Penerbit Inari,

Resensi: Love Theft - Prisca Primasari

Kamis, Agustus 02, 2018 Puji P. Rahayu 0 Comments


Love Theft
"Saya harus pulang. Bukankah itu tujuan kita pergi? Untuk pulang." -- Night.

oleh Prisca Primasari

4 dari 5 bintang

sumber gambar: goodreads.com
Judul: Love Theft
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Roman
Penyunting: Nur Aini, Elly Putri Andini, Adelaine
Penyelaras Akhir: Seplia
Desainer Sampul: Diwasandhi
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: September 2017
Tebal Buku: 406 halaman
ISBN: 978-602-xxxx-20-4
Baca via Gramedia Digital


Frea Rinata memutuskan untuk cuti dari kuliah musik dan mengistirahatkan biola Stadivarius-nya. 
Untunglah dia punya kehidupan kedua yang lebih menarik, melibatkan seorang pemuda yang dipanggil ‘Liquor’, yang dicintai Frea tanpa sadar. Pemuda itu tergabung dalam perkumpulan pencuri, tapi yang dia curi bukan benda-benda biasa. 
Saat Liquor mencuri sebuah kalung mewah milik seorang gadis terkenal, masalah demi masalah pun terjadi. 
Ketika keadaan semakin runyam, apakah Frea masih berpikir bahwa kehidupan keduanya bersama Liquor ini semenarik yang dia pikirkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Rasa-rasanya, saya sudah lama tidak membaca novel karangan Prisca Primasari. Iya, saya memang baru saja membaca Purple Eyes beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, saya merasa sudah lama sekali tidak membaca cerita Prisca versi panjang. Love Theft merupakan novel Prisca yang awalnya diterbitkan secara mandiri dan terdiri dari dua bagian. Baru kemudian, novel ini diterbitkan ulang menjadi satu buku utuh oleh Penerbit Inari.

Dan hati yang hancur terkadang mengobati diri dengan asal-asalan.
-- Kate DiCamillo dalam Love Theft.
Novel ini menceritakan Frea, seorang mahasiswi sekolah musik yang memutuskan untuk mengambil cuti. Bukan karena apa-apa, hanya saja, Frea merasa kemampuannya di kampus tidak begitu baik. Bahkan, beberapa kali audisi yang ia ikuti, selalu berujung pada kegagalan. Setidanknya, Frea ingin menjauh sebentar dari dunia musik dan lebih tertarik untuk hidup di dunia keduanya. Hidupnya di malah hari yang melibatkan Liquor dan Night.

"Orang nggak bisa selamanya hidup sendirian. Kita selalu butuh tempat untuk bercerita."-- Frea.

Liquor dan Night adalah pencuri yang tergabung dalam organisasi Anthropods. Katanya sih, organisasi tersebut adalah organisasi yang memiliki jiwa Robin Hood. Dalam artian, hasil yang didapatkan dari mencuri akan digunakan untuk beramal. Lalu, mengapa Frea bisa terlibat dalam organisasi tersebut? Karena Anthropods adalah organisasi yang dimiliki oleh paman Frea. Maka dari itu, Frea bisa mengenal Liquor dan Night.

"Saya penjahat. Suatu saat nanti, saya akan jatuh. Saya pasti jatuh. Dan kamu akan pergi. Jadi lebih baik saya menanggungnya sendirian."
--Liquor
Night adalah sosok yang sangat tenang dan juga baik. Mungkin, kalau Night belum menikah, Frea akan menjadikan Night sebagai laki-laki yang ingin ia pacari. Sedangkan Liquor, sikapnya bisa dibilang seratus delapan puluh derajat dari Liquor. Liquor cenderung lebih dingin dan juga tidak mudah digapai. Meskipun demikian, keduanya adalah orang-orang andalan di Anthropods. Hal itulah yang membuat Frea kadang terlibat dalam misi pencurian yang tidak terduga.

"Hidup ini... untuk apa, Frea?"
"Untuk bahagia dan membahagiakan orang lain. Setidaknya menurut saya."
"Kalau kita tidak bisa melakukan dua-duanya?"
"Pasti bisa."
"Kalau tidak bisa?"
"Pasti bisa."
-- Liquor dan Frea.
Suatu ketika, Night memutuskan untuk kembali ke Jepang dan meminta Liquor untuk mengambil pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Awalnya Liquor sempat menolak, akan tetapi akhirnya Liquor menjalankannya. Yakni, mengambil kalung Tiffany & Co milik Coco Kartikaningtyas, seorang perempuan sosialitas yang cukup terkenal. Misi tersebut memang berhasil sih, akan tetapi... ternyata Coco tidak tinggal diam saja. Coco melakukan berbagai macam hal untuk bisa menyudutkan Liquor. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah sebenarnya Coco ini? Yang pasti, apapun itu, hubungan Liquor dan Frea menjadi terancam. 

"Frea."
"Ya?"
"Di sini saja. Jangan pergi."
"Berapa kali saya harus bilang. Saya tidak akan pernah pergi."
-- Liquor dan Frea.

sumber gambar: google.com, disunting oleh saya
Jujur saja, setelah berbagai macam hal yang harus saya kerjakan, membaca novel yang ringan seperti Love Theft ini menajdi hiburan tersendiri bagi saya. Bahkan, saya cenderung senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hubungan Liquor dan Frea dalam novel ini terasa manis. Awalnya saling menyangkal satu sama lain, tapi toh pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat terpisahkan.

"Halo?"
[Kenapa tidak pernah datang lagi?]
"Saya sibuk, banyak tugas. Sudah sarapan?"
[Belum.]
"Terus kalau saya nggak datang dan beliin sarapan kamu nggak makan, gitu?"
-- Frea dan Liquor
Awalnya, saya sudah sebal setengah mati dengan sikap Coco. Penggambarannya sebagai cewek yang menyebalkan itu mengena sekali. Saya sampai malas ketika membaca percakapan Coco. Dia ini, tipikal cewek yang harus dituruti kemauannya. Tentunya, sangat menyebalkan. Di akhir cerita, saya cukup takjub dengan terbongkarnya identitas Coco yang asli. Saya tidak menyangka akan berujung ke sana.

Senyum paling menyakitkan adalah senyum penuh kepedihan.
Kalau ditanya, saya menyukai novel ini dari luar dan dalamnya. Sampul dalam novel ini begitu manis dan tentunya, ceritanya pun juga manis. Saya suka dengan interaksia antara Liquor dan Frea di dalamnya. Bagi saya, manisnya mereka ini pas dan tidak berlebihan. Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya, maka saya akan memilih Liquor. Saya tahu kok, pasti ada alasan yang lebih besar ketika Liquor menjadi sosok yang menutup diri dan seolah-olah tidak mau digapai.

"Masa lalu saya... Apa kamu bisa menerimanya?"
"Kamu pikir saya serendah itu, mau meninggalkan kamu cuma karena masa lalu kamu? Kalau kamu memang mencintai saya, percayalah pada saya."
"Jangan tinggalkan saya."
"Berapa kali saya bilang, Saya tidak akan pernah pergi."
--Liquor dan Frea.
Baiklah, pada intinya, novel ini cukup untuk dijadikan bacaan hangat di kala senggang. Tidak perlu banyak emosi yang dikeluarkan yang pasti. Tipikal novel yang manis dan membuatmu lelah.

"Saya nggak bisa masak."
"Saya tahu."
"Kamu bisa?"
Dia menggeleng.
"Tapi waktu Night sakit kapan hari..."
"Cuma bisa memasak bubur. Saya dulu sering membuat bubur sendiri kalau sakit."
-- Frea dan Liquor
4 bintang untuk hubungan Liquor dan Frea.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 komentar: