Emma Grace,

Resensi: Sing Me Home - Emma Grace

Jumat, Oktober 19, 2018 Puji P. Rahayu 0 Comments


Sing Me Home

Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tidak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras.

oleh Emma Grace

2.5 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul buku : Sing Me Home
Penulis : Emma Grace
Genre : Romance
Kategori : Young adult
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Tebal buku : 272 halaman
ISBN : 978-602-03-3571-1
Baca via Gramedia Digital


Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.
Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.
Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sing Me Home merupakan salah satu novel yang saya baca karena saya tertarik dengan sampul bukunya. Baiklah. Tidak seharusnya saya menilai sebuah novel dari sampulnya saja. Saya masih ingat kok, kalau pada dasarnya kita tidak bisa judge a book from its cover. But, I couldn't help. Sing Me Home's cover is really attractive. I like the concept and the illustration. 

Okay, then. Let's move to my review. Sing Me Home merupakan novel young adult yang ditulis oleh Emma Grace. Jujur, saya belum pernah membaca karangan Emma sebelumnya. Pun, saya juga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap novel ini.

Gwen adalah seorang penari. Ia mencintai tari dengan sepenuh hidupnya. Permasalahannya, orang tua Gwen, terutama mamanya, tidak menyetujui keinginan Gwen untuk menjadikan tari sebagai tujuan hidupnya. Hal ini membuat Gwen yang tidak terima dengan keputusan mamanya, melakukan berbagai cara untuk bisa menari dan mengikuti audisi untuk performing arts school, termasuk diam-diam mengikuti audisi yang sudah diusahakan oleh pelatihnya, Savannah.

Kau tahu perasaan paling indah di dunia, Sav?"
"Ya?"
"Ketika kau menari dengan kakimu, dengan lantunan musik indah mengiringimu. Saat kau membiarkan semuanya, di dalam dan di luar dirimu menguap. Semua hal, kecuali tarianmu sendiri."
-- Gwen dan Savannah

Selain permasalahan dengan orang tuanya, kehidupan Gwen juga dibayangi oleh sosok laki-laki yang sulit untuk Gwen lupakan, Hugo. Laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidup Gwen dan membuat Gwen merasa sangat berarti. Sayangnya, kedatangan Corrine membuat semua hal itu berubah.

Di tengah kebimbangan dan rasa sesak yang Gwen rasakan, munculah Jared, seorang fotografer yang suka memotret Gwen ketika menari. Lalu, bagaimana akhir kisah Gwen? Apakah dia akan tetap menari? Ataukah ia menyerah atas keinginan orang tuanya? Lalu, pada hati siapakah hati Gwen akan berlabuh?

"Aku tak pernah tahu kamu memperhatikan setiap hal dengan detail.""Memang tidak. Tidak setiap hal. Aku memperhatikanmu"
-- Gwen dan Jared
Sing-Me-Home-Emma-Grace
image credit: wallpaper-house.com, edited by me.

Well, I have to admit that this kind of story is kinda cliche. Even, I can sense the main story of it from the beginning. Akan tetapi, bukan berarti seluruh bagian dari novel ini dapat begitu saja ditebak. Ada bagian, terutama alasan kerasa Mama melarang Gwen menari, yang membuat saya cukup terkejut dan menggumamkan 'oh' pelan.

Kalau menurut saya, pada dasarnya novel ini mengajarkan pembaca untuk tetap berusaha menggapai mimpinya. Satu hal yang positif memang. Saya pun menyetujui premis yang dibawakan oleh Emma Grace, despite I never read her work before. 

Akan tetapi, lagi-lagi bukan berarti saya bisa menyukai karakter-karakter yang ada. Bagi saya, Gwen merupakan sosok yang cukup menyebalkan. Oke, saya memang menghargai kegigihannya, tapi, sisi egois Gwen membuat saya memutar bola mata. 

Kemudian, sosok Jared di sini seolah dibuat menjadi karakter yang 'seharusnya' tidak disukai. Padahal, menurut saya sosok Gwen lah yang membuat Jared seperti tersangka. Heuf. Saya tak tahu harus berkomentar apa.

"Tenang saja, Gwen. Kamu tak harus menjawab atau melakukan apa pun. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan padamu. Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku memberikan buku itu."
-- Jared
Jangan menghancurkan hati orang lain, Gwen. Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia."
-- Hanna
Kemudian, ada satu bagian lagi yang membuat saya mengernyitkan kening. Intinya, Corrine akan dibawa ke Kalimantan untuk mendapatkan penyembuhan. Hmm.. have I read it wrong? Bukannya saya merendahkan, hanya saja.. saya tahu Kalimantan merupakan daerah di Indonesia yang membutuhkan pembangunan. Dan saya tahu hal tersebut tidak mudah. Kalimantan punya pekerjaan rumah yang sangat besar. Jadi, I'm a little bit rolling my eyes when the author write that. I think it's more make sense if she intend to make Corrine goes to Singapore for better medication. But, if I'm wrong about this, just correct me.

Jadi, pada intinya, Sing Me Home merupakan jenis novel yang mudah dicerna. Apalagi karena memang termasuk young adult novel. Hanya saja, saya tidak bisa membuat diri saya jatuh cinta pada karakter yang ada.
"Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya."
-- Ms. Lockhart
2.5 bintang untuk Hanna, sahabat Gwen yang menurut saya masih waras.

Best regards,
Puji P. Rahayu.

0 komentar: