Resensi: Rumah Ilalang - Stebby Julionatan


Rumah Ilalang
Cinta boleh jadi menjadi urusan personal, akan tetapi kematian adalah urusan sosial.

Image: Goodreads
Judul: Rumah Ilalang
Penulis: Stebby Julionatan
Penerbit: Basabasi
Tebal buku: 136 halaman
Tahun terbit: 2019
Buntelan dari penulis

Selepas kematian Tabita, Tania tampak begitu terpukul. Jenazah Tabita tak bisa dimakamkan. Ia ditolak di mana pun. Tidak di pemakaman muslim, maupun hanya untuk mendapatkan pelayanan kematian dari gereja. Kolom agama di KTP Tabita memang Islam, tapi di tahun-tahun akhir hidupnya, banyak orang yang melihat Tabita rutin mengikuti misa Minggu. Pelayanan kematian itu tak dapat diberikan karena--meski Tabita rajin mengikuti misa, tak sekalipun ia terdaftar sebagai warga jemaat. Terlebih, ia adalah seorang waria.
Usaha Tania memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bagi sahabatnya untuk dimakamkan dengan layak, mempertemukannya pada kenyataan yang lain. Tentang latar belakang keluarganya, tentang keluarga Gosvino—pria seminarian yang mati-matian dicintai Tabita, tentang kelamnya rasa iri di antara para waria dan tentang dunia yang semakin tak manusiawi.
Semuanya seperti rumah yang dibangun dari ilalang. Rapuh. Mudah terbakar dan diterbangkan angin.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Bagi saya, Rumah Ilalang adalah penyegar di tengah peliknya pembahasan isu SARA yang ada di Indonesia.

Kala itu, saya berkesempatan untuk mengulas buku terbaru karya Stebby Julionatan yang diterbitkan oleh Basabasi. Menilik sinopsisnya, tentu saya penasaran akan apa yang ingin diangkat oleh Stebby dalam buku dengan sampul bergambar peti mati itu.

Dia adalah Tabita. Seorang transgender yang begitu teguh memegang prinsipnya. Ketika sang ayah, Hanung Bramantyo, tak dapat menerima keadaan Tabita--yang bernama asli Alang dan diambil dari nama Ilalang, maka Tabita memutuskan untuk pergi dari rumah dan mulai menata kehidupannya dari awal. Beruntung ada Mami Nancy yang membantu Tabita untuk bertahan hidup. Dalam kehidupan yang baru tersebut itulah, Tabita perlahan mulai memahami makna kehidupan yang sebenarnya. Mulai dari orientasi seksualnya, identitas gender yang ia ilhami, agama, hingga hal sesuci cinta. 

Tentu tidak mudah bagi seorang Tabita untuk menjalani peran dalam hidupnya. Akan tetapi, yang namanya manusia, pasti pada akhirnya dapat menemui kesulitan. Itulah yang dialami Tabita. Impiannya untuk bisa hidup damai bersama dengan orang yang ia cintai menjadi angin belaka. Sekarang, tubuhnya telah terbujur kaku. Tiada lagi rasa hangat yang menguar darinya. Ia telah berpulang kepada Sang Pencipta.

Bagi Tania, Tabita adalah sahabat terbaiknya. Mendengar kabar bahwa Tabita meninggal dunia merupakan hal yang tak ia sangka. Belum kesedihan tersebut berakhir, Tania harus menghadapi kenyataan bahwa jenazah Tabita menemui masalah ketika akan dikuburkan. Tabita memang menyandang agama Islam. Hal itu jelas tertera di dalam kartu identitasnya. Akan tetapi, beberapa waktu terakhir semasa hidupnya, Tabitha rajin beribadah di gereja. Sayangnya, ia juga tak bisa dimakamkan secara Nasrani karena ia tidak terdaftar sebagai jemaat. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Tania?

***

Mengangkat tema yang sensitif seperti agama dan juga SOGI (Sexual orientation and gender identity) merupakan hal yang cukup jarang dilakukan oleh penulis di Indonesia. Apalagi, dengan semakin maraknya narasi-narasi "kebangsaan" dan "kaum mayoritas" yang selalu menghiasi berbagai kanal media. Rasanya memang tidak mungkin karya seperti Rumah Ilalang dapat betul-betul hadir di hadapan pembaca. Akan tetapi, nyatanya Stebby berhasil mengangkat isu tersebut dan menjadikan Rumah Ilalang sebagai pembelajaran.

Menggunakan alur flashback, Stebby mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan Tabitha. Namun demikian, Stebby tak hanya berfokus pada sudut pandang Tabita saja. Ia juga mengambil cerita dari sudut pandang Tania, Mami Nancy, orang tua Tabita, bahkan dari sudut pandang Gosvino, pria yang dikasihi oleh Tabita.

Memang penggunaan banyak sudut pandang ini membuat cerita sulit terfokus. Akan tetapi, dengan demikian, pembaca akan lebih memahami emosi dari masing-masing tokoh. Sekilas, saya melihat profil Stebby yang dulunya juga pernah menuliskan kumpulan puisi. Tak heran apabila bahasa yang ia gunakan cukup puitis dan juga mendayu. Bukanlah suatu masalah besar karena hal tersebut malah membuat cerita ini menarik dengan sendirinya.

Meskipun tipis, saya cukup menikmati kala membaca Rumah Ilalang ini. Ceirtanya mengalir tanpa bermaksud menggurui. Saya cukup salut dengan cara Stebby mengeksekusi akhir kisah Tabita. Ada sedikit plot twist yang tidak saya tebak ketika saya membacanya.

Saya tidak tahu apakah buku ini menjadi suatu hal yang kontroversial atau tidak--bagaimanapun isu yang diangkat lumayan sensitif bagi kaum yang merasa bahwa diri mereka benar itu. Akan tetapi, untuk pembaca yang gemar mendalami isu-isu ini, saya sarankan untuk sejenak membuka lembar demi lembar kisah Tabita ini. Saya rasa, sebagai sebuah perenungan, Rumah Ilalang telah berhasil menjalankan perannya.

Kalau untuk segi penyuntingan, nampaknya telah dibahas lebih lanjut oleh peresensi lain. Ya, saya juga setuju dengan beberapa pendapat mereka. But, I believe, Stebby can do more than this. Semoga ke depannya menjadi lebih baik :)

3 bintang untuk ketabahan Tabita dan juga Tania.

Kindly note:
I've got this book directly from the author, but unfortunately, I didn't realized that my landlady has received this book from more or less one month ago. After, Mas Dion reminded me to review this book, I tried to check it in the lobby of my rent room. Then, I found this book under other's package. So, I apologize for the delay review.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Review GoMassage: Layanan Asyik yang Enggak Dusta


Review GoMassage ala saya. Ya, supaya kalian tahu kalau ini tidak dusta.

Dulu, setiap libur semester, saya selalu menyempatkan untuk pijat di tukang pijat langganan yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Oh ya, sekadar informasi, saya memang warga asli ibukota. Jadi, masa-masa ketika pulang ke kampung halaman itu menyenangkan. Bahkan, menjadi satu hal yang saya tunggu-tunggu.

Akan tetapi, kebiasaan tersebut lama-kelamaan menjadi hilang. Bukannya apa-apa. Ketika saya sudah mulai bekerja, saya tidak punya kebebasan selayaknya ketika saya masih berkuliah untuk pulang ke rumah. Jadilah saya lama sekali tidak merasakan dipijat lagi. Sungguh hal yang membuat saya cukup rindu rumah.

Masih saya ingat kala itu saya memang sering kali pulang malam. Sampai di indekos pukul 11 saja sudah merupakan keajaiban--yaa, untungnya RUU KUHP belum disahkan. Bisa-bisa saya dihukum karena ngelayap di waktu selarut itu. Intinya, waktu itu pola hidup saya memang enggak sehat. Pulang malam, begadang untuk mempersiapkan bahan kerjaan untuk esok harinya, makan tidak teratur, dan tidak rajin pula berolahraga. Alhasil, saya pun ambruk. Iya. Saya jatuh sakit. Rasa-rasanya saya tak sanggup untuk sekadar bangun. Akan tetapi, setelah saya periksa, tidak ada hal serius yang menimpa saya. Hanya saja saya memang kecapekan.

Setelah saya lumayan pulih, saya jadi teringat, kira-kira, apakah ada alternatif untuk membuat tubuh saya menjadi lebih segar? Hmm. Akhirnya saya teringat kalau GoLife menyediakan layanan untuk pijat alias GoMassage. Jujur, saya enggak pernah punya bayangan apakah saya akan puas dengan layanan ini. Akhirnya, setelah saya mencoba bertanya pada kakak saya, serta mencari review GoMassage di mesin pencarian, saya pun menabahkan hati untuk mencoba memesan layanan ini.

Review-GoMassage
Image: Canva, edited by me.
Well, saya enggak akan memungkiri kalau saya sedikit harap-harap cemas waktu memesan. Takutnya saya kecewa nantinya. Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya ada mitra GoMassage yang menerima pesanan saya. Kemudian, kami berkomunikasi secara singkat sembari saya memberikan arahan kepada Mbak Mitra--mari kita sebut demikian untuk menjaga privasi mbaknya. Eheheh.

Sebelum menuju indekos saya, Mbak Mitra sempat menanyakan kepada saya, apa saya punya preferensi untuk lulur yang akan ia gunakan nantinya. Oh, iya, sekadar info, saya waktu itu memesan paket Full Body Massage & Scrub. Jadi, Mbak Mitra menanyakan preferensi saya. Jujur, saya enggak punya preferensi. Jadi, saya manut apa kata Mbak Mitra.

Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Mbak Mitra sampai ke Indekos saya. Dia pun menjelaskan secara singkat mekanisme kerja yang akan ia lakukan. Full Body Massage akan memakan waktu kurang lebih 60 menit, dan proses scrub akan memakan waktu selama 30 menit. Oh iya, kalian bisa memilih dengan bebas lho durasi yang kalian mau untuk setiap layanan yang kalian pesan. Jadi, layanan GoLife ini akan menyesuaikan dengan kenyamanan kalian.

Akhirnya, proses massage dan scrub pun dilakukan. Sembari mengobrol, saya merasakan nyamannya pijatan dari Mbak Mitra. Hmm. Seenggaknya, dengan ada layanan ini, saya enggak perlu lagi bingung mencari tukang pijat. Apalagi, saya juga bisa mendapat layanan scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang mungkin sudah menumpuk. Alhasil, setelah selesai proses massage dan scrub, badan saya terasa lebih ringan dan lemas. Belum lagi, saya merasa kotoran-kotoran yang ada di kulit saya telah terangkat. Pokoknya, saya merasa lebih nyaman.

Jadi, intinya, mengapa sih saya ingin menobatkan layanan GoMassage sebagai layanan asyik yang enggak dusta. Berikut beberapa alasannya.

1. Menyesuaikan keinginan pelanggan

Pada dasarnya, layanan GoMassage ini beragam. Enggak cuma full body massage (ini masuknya di Body Rejuvenation), tapi juga ada Reflexology, Beauty Massage, Service at Event, dan juga Mom & Kids Massage. Intinya sih, banyak pilihannya. Durasi dari layanan ini juga bisa disesuaikan dengan selera. Mau cuma 90 menit, atau bahkan 120 menit, disilakan.

Pilihan layanan GoMassage. Image: Tangkapan layar ponsel saya.


2. Bisa dipanggil kapan saja


Sering pulang malam dari kantor dan di hari Sabtu-Minggu banyak acara, tenang saja. Layanan GoMassage akan menyediakan layanan kapan saja. Jadi, kamu bisa memesan layanan ini di waktu senggang kamu.

3. Harga yang terjangkau

Oh, ayolah. Semua juga pasti mencari kriteria yang satu ini dari suatu layanan jasa. Saya juga termasuk di antaranya. Nah, beruntungnya, banyak lho voucher yang ditawarkan oleh GoLife untuk menikmati layanan GoMassage ini. Jadi, dijamin deh harganya terjangkau.

Nah, kalau ditanya, apakah saya akan melakukan pemesanan layanan ini kembali? Tentu, apalagi kalau tubuh saya rasanya sudah mau rontok. Saya butuh pijatan dari terapis handal dari GoMassage.

Sekian dari saya untuk review kali ini.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi Film: Bebas (2019)


Bebas
Bukan berarti nama geng kita Bebas, orang Bebas macem-macem sama kita.


Film bebas. Sumber: IMDb
Judul: Bebas
Sutradara: Riri Riza
Penulis: Gina S. Noer dan Mira Lesmana
Pemain: Sheryl Sheinafia, Maizura, Agatha Priscilla,
Produksi Miles Film
Tanggal rilis: 3 Oktober 2019
Ditonton di Cinemaxx Depok Town Square
Diadaptasi dari film Korea, Sunny

A group of five girls and one boy becomes best friends since high school. One tragic event had to split them apart. 23 years later, one of them lay dying in a hospital. She hopes she could see all five of her old friends for the last time.

***

Bagi Vina (Marsha Timothy), hidup mengikuti arus adalah hal yang lumrah. Menjadi ibu rumah tangga dan mendedikasikan waktu untuk keluarga sudahlah cukup. Suatu ketika, Vina sedang melakukan kunjungan rutin pada ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Tetiba saja, ia tak sengaja melihat karangan bunga dengan nama yang cukup familiar dengannya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Vina memutuskan untuk masuk ke kamar pasien yang namanya cukup familiar itu. Dan ternyata, ia menemukan kawan lamanya semasa SMA, Kris (Susan Bachtiar).

Pertemuan tersebut membuat Vina rindu sekaligus sedih melihat keadaan Kris yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan dua bulan. Maka dari itu, akhirnya Kris meminta Vina memenuhi permintaan terakhirnya, yakni mengumpulkan teman satu geng mereka di masa SMA, geng Bebas. Dengan bermodalkan beberapa informasi, akhirnya Vina berhasil menemukan Jessica (Indy Barends) dan juga Jojo (Baim Wong). Akan tetapi, nampaknya bagi Vina, pertemuannya kembali dengan geng Bebas memberikan makna lain bagi kehidupannya.

Dalam penceritaannya, ada beberapa kilas balik yang ditampilkan, yakni kilas balik ke masa-masa SMA geng Bebas. Pada tahun 1996, Vina remaja (Maizura) baru saja pindah dari kota asalnya, Sumedang ke Jakarta. Dengan logat Sunda khas serta cap murid baru, tentu Vina sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan pergaulan Jakarta. Untungnya, ia berhasil berteman dengan Kris (Sheryl Sheinafia) yang punya nasib yang sama dengan Vina, memiliki nama yang sama dengan penyanyi terkenal se-Indonesia raya. Yap, Vina dengan Vina Panduwinata, dan Kris dengan Krisdayanti. 

Selain dengan Kris, Vina juga berteman dengan Jessica (Agatha Priscilla), si gadis yang paling suka bersolek dan mementingkan penampilan, Jojo (Baskara Mahendra), satu-satunya cowok anggota Geng Bebas yang paling jago menari, Gina (Zulfa Maharani), si tegas yang ingin sekali seperti mamanya yang independen, dan juga Suci (Lutesha) yang paling cantik dan dijuluki primadona sekolah.

Hari-hari Vina di SMA dipenuhi dengan canda tawa bersama dengan Geng Bebas. Ia pun juga mulai mengenal rasa cinta ketika bertemu dengan Jaka (Kevin Ardilova). Sayangnya, kebersamaan Geng Bebas tidak dapat berjalan sedemikian rupa karena adanya masalah yang menimpa mereka.

Apa masalah yang menimpa mereka? Kisah-kisah apa yang melingkupi kehidupan mereka? Sebaiknya, kalian tonton sendiri film unik yang satu ini.

Ilustrasi film Bebas. Disunting oleh saya.
Another good movie from Indonesia

Setelah beberapa bulan lalu kita dibanjiri oleh film Joker yang terkenal sangat depresif, maka dapat dibilang kalau film Bebas ini adalah penawar. Saya memang tidak menonton film aslinya, akan tetapi, saya memang merasakan ada sense adaptasi dari film ini. 

Banyak hal yang saya suka dari film Bebas. Karakter-karakter yang muncul bagi saya cukup believable. Kemudian, persahabatn di antara Vina, Kris, Jessica, Gina, Jojo, dan juga Suci menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini. Pelajaran-pelajaran yang ingin disampaikan pun cukup mendalam dan tentunya tidak mengulang premis-premis tak penting dari fim remaja kebanyakan.

Saya rasa, porsi dari persahabatan, romansa, serta diselingi oleh beberapa fakta yang terjadi di sekitar tahun 1996 begitu relevan. Gina S. Noer dan Mira Lesmana berhasil menyajikan alur yang khas dan membuat saya berhasil engage dengan film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Riri Riza juga telah piawai melakukan perannya sebagai sutradara. Yang pasti, film ini menjadi layak untuk ditonton.

Setelah menonton film ini, saya memang sempat menonton review yang dibuat oleh Cine Crib. Jujur, saya setuju dengan pernyataan mereka. Kenapa sih Suci dewasa tidak terlalu signifikan perannya? Akan tetapi, saya ingat apa yang dikatakan oleh Razak, host dari Cine Crib, bahwa di film Korea-nya pun, sosok Suci memang demikian. Hal ini membuat saya penasaran akan versi Korea dari film Bebas.

Selain alur yang apik dan pemain-pemain yang ciamik, saya juga mengagumi lagu yang digunakan sebagai soundtrack. Yap, Iwa K berhasil menggubah lagu Bebas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika dinyanyikan ulang bersama dengan Sheryl, Maizura, dan juga Agatha. Lagu ini menjadi mudah tersangkut di otak. 

Kalau ditanya scene favorit saya adalah saat Vina dewasa bersama dengan Jessica, Jojo, dan juga Kris--yang pertama kalinya keluar semenjak dirawat di rumah sakit, melabrak para berandalan yang mengganggu anak Vina. Menjadi favorit karena terlihat sekali kalau Vina berupaya untuk menyatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu orang-orang yang ia cintai. Saya suka sekali dengan adegan heroik ini. 

Setidaknya, film Bebas telah menaruh standar yang cukup tinggi bagi film remaja lainnya. Saya berharap, ke depannya, film Indonesia juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari film Bebas.

Yap, mari kita tunggu kemunculan film-film berkualitas dari Indonesia.

 5 dari 5 bintang untuk film yang bikin nostalgia ini.

Sincerely, 

Puji P. Rahayu


Bumi Manusia: Eksplorasi Romantisme Minke dan Annelies


Bumi Manusia
Ketika nasionalisme menjadi suatu diskursus yang akan selalu dipertanyakan.

Bumi Manusia. Image: IMDb
Judul: Bumi Manusia
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Salman Aristo
Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti
Tanggal rilis: 15 Agustus 2019
Diadaptasi dari novel berjudul sama, Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer
Produksi Falcon Pictures
Ditonton di Kemang Village XXI

This is a story of Minke and Annelies who weave love in the early 20th century colonial turbulance. Minke is a native youth, purebred Javanese. While Annelies is a mixed-Dutch girl, the daughter of a nyai (mistress), called Ontosoroh. Minke's father, who has just been appointed as regent, is always against Minke's closeness to the Nyai's family, because a Nyai's position at the time is seen to be as low as pet animals. But this one nyai, Nyai Ontosoroh, Annelies' mother, is different. Minke admires all of her thoughts and struggles against the arrogance of colonial hegemony. To Minke, Nyai Ontosoroh is the reflection of modernization, which at the time is just beginning to rise. When the arrogance of colonial law tries to wrench Annelies from Minke's side, Nyai Ontosoroh is also the one who urges Minke to keep going and shout the word, "Fight!"
***

Hari itu, salah seorang kenalan menawarkan satu tiket nonton gratis film Bumi Manusia di Kemang Village. Berhubung kantor tempat saya magang tak jauh dari lokasi tersebut, saya memutuskan untuk menonton salah satu film yang digadang-gadang menjadi karya terbesar tahun ini.

Bagi para pecinta sastra, rasanya tak akan lengkap bila tak membahas sosok Pramoedya Ananta Toer. Pram adalah seorang sastrawan yang dicinta sekaligus dibenci. Ia memiliki pemikiran yang tak biasa dan tentunya sanggup menuliskan imaji-imajinya secara apik dalam tetralogi Pulau Buru.

Saya harus mengakui, saya bukanlah orang yang pintar berkontemplasi. Apabila dibandingkan dengan teman-teman saya, kemampuan saya mengenai hal itu akan berbeda jauh. Ketika saya membaca Bumi Manusia, saya harus terseok-seok memahami apa yang ingin disampaikan Pram. Begini, saya adalah orang yang masih mempertanyakan apa itu bangsa. Iya, what is nation? Pada dasarnya, bangsa Indonesia itu yang mana? Terdiri dari siapa? Atau bahkan, apa itu bangsa Indonesia? Saya bukannya tidak mempercayai nasionalisme--saya sedikit jengah dengan narasi NKRI harga mati atau lainnya, tapi saya percaya bahwa negara ini masih dalam tahap nation-building. Memadukan pemahaman akan bangsa Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal ini dapat dilihat dari kerusuhan yang tercipta baru-baru ini. Bukankah itu juga berujung pada pertanyaan akan diskursus nasionalisme?

Sudah-sudah. Kalau diteruskan, akan menambah panjang ketidakmengertian saya akan diskursus ini sendiri. 

Darsam dan Minke. Image: BookMyShow
Kembali ke film Bumi Manusia. Tentu, bagi para penonton yang sudah membaca karya Pram itu, rasanya tidak mungkin untuk mengadaptasi karya semegah Bumi Manusia ke dalam film. Saya pun cenderung skeptis ketika Iqbaal Ramadhan didaulat menjadi Minke. Begini, bukannya, lagi-lagi, saya merasa bahwa Iqbaal tidak memiliki kapasitas dalam berakting, hanya saja saya merasa akan sulit baginya menghidupkan sosok Minke. Sosok Nyai Ontosoroh pun juga sedikit-banyak saya takutkan perannya--karena saya masih terbayang sosok Happy Salma dalam teater Bunga Penutup Abad yang memainkan sosok perempuan kuat itu.

Akan tetapi, sebagaimana yang seharusnya, saya pun mencoba menonton Bumi Manusia tanpa adanya ekspektasi yang terlalu tinggi. Takut kecewa, itu saja.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas alurnya karena secara apik, nyatanya Salman Aristo, sang penulis naskah, berhasil mencoba merangkum kisah Bumi Manusia menjadi film berdurasi tiga jam. Well, saya akui kok kalau saya merasakan kebosanan di tengah film--dibuktikan dengan saya rela meninggalkan tempat duduk barang sepuluh menit untuk ke toilet. Akan tetapi, apabila memang penonton ingin melihat betapa manisnya hubungan Minke dengan Annelies (Mawar Eva De Jongh), Hanung Bramantyo selaku sutradara berhasil menyajikannya dengan apik. Bahkan menjadi salah satu unsur kunci dalam film ini--atau begitulah yang disampaikan oleh salah satu resensi yang sempat saya baca sebelumnya.

Annelies dan Minke. Image: The Jakarta Post
Lalu, saya sangat suka dengan Sha Ine Febriyanti yang berhasil menghidupkan Nyai Ontosoroh dengan begitu hebatnya. Mungkin, bagi para pembaca Bumi Manusia, sosok Sha Ine lah yang pantas mendapatkan standing ovation. Bukan Iqbal maupun Mawar. Iya, bagi saya, bukannya kedua pemeran utama itu tak melakukan akting terbaiknya, hanya saja terasa ada yang kurang dari karakter mereka dalam film ini. 

Nyai Ontosoroh. Image: Falcon Pictures.


Kalau ada yang ingin saya keluhkan, maka saya akan menyebutkan CGI dari film ini. Iya, saya tahu pasti tidak mudah memunculkan kembali nuansa zaman dahulu kala di zaman serba modern ini. Akan tetapi, kalau ditonton lebih jauh, CGI tersebut malah cenderung mengganggu. Belum lagi, lokasi danau tempat Minke dan Annelies sering memadu kasih, danaunya terlihat... sungguh tak nyata. Saya jadi tidak bisa mendapatkan feel ketika menontonnya. 

Kemudian, sosok Jean Marais yang seharusnya menjadi salah satu tokoh penting, malah tak nampak signifikansinya. Ia pun muncul hanya untuk menekankan kutipan "adil sejak dalam pikiran". Itu saja. Sungguh disayangkan kalau menurut saya.

Lalu, apa kesimpulan saya untuk film epic ini? Saya akui bahwa saya memang sudah seharusnya mengapresiasi upaya para sineas film ketika menghidupkan sosok-sosok dalam kisah gubahan Pram tersebut. Terlepas dari kekurangan yang menyertainya.

Saran saya, tontonlah film ini sebagai bentuk hiburan. Jangan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi apabila memang kamu telah membaca novelnya. Bagi yang belum membaca, coba nikmati film panjang berdurasi tiga jam ini dengan bahagia.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

Fortunately, The Milk: Fantasi Anak Khas Neil Gaiman


Fortunately, The Milk

oleh Neil Gaiman
3 dari 5 bintang


Image: Goodreads
Judul: Fortunately, The Milk
Judul terjemahan: Untunglah, Susunya
Penulis: Neil Gaimana
Ilustrator: Skottie Young
Alih bahasa: Djokolelono
Tebal buku: 128 halaman
Tahun terbit 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1225-5
Beli di TB. Gramedia Depok

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum… dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.” 

“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.” 

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Baca saja petualangan aneh dan ajaib ini, yang diceritakan dengan lucu oleh Neil Gaiman, penulis bestseller pemenang Newbery Medalist. Ilustrasi oleh Skottie Young.

***

Sosok Neil Gaiman merupakan salah seorang penulis fantasi yang banyak digandrungi oleh para pembaca fantasi. Mitologi Nordik, American Gods, maupun Neverwhere merupakan beberapa karyanya yang terkenal. Penulis asal Inggris ini memang mendedikasikan karyana di genre fantasi, horor, maupun fiksi ilmiah. Lalu, apakah ada kisah fantasi yang pas untuk anak-anak?

Menemukan nama Neil Gaiman di tumpukan buku obral di Gramedia merupakan hal yang tidak biasa--setidaknya untuk saya. Jujur saya memang belum pernah membaca karya Gaiman sebelumnya. Meskipun banyak yang bilang kalau Mitologi Nordik dan American Gods itu seru. Yaa, bagaimanapun, I still a romance reader. 

Seperti yang saya bilang tadi, saya tak sengaja menemukan novel ini di tumpukan obralan Gramed. Berbekal uang IDR20,000 saja, akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang novel dengan sampul penuh ilustrasi ini. 

Saya tidak terlalu ingat berapa lama saya mendiamkan novel ini di tas saya--saya bahkan baru ingat ketika membongkar tas yang sudah jarang saya pakai itu. Akhirnya, karena saya harus menempuh perjalanan yang cukup lumayan menuju kantor, saya putuskan menghabiskan waktu dengan membaca. 

Well, premis yang ditawarkan oleh Gaiman ini pada dasaarnya sederhana. Ini hanya tentang perjalanan Ayah yang membelikan susu bagi anak-anaknya. Akan tetapi, ternyata sang Ayah harus melewati berbagai petualangan tak terduga untuk membawa pulang susu yang telah ia beli. Iya, petualangan itu melibatkan pertemuan dengan para bajak laut, hingga Profesor Stegosaurus yang nyentrik dan mengendarai Bola-Apung-Pengangkut-Orang.

Nah, yang membuat menarik, Ayah bersama dengan Profesor Steg harus menjelahi waktu pula untuk betul-betul bisa kembali ke tempat Ayah berasal. Wah, hal yang tak disangka-sangka, bukan?

Image: pinterst, edited by me
Yaa, sebagai sebuah novel fantasi anak, Fortunately, The Milk tidak menyajikan cerita yang rumit. Saya sih senang-senang saja saat membacanya. Bagaimanapun, kali ini saya sedang malas berpikir ketika membaca. Saya cuma butuh bacaan ringan yang menghibur. Secara cerita, saya tidak terlalu terkesan juga dengan ceirta ini. Biasa saja. Tapi mungkin, ilustrasi yang dibuat oleh Skottie Young cukup menarik untuk dilihat. 

Dapat dibilang, novel ini merupakan novel untuk sekali duduk. Ukuran huruf yang sangat child-friendly ini akan membuatmu lebih mudah membacanya sampai habis dalam satu waktu.

Lalu, apakah saya akan mencoba untuk membaca karya Gaiman lainnya? Mungkin iya. Akan tetapi, saya butuh waktu untuk mengembalikan mood saya, baik dalam membaca maupun menulis blog.

Sekian resensi untuk novel anak ini. Tiga bintang untuk Profesor Steg yang ternyata seorang ibu-ibu!

Sincerely,

Puji P. Rahayu