ARC,

ARC Review: Happy Birthday! - Mamoru Suzuki

Sabtu, Agustus 26, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


Happy Birthday!
It doesn't matter how far you go; I will love you. Always.

by Mamoru Suzuki

4 of 5 stars

Image source: Goodreads
Title: Happy Birthday
Author: Mamoru Suzuki
Genre: Children's fiction, illustration book
Publisher: Museyon
Expected publication: November, 1st 2017
Number of pages: 32 pages
ISBN: 9781940842202
I got this ARC via Netgalley in exchange for an honest review

The occasion of a birthday provide the opportunity to look back at the long days spent waiting patiently for the baby to be born, the special day it arrives, and the miraculous perfection of every stage of its growth. Soft, warm colors and cozy images are accompanied by a spare text that perfectly captures the all-encompassing love parents for their children. This birthday book will resonate with anyone who has loved a child. It is a gift that every child deserves.

More info about this book:

Children's fiction would be one of my favorite genre. It wouldn't take too much time and, yeah, it doesn't need much effort to read it. When I remade account in Netgalley, I started to interest with children's fiction. One of them is this Mamoru Suzuki's work. Actually, I started to interest with this book because of the cover. Eugh, I couldn't resist a cat picture like that. So much cute.

My most favorite illustration in this book.
In essence, this book told us about a short letter from a mother to her son. The mother told her son about how he grew up from inside her tummy until when he could go anywhere. It was just a reminder about one special day when he could see the world with his own eyes. It's just a reminder that, no matter how far he would go, his mother would always remember everything about him.

I like Suzuki's work actually. The illustrations was cute and still tho, I like the cat. I always sad when I remember that my cat has been gone. But then, I still love cat. Even though this book was really thin--eugh, I just can hope that this book would be thicker, the simplest value from it has been delivered neatly. 

Finishing this book, make me wonder how's the other Suzuki's work.

Four stars for the cat.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Naela Ali,

Resensi: Stories for Rainy Days - Naela Ali

Kamis, Agustus 24, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


Stories for Rainy Days
Hearts could't lie and being honest wasn't that bad

oleh Naela Ali

5 dari 5 bintang


Sumber gambar: goodreads
Judul buku: Stories for Rainy Days
Penulis: Naela Ali
Desainer: Naela Ali
Ilustrator: Naela Ali
Editor: Katrine Gabby Kusuma
Penerbit: POP, imprint dari KPG
Tahun terbit: Mei 2016
Tebal buku: ix+198 halaman
ISBN: 978-602-424-059-2
Baca via Scoop

It was a rainy day, with a hot darjeeling tea, warm striped blanket and polka dot socks. One perfect moment to read stories for cats.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sekian kali aku pergi ke toko buku, aku selalu tertarik dengan Stories for Rainy Days. Sampulnya yang cantik dan sederhana membuatku penasaran dengan isinya. Sampai suatu ketika, akhirnya aku berlangganan Scoop premium bersama empat orang lainnya. Berhubung aku kemarin pergi ke Yogyakarta dan tidak mendapat sinyal dengan benar, akhirnya kuhabiskan waktuku dengan membaca buku quote ini.

Back to the term of feelings... my heart knew so well that I did really want to stay like that forever. To always have that feeling, so good it almost hurts. I wanted to stay in love with that man. I wanted to always be sure that only death could tear us apart. I wanted to believe in those stuffs but it was delusional. You can not always get what you want even if you want to. Things not always turn to be the one you hoped it would be. --pg. 14.

Tentunya, yang membuat buku ini menarik adalah karena ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalamnya. Naela Ali berhasil membuatku jatuh cinta dengan gambar-gambarnya. Sederhana tapi cantik. Aku suka konsep buku ini. Lalu, kutipan-kutipan yang ada di buku ini pun, in some way, sangat mengena bagiku.

And it was then when I started to think that I fell for that man. I wanted to hear him talking and I looked forward to his chats. That was enough for me to realize I wanted him. Yeah, really, I wasn't type of listener and chatter as well do when I did want to listen and chat with someone, that means something.

Ya emang sih, aku ini orangnya drama. Jadi, banyak sekali kutipan yang.. apa ya? Intinya sih, I could relate with. Jumlah halaman yang tidak terlalu banyak pun, membuatku betah untuk membaca sampai akhir. Kalau tidak salah, aku hanya perlu waktu beberapa jama saja untuk menyelesaikan membaca buku ini--dengan catatan, aku membaca di sela-sela kegiatan.

Love is when you can do stupid things together. Love is when you can completely be yourself. Love is the most comfortable thing. Love is home. And that day, I found a home that I won't leave.

Kebanyakan tulisan yang ada di Stories for Rainy Days adalah mengenai hubungan. Iya, hubungan antara dua orang. Tentang kebahagiaan saat bisa bersama, kesedihan saat berpisah, kegamangan saat belum tahu hubungan tersebut mau kemana, hingga rasa frustrasi karena hubungan yang dijalani. Aku setuju, akan menyenangkan bila membaca buku ini saat turun hujan. Ditemani oleh segelas cokelat panas untuk mendamaikan hati. Aku suka cara Naela bercerita dan aku suka penggambarannya.

Every word has its own specific meaning written in the dictionary. But, as a human who can feel and think, we sometimes have our own definitions on what actually certain word means for us. 

No matter how bad our relationship was, there would always be something to learn. I learnt to accept things. i learnt more about patience. I learnt that love was not always about taking but also about giving. I learnt that if things were not meant to be, it would never be.

One thing for sure, I read this book when my feeling was unstable. I means, I could relate with almost of the story, because in some way, I was in that condition. Felling so blue, lonely, sad, and other. I know that I am a drama queen. So, I felt this book is "so me". Yeah. Know it. It's claiming. But then, I love Naela's work. It's beautiful and make me feel good when I read it. At least, to ease my feeling, right?

I'm tired of feeling things that I should never feel. I'm tired of hoping things that I should never hope. I'm tired of loving the one I should never love. I'm tired of missing the one I should never miss. I'm tired if being tiredly tired to feel tired of something so tiring.

I can't wait to read the second volume of this book. Five stars for Naela's work. I love it.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Fantasy,

Resensi: The Rose and the Dagger - Renee Ahdieh

Minggu, Agustus 13, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


The Rose and the Dagger
Beberapa rahasia lebih aman berada di belakang kunci.

oleh Renee Ahdieh


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: The Rose and the Dagger
Seri: The Wrath and the Dawn #2
Penulis: Renee Ahdieh
Genre: Fantasi, Young Adult, Romance
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gaby Kusuma
Penata letak dan perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: POP (Imprint dari KPG)
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: viii+486 halaman
ISBN: 978-602-242-418-03

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.
Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….
Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Menjadi seorang pemimpin dalam tatanan struktur monarki bukanlah hal yang mudah. Meskipun takhta dalam sebuah kerajaan berdasarkan keturunan, nyatanya tidak menjamin setiap orang dapat mempercayai kemampuan dan kapabilitas dari pemimpin tersebut. Bayang-bayang pemimpin sebelumnya akan terus membayangi. Menjadi pemimpin Khorasan memang tidak mudah bagi Khalid. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia mendapat kutukan yang tidak bisa ia bagikan pada orang lain, membuat Khalid semakin tidak dipercaya oleh rakyatnya sendiri.

"Percayalah apa yang kau pilih untuk percayai. Tapi tetap saja, buktinya berdiri di hadapanmu." Shahrzad, hlm. 52
Sepenggal Cerita
Semenjak serangan yang dilancarkan di Rey, Shahrzad tinggal di padang gurun bersama dengan Tariq dan suku Badawi. Di sana pula, Ayah Shahrzad--Jahandar, dirawat. Adik Shahrzad, Irsa, juga tinggal di tempat itu. Di sana pulalah, Shahrzad mulai mengetahui kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Di lain sisi, Khalid menyadari bahwa peperangan di Khorasan tidak dapat terhindarkan. Perselisihan dengan pamannya--Sultan Parthia, semakin memperumit keadaan. Belum lagi, kutukan yang masih menjadi beban Khalid masih belum dapat disembuhkan.

"Tapi jika kau bertanya kepadaku, cara terbaik untuk terbang adalah dengan memotong tali yang mengikatmu ke tanah..." Shiva, hlm. 68.
"Ketika aku berada di padang gurun, aku bangun setiap hari dan melanjutkan hidupku, tapi itu bukan hidup; aku hanya ada. Aku ingin hidup. Kaulah tempatku hidup." Shahrzad, hlm. 202
Dalam buku kedua ini, cerita mulai fokus pada kutukan Khalid dan juga kemungkinan perang antara Khorasan dan juga Parthia. Kisah romansa dari para tokoh pun mulai terlihat. Antara Khalid-Shahrzad-Tariq, Irsa dan Rahim, hingga Despina dan Jalal. Hemm. Baiklah. Aku sangat menyadari kalau novel ini pada akhirnya memang novel roman yang terbalut fantasi.

Resensi The Rose and the Dagger oleh Puji P. Rahayu
Sekelumit Pendapat
Entahlah. Setelah aku menyelesaikan membaca novel ini--yang membutuhkan waktu hampir dua minggu lebih, aku merasa kosong. Dalam artian, tidak banyak yang dapat kuingat saat membaca buku bersampul biru ini. Entah karena aku sedang tidak mood membaca atau bagaimana. Yang pasti, aku merasa tidak terlalu sreg saat membacanya.

Oh, bukan berarti aku tak menyukai ceritanya, ya. I means, aku masih penasaran dengan akhir ceritanya. Sejak buku satu pun, aku sudah penasaran dengan kelanjutannya. Yaa, itu sebenarnya karena banyak banget celah yang ada di buku satu. Jadinya, aku berharap kalau di buku dua akan ada penjelasannya. Nyatanya... aku kurang puas dengan penjelasan di buku dua :( Menurutku banyak missing link dalam ceritanya. Bahkan, aku merasa kalau penyelesaian konfliknya... yaaa... gitu-gitu aja. Kurang seru. *digampar. 

"Ketika kita dihadapkan kepada ketakutan tergelap, tidak bertindak adalah pilihan bagi mereka yang lemah atau putus asa. Selalu ada sesuatu yang dapat dikatakan atau dilakukan. Meskipun kata-kata--"
"Hanyalah goresan di atas kertas." Musa dan Khalid

Kesimpulan
Terlepas dari ketidak-sreg-anku terhadap buku ini, aku masih merasa kalau duologi The Wrath and the Dawn masih worth to read. Disclaimer aja, sih. Jangan terlalu berharap fantasinya akan meluber-luber, ya. Aku masih merasa duologi ini memang banyak romans-nya. Hoho.

"Jadilah awal dan akhir, Shahrzad al-Khayzuran. Jadilah lebih kuat dari segala sesuatu di sekitarmu." Rajput, hlm. 393
3 bintang untuk kisah 1001 malam yang menawan ini.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar:

Gramedia Pustaka Utama,

Resensi: Pasung Jiwa - Okky Madasari

Minggu, Agustus 13, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


Pasung Jiwa
Kita mungkin punya kehendak bebas. Mungkin. Tapi toh pada akhirnya, ada yang membatasi segala kehendak yang kita miliki itu.

oleh Okky Madasari

4 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Judul: Pasung Jiwa
Penulis: Okky Madasari
Desai sampul: Rizky Wicaksono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei, 2013
Tebal buku: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-9669-3
Baca via iJakarta


Apakah kehendak bebas benar-benar ada?Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Pernahkah kalian memikirkan, apakah kehendak bebas itu benar-benar ada? Memang dikatakan kalau Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat karena kita adalah manusia. HAM merupakan satu hal yang universal dan dimiliki oleh setiap orang, dimanapun mereka berbeda. Adanya HAM seolah-olah menjamin bahwa kebebasan seseorang dalam berlaku dan bertindak dapat terjadi. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah setiap keputusan yang kita ambil, tindakan yang kita lakukan, murni pengejawantahan dari kehendak bebas yang kita miliki? Apakah benar, kita ini memiliki kehendak bebas? Bukankah pada akhirnya keseluruhan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan merupakan hasil kontemplasi dari batasan-batasan yang ada dalam masyarakat? Batasan-batasan yang tanpa sadar telah mengekang kehendak bebas kita.

Tak pentinglah bagaimana orang memanggilku. Karena aku tetaplah aku. Tak peduli bagaimana wujudku, aku tetaplah aku. -- hlm. 56 

Sepenggal Cerita
Sasana dan Jaka Wani. Dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Akan tetapi, dapat bertemu dan saling bekerja sama untuk mencapai keinginan terdalam mereka, bebas sebagai seorang manusia.

Bagi Sasana, musik dangsut merupakan bentuk kebebasan yang ia inginkan. Sejak kecil. orang tuanya menginginkan Sasana untuk belajar musik klasik. Kursus piano setiap dua minggu sekali membuat Sasana dapat menghafal berbagai komposisi gubahan Mozart, Bach, dan lainnya. Meskipun terlihat Sasana menguasai semua hal dalam hidupnya--baik dalam bermusik maupun prestasi akademik, Sasana menyadari, jiwanya berontak. Ia tak tahan harus berpura-pura menyukai hal yang tak ia sukai. Suatu ketika, Sasana tak sengaja mendengarkan musik dangdut dari kampung di belakang rumahnya. Sejak saat itu, Sasana menyadari bahwa dirinya ingin bebas. Bebas dari segala tuntutan yang dilayangkan padanya.

Tempat ini akan menyelamatkanku dari ketidakwarasan. Ini tempat pembebasan. Bebas dari ketakutan, bebas dari kesintingan. Saat semua yang sinting adalah normal, saat kewarasan adalah keanehan. Apa yang tak boleh kulakukan di sini? Aku sedang tidak waras.

Jaka Wani atau yang sering dipanggil Cak Jek hanyalah seorang pengamen biasa. Bersama dengan Sasa, Cak Jek berusaha menunjukkan kecintaannya terhadap musik. Tak ia pedulikan keseluruhan tatanan dan norma dalam masyarakat yang terkadang memandang rendah pekerjaan yang ia geluti. Bagi Cak Jek, musik sudah menjadi darahnya. Darah yang mengalir di tubuhnya tanpa kenal henti.

Pertemuan Jaka Wani dan Sasana layaknya sebuah takdir. Mereka dipertemukan, disatukan oleh satu tujuan, kemudian dipisahkan oleh pasung-pasung kebebasan. Sasana yang harus menghadapi penjara ketidakwarasan dan Jaka Wani yang harus berjuang menjadi mesin di sebuah pabrik. Keduanya menyadari, apa yang mereka alami adalah suatu bentuk penahanan kebebasan yang mereka miliki. Kebebasan yang entah kapan dapat mereka raih. Nyatanya, apa yang ada di masayrakat, telah membatasi kehendak bebas mereka.

"Pikiranku ini sebenarnya bukan punyaku. Ini pikiran banyak orang yang kebetulan saja ada di dalam diriku." Banua, hlm. 137. 
"Jika kebebasan itu ada, aku tak akan pernah ketakutan lagi. Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tidak ada." Sasana, pg. 144 

Secuil Pendapat
Membaca Pasung Jiwa memang tidak semudah yang aku bayangkan. Sejak aku membaca Entrok, aku memang cukup penasaran dengan semua novel karangan Okky Madasari. Aku tertarik dengan cara Okky menyampaikan berbagai bentuk kritik sosial dalam bentuk cerita. Aku puas membaca Entrok karena di sanalah, Okky mengungkapkan pendapatnya akan sejarah hingga feminisme. Dalam Pasung Jiwa, aku seolah-olah diajak untuk menyelami mengenai makna kebebasan--and to some extent tentang kewarasan. Setelah aku membaca novel ini pun, aku semakin sadar, apa yang ada di dunia ini, apa itu baik, buruk, normal, tidak normal, waras, dan tidak waras hanyalah konstruksi sosial yang dibuat oleh masyarakat. Aturan dan tatanan yang ada, nyatanya semakin membatasi kehendak bebas yang kita miliki.

Resensi Pasung Jiwa oleh Pui P. Rahayu
Mungkin banyak yang merasa aneh saat membaca Pasung Jiwa. Aku akui memang tidak memudah membacanya. Akan tetapi, aku cukup senang membaca novel yang membuatku berpikir lagi akan kehidupan. Dari awal pun, aku sudah skeptis dengan adanya "kenormalan" dan kebalikannya. Bagiku, tetap saja masyarakat yang menentukan apa itu normal dan tidak.

Kesimpulan
Hidup sebagai manusia itu tidak mudah. Menjadi normal mungkin saja telah membuat diri kita menjadi tidak normal. Membuat jiwa kita terpasung sedemikian rupa. Untuk kalian yang ingin menelaah lebih lanjut akan kehidupan, Pasung Jiwa bisa menjadi pilihan untuk dibaca.

"Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda."
Seluruh hidupku adalah perangkap.Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku. — Sasana, hlm. 293.
4 bintang untuk Sasana dan juga Jaka Wani.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

0 komentar: