Fantasi,

Resensi: Purple Eyes - Prisca Primasari

Jumat, Juli 20, 2018 Puji P. Rahayu 0 Comments


Purple Eyes

oleh Prisca Primasari

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Fantasi, Roman
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: 2016
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 9786027432208
Baca via Gramedia Digital

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entah mengapa, saya tiba-tiba saja tertarik untuk membaca Purple Eyes. Mungkin karena Prisca Primasari adalah salah satu penulis yang begitu familiar bagi saya. Lalu, premis yang dijanjikan dalam Purple Eyes cukup membuat saya tergugah. Well, siapa yang tidak penasaran dengan kisah yang melibatkan dua manusia yang berbeda dunia?

Lyre adalah asisten dari Hades. Iya, tidak perlu terkejut. Hades sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani. Jangan membayangkan Hades selalu berupa buruk dan tidak enak dilihat. Hades dalam kisah ini sungguh rupawan dan tidak begitu menakutkan. Memang tugas dari sang Dewa masih tetap sama, memutuskan kematian bagi para manusia, akan tetapi, pada dasarnya, yang memutuskan untuk mati adalah manusia itu sendiri.

Selama hampir 120 tahun, Lyre menjadi asisten Hades yang paling setia. Pekerjaan Lyre adalah mengantar setiap manusia yang berada di ambang kematian untuk menemui Hades. Hades pun memberikan pilihan bagi manusia tersebut untuk tetap hidup atau mati. Kebanyakan, manusia yang sudah berada di hadapan Hades memilih untuk mati.

Terkadang, sangat mebosankan menjalani kegiatan yang sama berulang-ulang. Sampai akhirnya, Hades ditugaskan untuk turun ke bumi karena ada kasus pembunuhan berantai yang dapat dibilang "merepotkan". Di saat-saat seperti inilah, Hades harus bertindak sebagai Dewa Kematian. Hades pun mengajak Lyre untuk turun bersamanya. Selama penyamaran mereka, Lyre memilih menggunakan nama Solveig dan Hades memakai nama Halstein.

Ketika turun ke bumi itulah, Solveig bertemu dengan Ivarr Amundsen, kakak dari salah satu korban pembunuhan berantai yang terjadi di Norwegia. Ivarr adalah sosok yang dapat dibilang mati rasa. Tidak air mata maupun emosi yang hadir saat adiknya tiada. Akan tetapi, selama Solveig berada di bumi, Halstein memberikan perintah pada Solveig supaya emosi itu muncul kembali dalam diri Ivarr Maka dari itu, Solveig pun sering menemui Ivarr dan... secara tidak langsung mulai membangkitkan emosi Ivarr yang terkubur dalam. Lalu, apa rencana Halstein yang sesungguhnya? Bagaimana, kalau dalam tugas yang tiba-tiba ini, Solveig jatuh cinta pada Ivarr?

"Jangan jatuh cinta padanya. Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu." -- Ivarr.

Rasanya, sudah lama saya mengalami reading slumps. Ya, kira-kira, beberapa bulan ini saya rasanya tidak mampu membaca bacaan ringan sekalipun. Saya benar-benar tidak mampu. Terdengar berlebihan? Mungkin benar. Yang pasti, saya baru bisa mulai membaca beberapa hari ini. Memilih Purple Eyes sebagai bacaan pertama saya setelah reading slumps yang saya alami memang tidak salah. Saya meyukai kisah manis sederhana yang tidak terlalu muluk. Meskipun sederhana, saya menyukai keistimewaan yang terselip di dalamnya.

Awalnya, saya tidak tahu sama sekali kalau Purple Eyes merupakan novel fantasi. Baiklah. Saya hanya tertarik karena novel ini ditulis oleh Prisca. Selebihnya, saya tidak tahu apapun mengenai novel ini. Barulah ketika saya memilah unduhan-unduhan saya di Gramedia Digital, saya baru menyadari bahwa premis yang ditwarkan oleh novel ini begitu menarik. Seorang asisten Dewa Kematian jatuh cinta kepada manusia biasa. Dua orang yang berbeda dunia, saling jatuh cinta. Mengapa mereka bisa jatuh cinta? Lalu, bagaimana akhir dari kisah mereka?

Sesuai dugaan saya, tulisan dari Prisca begitu manis dan menyentuh. Oh, ya, saya tahu, novel ini lebih pantas apabila disebut dengan novellete. Sama seperti French Pink, premis yang diajukan juga sederhana. Novel yang tak lebih dari 150 halaman ini, cukup membuat saya tersenyum manis saat membacanya. Tidak membosankan. Bahkan, saya dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang direncanakan oleh Halstein kepada Ivarr. Saya cukup menyukai proses jatuh cinta antara Solveig dan Ivarr. Meskipun, harus saya akui, saya merasakan sedikit kekosongan di antara mereka.

Sampul dari novel ini mungkin terlihat sedikit... tidak menarik. Entahlah. Saya merasa sampul dari novel ini kurang hidup. Akan tetapi, mungkin itu hanya preferensi saya. Saya mengharapkan ada ilustrasi yang lebih hidup untuk novel ini. Seingat saya, sampul yang dikeluarkan oleh Penerbit Inari lainnya cukup hidup. Sebagai contoh, Love Theft--yang akan saya ulas di postingan selanjutnya. Alangkah baiknya apabila novel ini cetak ulang, akan ada elemen lain yang ditambahkan pada sampulnya.

Bagi saya, Purple Eyes merupakan novel yang tepat untuk dijadikan bacaan ringan. Setidaknya, ditemani kudapan manis dan teh atau cokelat hangat, membaca novel ini bisa menjadi media untuk bersantai,

4 bintang untuk Ivarr Amundsen yang mengesankan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar:

Gramedia Pustaka Utama,

Resensi: Dua Dunia - Luna Torashyngu

Jumat, Juli 20, 2018 Puji P. Rahayu 0 Comments


Dua Dunia

oleh Luna Torashyngu

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Dua Dunia
Penulis: Luna Torayngu
Genre: Young Adult
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 368 halaman
ISBN: 9786020380384
Baca via Gramedia Digital

Ren dan Kya adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan sejak pertama kali masuk SMA 321 hingga sekarang di kelas XI. Ren berpenampilan kalem, pakai kacamata, dan rambut disisir asal saja. Cowok itu irit bicara. Berbeda 180 derajat dengan Kya yang tomboy, suka bicara seenaknya, berani, dan jago karate. Namun, dua kepribadian yang bertolak belakang itu saling melengkapi.

Ren tinggal bersama pamannya, Paman Bagas, yang merawatnya sejak bayi, tepatnya setelah kedua orangtua Ren tewas karena kecelakaan. Setidaknya itulah yang selalu didengar dan diketahui Ren mengenai orangtuanya selama tujuh belas tahu, sebelum sebuah peristiwa dan hadirnya orang-orang asing yang tidak dikenal Ren membuaka jari diri Ren yang sebenarnya… 

Info lengkap dapat dibaca di:

Tiga bulan berlalu sejak saya terakhir kali mem-posting di blog ini. Bukan, kok. Bukannya saya akan berhenti menjadi seorang bloger buku. Sama sekali bukan. Hanya saya, tiga bulan terakhir ini merupakan masa-masa saat saya mengalami reading slumps yang tidak tertahankan. Ketika saya mencoba membaca buku ringan, saya sama sekali tidak tertarik dan akhirnya menyerah. Kalau membaca saja saya tidak mampu, bagaimana mungkin saya bisa menuliskan resensi dari buku yang "rencananya" akan saya baca?

Akan tetapi, harus saya akui, buku ini sudah saya baca sejak dua bulan lalu. Saya sudah membuat draft resensi dari buku ini di cloud telegram saya. Hanya saja, saya baru berkesempatan untuk mem-posting-nya sekarang. Terlambat memang, tapi saya hanya berharap, dengan demikian, semangat saya untuk menulis kembali di blog akan muncul kembali.

Kapan hari, teman saya tiba-tiba saja bertanya kepada saya, "bagaimana kabar blogmu? sering posting?" Well, saya hanya bisa tersenyum getir. Bahkan, membuka laman blogger.com saja tidak saya lakukan. Baiklah, saya membukanya. Tapi, tidak satupun tulisan yang saya hasilkan. Maka dari itu, kali ini, saya terpikir untuk menulis lagi. 

Sudah-sudah. Rasanya prolog saya sudah terlalu panjang. Berikut merupakan resensi untuk salah satu karangan dari Luna Torashyngu. Harus saya akui, Kak Luna adalah salah satu penulis favorit saya. Pertama kali saya membaca novel Kak Luna ketika saya duduk di kelas tujuh SMP. Sudah lama sekali memang. Tapi, saya tetap menyukai gaya bercerita dari Kak Luna. Dua Dunia merupakan satu dari sekian novel Kak Luna yang menurut saya patut untuk dibaca.

***

Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu kenyataan bahwa kamu bukan manusia bumi biasa? Melainkan, salah satu keturunan manusia dari dimensi lain yang punya kemampuan untuk mengeluarkan energi tenaga dalam?

Ren adalah seorang remaja biasa yang terkenal biasa-biasa saja. Tidak punya kemampuan fisik yang luar biasa dan tinggal bersama pamannya, Bagas, karena kedua orang tuanya telah meninggal ketika dia masih kecil. Nyatanya, Ren tidak menduga bahwa dirinya adalah seorang pewaris tunggal Worthwood Inc., sebuah perusahaan multinasional yang berpusat di Inggris. Tidak cukup hanya itu, ternyata, Ren adalah seorang gnome, campuran dari manusia bumi dengan manusia Terra. Menurut ramalan, Ren ditakdirkan untuk mengalahkan Axion, penyihir Terra yang dendam terhadap Efra, ayah Ren.

Di kehidupan remajanya itu, Ren juga memiliki sahabat. Dia adalah Kya, seorang cewek tomboi yang sangat berbakat dalam bela diri. Kya adalah sesosok sahabat yang selalu bisa Ren andalkan kapanpun dan di manapun.

Kehadiran Dilla, teman semasa kecil Kya, membuat persahabatan Kya dan Ren merenggang. Ren menjalin hubungan dengan Dilla dan keduanya saling mencintai. Pada dasarnya, Kya sangat menghargai hubungan Dilla dan Ren. Sayangnya, dia merasa aneh dengan sikap Ren yang perlahan mulai berubah.

Kemudian, kejadian putusnya Dilla dan Ren yang secara tiba-tiba, serta kehadiran para anak buah Axion di muka bumi, membuat persahabatan Ren dan Kya kembali erat. Bahkan, keduanya pun bertekad supaya bisa menyelamatkan Dilla dari cengkeraman Axion. Apakah Ren Dan Kya berhasil mengalahkan penyihir jahat tersebut dan membawa kedamaian di bumi? Simak lebih lanjut cerita di novel terbaru Luna Torashyngu ini.

***

Sejak saya masih duduk di bangku SMP, Luna Torashyngu telah menjadi salah satu penulis favorit saya. Cara Kak Luna bercerita serta kisah yang disajikan membuat saya mudah jatuh hati. Bermula dari kisah pembunuh bayaran, Rachel, hacker berbakat, Muri, dan juga genoid, Fika, membuat saya benar-benar menikmati seluruh karya Kak Luna. Oh, saya juga tidak akan melupakan Angel's Heart, kisah tentang Angel dan Rivi yang membuat saya menangis pertama kali saat membaca novel.

Awalnya, saya sedikit tidak tertarik untuk menbaca novel ini. Apalagi, dari sampulnya yang menurut saya kurang mengundang. Kalau saja saya tidak mengenal karakteristik novel Kak Luna, mungkin saya akan mengurungkan niat untuk mengunduh novel ini di Gramedia Digital. Ternyata, keputusan saya untuk mengunduh novel ini tidak salah. Lagi-lagi saya terhibur dengan kisah yang disajikan oleh Kak Luna.

Well, semakin ke sini, semakin banyak keterkaitan dari semua tokoh karya Kak Luna. Saya cukup kagum dengan Cara Kak Luna menyambungkan seluruh kisah mereka. 

Cukup berbeda dengan karya-karyanya yang lain, Dua Dunia mengambil setting bumi dan juga dunia paralelnya, yakni Terra. Kalau di karya lainnya akan terasa sangat masuk akal dan modernis, maka di Dua Dunia, kita akan diajak kembali untuk merasakan dunia sihir dan kekuatan tenaga dalam. Agak tidak biasa menurut saya. Apalagi, dalam kisah-kisah sebelumnya, Kak Luna selalu menggambarkan tokohnya yang menggunakan berbagai macam teknologi modern dan terkini. Jadi, ketika membaca novel ini di awal, saya cukup mengernyitkan dahi karena tenaga dalam dan kekuatan sihir disebut-sebut.

Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya dalam novel ini, mungkin saya akan memilih Kya. Iya. Saya suka gaya Kya yang tetap perhatian pada temannya. Meskipun kalau ditanya saya malah lebih penasaran dengan Kyu, saudara kembar Kya. Mungkinkah di sekuel selanjutnya, Kyu akan muncul kembali dan memiliki peran yang lebih besar? Mungkin saja.

Nah, jadi buat kalian yang menginginkam bacaan yang cukup menantang tapi tetap khas teenlit, maka Dua Dunia bisa menjadi pilihan untuk kalian.

3 bintang untuk persahabatan Ren dan Kya.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

0 komentar: