diri mereka benar itu. Akan tetapi, untuk pembaca yang gemar mendalami isu-isu ini, saya sarankan untuk sejenak membuka lembar demi lembar kisah Tabita ini. Saya rasa, sebagai sebuah perenungan, Rumah Ilalang telah berhasil menjalankan perannya.

Kalau untuk segi penyuntingan, nampaknya telah dibahas lebih lanjut oleh peresensi lain. Ya, saya juga setuju dengan beberapa pendapat mereka. But, I believe, Stebby can do more than this. Semoga ke depannya menjadi lebih baik :)

3 bintang untuk ketabahan Tabita dan juga Tania.

Kindly note:
I've got this book directly from the author, but unfortunately, I didn't realized that my landlady has received this book from more or less one month ago. After, Mas Dion reminded me to review this book, I tried to check it in the lobby of my rent room. Then, I found this book under other's package. So, I apologize for the delay review.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Advertorial,

Review GoMassage: Layanan Asyik yang Enggak Dusta

Rabu, Oktober 30, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Review GoMassage ala saya. Ya, supaya kalian tahu kalau ini tidak dusta.

Dulu, setiap libur semester, saya selalu menyempatkan untuk pijat di tukang pijat langganan yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Oh ya, sekadar informasi, saya memang warga asli ibukota. Jadi, masa-masa ketika pulang ke kampung halaman itu menyenangkan. Bahkan, menjadi satu hal yang saya tunggu-tunggu.

Akan tetapi, kebiasaan tersebut lama-kelamaan menjadi hilang. Bukannya apa-apa. Ketika saya sudah mulai bekerja, saya tidak punya kebebasan selayaknya ketika saya masih berkuliah untuk pulang ke rumah. Jadilah saya lama sekali tidak merasakan dipijat lagi. Sungguh hal yang membuat saya cukup rindu rumah.

Masih saya ingat kala itu saya memang sering kali pulang malam. Sampai di indekos pukul 11 saja sudah merupakan keajaiban--yaa, untungnya RUU KUHP belum disahkan. Bisa-bisa saya dihukum karena ngelayap di waktu selarut itu. Intinya, waktu itu pola hidup saya memang enggak sehat. Pulang malam, begadang untuk mempersiapkan bahan kerjaan untuk esok harinya, makan tidak teratur, dan tidak rajin pula berolahraga. Alhasil, saya pun ambruk. Iya. Saya jatuh sakit. Rasa-rasanya saya tak sanggup untuk sekadar bangun. Akan tetapi, setelah saya periksa, tidak ada hal serius yang menimpa saya. Hanya saja saya memang kecapekan.

Setelah saya lumayan pulih, saya jadi teringat, kira-kira, apakah ada alternatif untuk membuat tubuh saya menjadi lebih segar? Hmm. Akhirnya saya teringat kalau GoLife menyediakan layanan untuk pijat alias GoMassage. Jujur, saya enggak pernah punya bayangan apakah saya akan puas dengan layanan ini. Akhirnya, setelah saya mencoba bertanya pada kakak saya, serta mencari review GoMassage di mesin pencarian, saya pun menabahkan hati untuk mencoba memesan layanan ini.

Review-GoMassage
Image: Canva, edited by me.
Well, saya enggak akan memungkiri kalau saya sedikit harap-harap cemas waktu memesan. Takutnya saya kecewa nantinya. Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya ada mitra GoMassage yang menerima pesanan saya. Kemudian, kami berkomunikasi secara singkat sembari saya memberikan arahan kepada Mbak Mitra--mari kita sebut demikian untuk menjaga privasi mbaknya. Eheheh.

Sebelum menuju indekos saya, Mbak Mitra sempat menanyakan kepada saya, apa saya punya preferensi untuk lulur yang akan ia gunakan nantinya. Oh, iya, sekadar info, saya waktu itu memesan paket Full Body Massage & Scrub. Jadi, Mbak Mitra menanyakan preferensi saya. Jujur, saya enggak punya preferensi. Jadi, saya manut apa kata Mbak Mitra.

Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Mbak Mitra sampai ke Indekos saya. Dia pun menjelaskan secara singkat mekanisme kerja yang akan ia lakukan. Full Body Massage akan memakan waktu kurang lebih 60 menit, dan proses scrub akan memakan waktu selama 30 menit. Oh iya, kalian bisa memilih dengan bebas lho durasi yang kalian mau untuk setiap layanan yang kalian pesan. Jadi, layanan GoLife ini akan menyesuaikan dengan kenyamanan kalian.

Akhirnya, proses massage dan scrub pun dilakukan. Sembari mengobrol, saya merasakan nyamannya pijatan dari Mbak Mitra. Hmm. Seenggaknya, dengan ada layanan ini, saya enggak perlu lagi bingung mencari tukang pijat. Apalagi, saya juga bisa mendapat layanan scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang mungkin sudah menumpuk. Alhasil, setelah selesai proses massage dan scrub, badan saya terasa lebih ringan dan lemas. Belum lagi, saya merasa kotoran-kotoran yang ada di kulit saya telah terangkat. Pokoknya, saya merasa lebih nyaman.

Jadi, intinya, mengapa sih saya ingin menobatkan layanan GoMassage sebagai layanan asyik yang enggak dusta. Berikut beberapa alasannya.

1. Menyesuaikan keinginan pelanggan

Pada dasarnya, layanan GoMassage ini beragam. Enggak cuma full body massage (ini masuknya di Body Rejuvenation), tapi juga ada Reflexology, Beauty Massage, Service at Event, dan juga Mom & Kids Massage. Intinya sih, banyak pilihannya. Durasi dari layanan ini juga bisa disesuaikan dengan selera. Mau cuma 90 menit, atau bahkan 120 menit, disilakan.

Pilihan layanan GoMassage. Image: Tangkapan layar ponsel saya.


2. Bisa dipanggil kapan saja


Sering pulang malam dari kantor dan di hari Sabtu-Minggu banyak acara, tenang saja. Layanan GoMassage akan menyediakan layanan kapan saja. Jadi, kamu bisa memesan layanan ini di waktu senggang kamu.

3. Harga yang terjangkau

Oh, ayolah. Semua juga pasti mencari kriteria yang satu ini dari suatu layanan jasa. Saya juga termasuk di antaranya. Nah, beruntungnya, banyak lho voucher yang ditawarkan oleh GoLife untuk menikmati layanan GoMassage ini. Jadi, dijamin deh harganya terjangkau.

Nah, kalau ditanya, apakah saya akan melakukan pemesanan layanan ini kembali? Tentu, apalagi kalau tubuh saya rasanya sudah mau rontok. Saya butuh pijatan dari terapis handal dari GoMassage.

Sekian dari saya untuk review kali ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Film Bebas,

Resensi Film: Bebas (2019)

Senin, Oktober 21, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu


0 komentar:

Falcon Pictures,

Bumi Manusia: Eksplorasi Romantisme Minke dan Annelies

Selasa, Agustus 20, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Bumi Manusia
Ketika nasionalisme menjadi suatu diskursus yang akan selalu dipertanyakan.

Bumi Manusia. Image: IMDb
Judul: Bumi Manusia
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Salman Aristo
Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti
Tanggal rilis: 15 Agustus 2019
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer
Produksi Falcon Pictures
Ditonton di Kemang Village XXI

This is a story of Minke and Annelies who weave love in the early 20th century colonial turbulance. Minke is a native youth, purebred Javanese. While Annelies is a mixed-Dutch girl, the daughter of a nyai (mistress), called Ontosoroh. Minke's father, who has just been appointed as regent, is always against Minke's closeness to the Nyai's family, because a Nyai's position at the time is seen to be as low as pet animals. But this one nyai, Nyai Ontosoroh, Annelies' mother, is different. Minke admires all of her thoughts and struggles against the arrogance of colonial hegemony. To Minke, Nyai Ontosoroh is the reflection of modernization, which at the time is just beginning to rise. When the arrogance of colonial law tries to wrench Annelies from Minke's side, Nyai Ontosoroh is also the one who urges Minke to keep going and shout the word, "Fight!"
***

Hari itu, salah seorang kenalan menawarkan satu tiket nonton gratis film Bumi Manusia di Kemang Village. Berhubung kantor tempat saya magang tak jauh dari lokasi tersebut, saya memutuskan untuk menonton salah satu film yang digadang-gadang menjadi karya terbesar tahun ini.

Bagi para pecinta sastra, rasanya tak akan lengkap bila tak membahas sosok Pramoedya Ananta Toer. Pram adalah seorang sastrawan yang dicinta sekaligus dibenci. Ia memiliki pemikiran yang tak biasa dan tentunya sanggup menuliskan imaji-imajinya secara apik dalam tetralogi Pulau Buru.

Saya harus mengakui, saya bukanlah orang yang pintar berkontemplasi. Apabila dibandingkan dengan teman-teman saya, kemampuan saya mengenai hal itu akan berbeda jauh. Ketika saya membaca Bumi Manusia, saya harus terseok-seok memahami apa yang ingin disampaikan Pram. Begini, saya adalah orang yang masih mempertanyakan apa itu bangsa. Iya, what is nation? Pada dasarnya, bangsa Indonesia itu yang mana? Terdiri dari siapa? Atau bahkan, apa itu bangsa Indonesia? Saya bukannya tidak mempercayai nasionalisme--saya sedikit jengah dengan narasi NKRI harga mati atau lainnya, tapi saya percaya bahwa negara ini masih dalam tahap nation-building. Memadukan pemahaman akan bangsa Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal ini dapat dilihat dari kerusuhan yang tercipta baru-baru ini. Bukankah itu juga berujung pada pertanyaan akan diskursus nasionalisme?

Sudah-sudah. Kalau diteruskan, akan menambah panjang ketidakmengertian saya akan diskursus ini sendiri. 

Darsam dan Minke. Image: BookMyShow
Kembali ke film Bumi Manusia. Tentu, bagi para penonton yang sudah membaca karya Pram itu, rasanya tidak mungkin untuk mengadaptasi karya semegah Bumi Manusia ke dalam film. Saya pun cenderung skeptis ketika Iqbaal Ramadhan didaulat menjadi Minke. Begini, bukannya, lagi-lagi, saya merasa bahwa Iqbaal tidak memiliki kapasitas dalam berakting, hanya saja saya merasa akan sulit baginya menghidupkan sosok Minke. Sosok Nyai Ontosoroh pun juga sedikit-banyak saya takutkan perannya--karena saya masih terbayang sosok Happy Salma dalam teater Bunga Penutup Abad yang memainkan sosok perempuan kuat itu.

Akan tetapi, sebagaimana yang seharusnya, saya pun mencoba menonton Bumi Manusia tanpa adanya ekspektasi yang terlalu tinggi. Takut kecewa, itu saja.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas alurnya karena secara apik, nyatanya Salman Aristo, sang penulis naskah, berhasil mencoba merangkum kisah Bumi Manusia menjadi film berdurasi tiga jam. Well, saya akui kok kalau saya merasakan kebosanan di tengah film--dibuktikan dengan saya rela meninggalkan tempat duduk barang sepuluh menit untuk ke toilet. Akan tetapi, apabila memang penonton ingin melihat betapa manisnya hubungan Minke dengan Annelies (Mawar Eva De Jongh), Hanung Bramantyo selaku sutradara berhasil menyajikannya dengan apik. Bahkan menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini--atau begitulah yang disampaikan oleh salah satu resensi yang sempat saya baca sebelumnya.

Annelies dan Minke. Image: The Jakarta Post
Lalu, saya sangat suka dengan Sha Ine Febriyanti yang berhasil menghidupkan Nyai Ontosoroh dengan begitu hebatnya. Mungkin, bagi para pembaca Bumi Manusia, sosok Sha Ine lah yang pantas mendapatkan standing ovation. Bukan Iqbal maupun Mawar. Iya, bagi saya, bukannya kedua pemeran utama itu tak melakukan akting terbaiknya, hanya saja terasa ada yang kurang dari karakter mereka dalam film ini. 

Nyai Ontosoroh. Image: Falcon Pictures.


Kalau ada yang ingin saya keluhkan, maka saya akan menyebutkan CGI dari film ini. Iya, saya tahu pasti tidak mudah memunculkan kembali nuansa zaman dahulu kala di zaman serba modern ini. Akan tetapi, kalau ditonton lebih jauh, CGI tersebut malah cenderung mengganggu. Belum lagi, lokasi danau tempat Minke dan Annelies sering memadu kasih, danaunya terlihat... sungguh tak nyata. Saya jadi tidak bisa mendapatkan feel ketika menontonnya. 

Kemudian, sosok Jean Marais yang seharusnya menjadi salah satu tokoh penting, malah tak nampak signifikansinya. Ia pun muncul hanya untuk menekankan kutipan "adil sejak dalam pikiran". Itu saja. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Lalu, apa kesimpulan saya untuk film epic ini? Saya akui bahwa saya memang sudah seharusnya mengapresiasi upaya para sineas film ketika menghidupkan sosok-sosok dalam kisah gubahan Pram tersebut. Terlepas dari kekurangan yang menyertainya.

Saran saya, tontonlah film ini sebagai bentuk hiburan. Jangan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi apabila memang kamu telah membaca novelnya. Bagi yang belum membaca, coba nikmati film panjang berdurasi tiga jam ini dengan bahagia.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Fantasy,

Fortunately, The Milk: Fantasi Anak Khas Neil Gaiman

Rabu, Agustus 14, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Fortunately, The Milk

oleh Neil Gaiman
3 dari 5 bintang


Image: Goodreads
Judul: Fortunately, The Milk
Judul terjemahan: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaimana
Ilustrator: Skottie Young
Alih bahasa: Djokolelono
Tebal buku: 128 halaman
Tahun terbit 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1225-5
Beli di TB. Gramedia Depok

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.” 

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.” 

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

***

Sosok Neil Gaiman merupakan salah seorang penulis fantasi yang banyak digandrungi oleh para pembaca fantasi. Mitologi Nordik, American Gods, maupun Neverwhere merupakan beberapa karyanya yang terkenal. Penulis asal Inggris ini memang mendedikasikan karyana di genre fantasi, horor, maupun fiksi ilmiah. Lalu, apakah ada kisah fantasi yang pas untuk anak-anak?

Menemukan nama Neil Gaiman di tumpukan buku obral di Gramedia merupakan hal yang tidak biasa--setidaknya untuk saya. Jujur saya memang belum pernah membaca karya Gaiman sebelumnya. Meskipun banyak yang bilang kalau Mitologi Nordik dan American Gods itu seru. Yaa, bagaimanapun, I still a romance reader. 

Seperti yang saya bilang tadi, saya tak sengaja menemukan novel ini di tumpukan obralan Gramed. Berbekal uang IDR20,000 saja, akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang novel dengan sampul penuh ilustrasi ini. 

Saya tidak terlalu ingat berapa lama saya mendiamkan novel ini di tas saya--saya bahkan baru ingat ketika membongkar tas yang sudah jarang saya pakai itu. Akhirnya, karena saya harus menempuh perjalanan yang cukup lumayan menuju kantor, saya putuskan menghabiskan waktu dengan membaca. 

Well, premis yang ditawarkan oleh Gaiman ini pada dasaarnya sederhana. Ini hanya tentang perjalanan Ayah yang membelikan susu bagi anak-anaknya. Akan tetapi, ternyata sang Ayah harus melewati berbagai petualangan tak terduga untuk membawa pulang susu yang telah ia beli. Iya, petualangan itu melibatkan pertemuan dengan para bajak laut, hingga Profesor Stegosaurus yang nyentrik dan mengendarai Bola-Apung-Pengangkut-Orang.

Nah, yang membuat menarik, Ayah bersama dengan Profesor Steg harus menjelahi waktu pula untuk betul-betul bisa kembali ke tempat Ayah berasal. Wah, hal yang tak disangka-sangka, bukan?

Image: pinterst, edited by me
Yaa, sebagai sebuah novel fantasi anak, Fortunately, The Milk tidak menyajikan cerita yang rumit. Saya sih senang-senang saja saat membacanya. Bagaimanapun, kali ini saya sedang malas berpikir ketika membaca. Saya cuma butuh bacaan ringan yang menghibur. Secara cerita, saya tidak terlalu terkesan juga dengan ceirta ini. Biasa saja. Tapi mungkin, ilustrasi yang dibuat oleh Skottie Young cukup menarik untuk dilihat. 

Dapat dibilang, novel ini merupakan novel untuk sekali duduk. Ukuran huruf yang sangat child-friendly ini akan membuatmu lebih mudah membacanya sampai habis dalam satu waktu.

Lalu, apakah saya akan mencoba untuk membaca karya Gaiman lainnya? Mungkin iya. Akan tetapi, saya butuh waktu untuk mengembalikan mood saya, baik dalam membaca maupun menulis blog.

Sekian resensi untuk novel anak ini. Tiga bintang untuk Profesor Steg yang ternyata seorang ibu-ibu!

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Top Ten Tuesday,

[Top Ten Tuesday] Top Ten Book Characters That Remind Me of Myself

Rabu, Mei 08, 2019 Puji P. Rahayu 2 Comments

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl since January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together.

***
Howdy, guys!

Well, this is my second TTT post after the so long hiatus. To be honest, I don't really have idea about this topic because I rarely describe myself to be one of character that I read. But still, I'll try to make a list here.

So, let's check this out!

1. Luna Lovegood from Harry Potter Series by J.K. Rowling

Actually, I don't really look like Luna. I mean, I don't have that unique style, tho. But, I think I can relate with her uniqueness. Sometimes, everyone sees her as a weird person and I feel the same too some extent. I don't really give a damn about my style itself. I can go out with the random mix and match style and I don't care what the others would say about it. Well, that's the point that I think i have in common with Luna. We have our own world.

2. Edita from Fly to The Sky by Nina Ardianti and Moemoe Rizal

Character from Indonesian novel. Yap, Edita is a drama queen. She can be really nosy and annoying. But, she will really care to her friend. Well, just say that I am drama queen too and sometimes, I too much care of someone just like Edita. Sigh.

3. Alranita from Resign by Almira Bastari

No big reason why this characters remind me of myself. Why? Because this character reminds me because of her nickname. Yep, we share the same nickname, which is "Ra". Most of my online friends call me as "Ra" and I just can't help to smile when reading Alranita's nickname.

4. Audy from Sunset Holiday by Nina Ardianti dan Mahir Pradana

Audy is an impulsive person and she is very childish. She decided to do Eurotrip alone. At first, it's very hard for her to convince her family because she is the youngest one and once again, she is really childish. But after many discussion here and there, her family let Audy go. 

Okay, maybe I ain't doing Eurotrip like Audy but I can relate with what Audy feel. I am the youngest one in my family and it's really hard for them to let me live by myself since college. Yep, I have to convince them even though I am a childish, I still can be an independent person after all.

5. Audy from The Chronicles of Audy by Orizuka

Well, me and this Audy actually have the same major in college, which is International Relations. I can enjoy Audy's story because of her background. At least, I am very happy to read her analysis about some international event. I just like it.

6. Rahayu from Entrok by Okky Madasari

Hmm, maybe the reason why this character remind me of myself is, once again, the name. How could I didn't relate with Rahayu if in the fact we share the same name? To be honest, I don't really like Rahayu at Entrok. She is just.. hmm.. easily affected by other people. But one thing that I can be sure, she is really stick to what she believe. I can relate with that because I only believe what I believe and no one wouldn't easily make me turn around and broke my believing.

7. Jamie Sullivan from A Walk to Remember by Nicholas Spark

Oh, please, don't look me like that. I am not sick like her! Just be calm. Well, why Jamie can remind me of myself? Because Jamie is a social person. She will be really selfless for others happiness. Maybe I ain't that selfless person, but I want to be like her. I want to help each other without try to ask anything back. 

8. Jenny from Elegi Rindaldo by Bernard Batubara

The hesitation to marry. Well, I know that I am still young, but I could relate with Jenny. She don't want to marry because she hasn't find the exact meaning of marriage. For me, I am thinking the same thing. I know that I want to marry, but there's still some hesitation for me to do it. Is that marriage will solve any problems in my life? To be honest, it's not.

9. Miya from Lara Miya by Erlin Natawiria

I could describe Miya as an energetic person yet vulnerable. She is cheerful yet full of sorrow. I could relate with this character because I am an INFJ. With this unique personality, I have to admit that I could show two different kind of personalities. I could be really cheerful in one moment, then I can be quite and sad. Well, just like Miya actually.

10. Rere from Simple Lie by Nina Ardianti

I could relate because Rere's background is the same with me. Yes, she attend college in Universitas Indonesia. Which is, the same university as me. We have different major but I still can relate with her life as a university student.

Fyuuh. Finally I can finish the top ten list. I have to admit that this topic is really hard. I am really sorry for choosing a lot of Indonesian book - please, nowadays I rarely to read a book. So, I only choose character that popped up in my head.

So, how about you, guys? Which character that remind you of yourself?

Sincerely,

Puji P. Rahayu


2 komentar:

Fantasy,

Incognito: Kisah Para Penjelajah Waktu

Selasa, Mei 07, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Incognito

"Memang menyukai seseorang bisa secepat dan semudah itu? Manusia itu kadang terlalu sering mencari di luar jangkauannya, padahal biasanya apa yang dia cari justru selama ini selalu ada di dekatnya." - Carl.

oleh Windhy Puspitadewi

4 dari 5 bintang

Image: Goodreads
Judul: Incognito
Penulis: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasy, Sciene Fiction, Adventure
Tebal buku: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 29 Mei 2014 (sampul baru)
ISBN: 9786020305233
Baca via Gramedia Digital


Sisca dan Erik tidak pernah menyangka, perjalanan waktu yang selama ini hanya bisa mereka baca di buku akhirnya mereka alami sendiri!
Semua bermula ketika mereka harus mengambil foto di kawasan Kota Lama Semarang untuk tugas sekolah. Seorang pemuda bernama Carl tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mengaku berasal dari masa lalu.
Sisca dan Erik mendadak terseret petualangan bersama Carl, pergi ke tempat-tempat asing, bertemu tokoh-tokoh sejarah yang selama ini cuma mereka temui dalam buku. Petualangan yang membuat mereka belajar banyak: menghargai waktu, persahabatan, dan diri mereka sendiri.


***

Penjelajahan waktu tentunya bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Kalian setuju, bukan?

Yap, setelah kemarin saya menonton Avengers: Endgame - yang isinya kurang lebih bagaimana cara kita bisa "mencuri" waktu, maka saya pun teringat dengan novel teenlit yang satu ini. Entah mengapa, saya ingin membaca kembali kisah dari Erik, Sisca, dan juga Carl.

Suatu ketika, Erik dan Sisca yang sebenarnya tidak akur, tergabung dalam satu kelompok untuk tugas sejarah, yakni tugas observasi peninggalan bersejarah. Meskipun sering berdebat satu sama lain, Erik dan Sisca tetap sebisa mungkin untuk mengerjakan tugas tersebut dengan baik. 

Jadilah kemudian Erik mengajak Sisca ke kawasan Kota Lama Semarang untuk mengambil foto. Nah, ternyata, apa yang mereka temui bukan sekadar tentang observasi peninggalan bersejarah, akan tetapi sosok pemuda yang jelas-jelas bukan orang dari masa yang sama dengan Erik dan Sisca, Yap, Carl, nama pemuda itu, datang dari masa lalu. Atau tepatnya dari tahun 1893 karena Carl menggunakan mesin waktu!

Erik dan Sisca awalnya sempat kebingungan dengan kehadiran Carl, akan tetapi, kemudian mereka malah ikut terjerumus dalam penjelajahan waktu yang dilakukan oleh Carl. Bertemu orang-orang besar pun menjadi salah satu pengalaman yang mereka dapatkan, mulai dengan bertemu Archimedes, Miyamoto Musashi, Tom Sawyer, hingga Charles Darwin.

Penjelajahan waktu tersebut pada akhirnya membawa baik Erik, Sisca, dan Carl menemukan berbagai hal. Mulai dari penjelasan mendasar mengenai berbagai macam ilmu dan tentunya fakta sejarah, hingga peristiwa-peristiwa yang hampir mengancam nyawa mereka. Melalui penjelajahan waktu itu pulalah mereka menemukan arti yang sebenarnya dari persahabatan dan konsep menghargai waktu.

Yang pasti, satu hal yang harus selalu diingat bahwa waktu itu memiliki dimensinya tersendiri. Kemudian, waktu pun juga memiliki efek domino. Sehingga, apa yang berubah dalam satu waktu di masa lalu, maka dapat mempengaruhi masa sekarang, dan juga masa depan.

Incognito. (image: wallpaperaccess / edited by me)
To be honest, dulu ketika awal saya membaca novel ini, saya senang-senang saja membacanya. Bahkan, saya kategorikan sebagai salah satu novel favorit saya karena Incognito berhasil mendobrak tema-tema umum dari novel teenlit. Iya, kebanyakan novel teenlit yang ada ketika itu hanya sekadar membahas romantisme remaja belaka. Sedangkan, novel ini berhasil membuat saya tertarik karena adanya topik penjelajahan waktu yang diangkat.

Bagi saya, mengangkat tema ini bukanlah suatu hal yang mudah. Sang penulis harus mampu menghubungkan serta mencari celah dari berbagai peristiwa supaya adegan-adegan di dalam novel ini menjadi masuk akal. Tentu, hal tersebut membutuhkan riset yang lama dan juga kejelian dalam melihat suatu kronik sejarah. Saya salut dengan usaha Kak Windhy untuk menghadirkan jenis cerita ini dalam Incognito.

Jujur saja, saya merasa bahwa Kak Windhy berhasil mengisi celah yang tepat dari bagian-bagian sejarah yang ia pilih. Sehingga, tidak terkesan dipaksakan. Akan tetapi, mungkin saya sedikit setuju dengan beberapa peresensi yang menyatakan bahwa identitas asli Hans C. Zentgraaf dan juga Fran terlalu obvious. That surprise element couldn't spark that much when I read this book for the second time.

But after all, I still like this novel. Seenggaknya, saya tahu bahwa usaha dari sang penulis untuk menciptakan buku ini tidaklah mudah. Lagipula, bisa dibilang bahwa buku ini termasuk novel fiksi pengetahuan - karena secara tidak langsung saya mempelajari sejarah dari buku ini.

Jadi, empat bintang untuk tokoh Erik yang sengak dan menyebalkan.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Marvel Cinematic Universe,

Movie Review: Avengers: Endgame (2019)

Minggu, Mei 05, 2019 Puji P. Rahayu 0 Comments


Avengers: Endgame

"If I tell you what happens, it won't happen." - Dr. Strange.

Image: People
Title: Avengers: Endgame
Genre: Fantasy, Science-fiction
Series: Marvel Cinematic Universe
Director: Anthony and Joe Russo
Screenplay: Christoper Marcus and Stephen McFeely
Stars: Robert Downey, Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Brie Larson, Danai Gurira, and others.
Ticket: IDR 45.000.00 at Cinemaxx Depok Town Square

Based on The Avengers by Stan Lee and Jack Kirby.


After the devastating events of Avengers: Infinity War (2018), the universe is in ruins. With the help of remaining allies, the Avengers assemble once more in order to undo Thanos' actions and restore order to the universe.


***

Marvel Cinematic Universe is one of the longest super hero series that does exist in Hollywood. Even though those series is very popular and most of my friends are following this series, I ain't part of them. I am not a big fan of super hero movie, to be honest. I don't really interest with this kind of genre.

Then, one day, one of my friend invite me to watch this movie along with our others friend. She invited me to watch Avengers: Endgame - the latest movie from MCU. At first, I feel a little bit hesitate to watch, but since I have a spare time and need some refreshment, I decided to agree and help her to order the tickets. 

Actually, from all off 22 movies, I only - literally watch - two of them, which are Dr. Strange and Black Panther. So, honestly, I don't have any idea how to interpret Avengers: Endgame because I didn't follow the previous movies - that exactly related to this movie, such as Avenger: Infinity War.

When the movie begin, I have to admit that I am clueless. I don't know how the story goes on and who is the important character there. But, seems like Marvel still can captivate me because, as the movie goes on, I started to understand the whole story. Even though I still raised my eyebrow sometimes - because I didn't recognized the character - but after all, I can enjoy the movie.

The story begins with the remaining Avenger - Bruce Banners (Mark Ruffalo), Steven Rogers (Chris Evans), Rocket (voiced by Bradley Cooper), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanov (Scarlet Johansson), and James Rhodes  (Don Cheadle) - went to where Thanos living in seclusion. They intend to retake the infinity stone to reverse what Thanos did. Unfortunately, Thanos has been destroyed all of the stone to prevent further use. After that, Thor couldn't manage his anger and suddenly beheaded Thanos.

Five years later, some miracle happen. Scott Lang (Paul Rudd) has succeeded escapes from the quantum realm. Then, Lang got an idea to travel back in time and stopping Thanos in the past. Even though there is some reluctance from Tony Stark (Robert Downey Jr.) to build the time machine, but after he talked with his wife, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow), he finally agree to help build the time machine. 

All of the Avengers agree to take the infinity stone in the past and try to undo what Thanos did in the future. Banners, Rogers, Lang, and Stark went to New York City in 2012. They intended to take the Time Stone, Mind Stone, and also the Space Stone. Then, Rocket and Thor travel to Asgard in 2013. They tried to retrieve the Reality stone from Jane Foster. Nebula and Rhodes travel to Morag in 2014. They tried to steal the Power Stone before Peter Quill can. Last, Barton and Romanoff went to Vormir and tried to get to Soul Stone.

Avengers: Endgame. (image: Visual Cocain, edited by me)
Well, just like another movie, their first step was going really smooth. But, until Nebula (Karen Gillan) got some connection with her past self. This connection at the end, make Thanos knows about what the future would be and the temptation from the Avengers to undo his action in the future. In the result, the future Nebula is trapped in the past and the past Nebula disguise as her future self and try to broke the Avenger's plan.

To be honest, I like the way Marvel execute this movie. With the more or less three hours duration, I think this movie is kind of worth it. I could feel the thrilling scene, the funny part - especially about Thor, and also their frustration when everything couldn't goes pretty well. I like the movie as a whole - and make me curious about the previous movie.

But, maybe, about the time travel itself, I still couldn't understand, how can the future and the past Nebula could meet? I think, it's just impossible. Even though there's some explanations that will be another different concept of time, still, I think the past could affecting the present, and then the future. So, most likely it would be possible if the past Nebula can meet the Future Nebula.

Then, although I didn't following the movies from the very start, it still feel very heart-breaking when Tony Stark couldn't make it until the end. He deserves all of the greatness after all. Well, he is someone who will care other first rather than himself. 

So, if anyone ask me, do you now interest to watch the other MCU movies? I would like to say, "Yes, I do!". Maybe it's so damn too late to watch it, but I think it doesn't mater after all.

How about you, guys? Are you the MCU fans? Well, maybe we can discuss about this universe together.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar: